ILMU HITAM

ILMU HITAM
Bisikan penguasa alam gaib


__ADS_3

Karena dendam Barjo kepada Tejo dan penduduk desa membuat Barjo melakukan perjanjian sesat kepada sesosok suara yang belum menampakkan wujudnya.


"Apakah mereka semau dapat membantu untuk membalaskan dendam ku," Barjo yang berbicara dengan sosok suara itu.


"Makhluk-makhluk yang kau lihat itu dapat membantumu untuk membalaskan dendam mu, dan kau pun akan mendapatkan ilmu jika kau memujaku dan memberikan tumbal untukku. kau juga dapat memerintahkan semua mahluk yang berdiam di hutan terlarang ini karena aku penguasa alam gaib."


"Baiklah aku setuju dengan perjanjian ini," Barjo yang setuju dengan perjanjian sesat itu.


"Besok adalah malam satu suro, kau harus menyediakan ari-ari bayi dan gadis perawan jika kau menginginkan ilmu hitam ini kalau sudah kau sediakan gadis perawan untuk ritual selebihnya biar mereka yang akan bergerak kau hanya mencari saja Barjo," jelaskan penguasa mahluk gaib itu.


"Baiklah aku akan mengikuti semua yang kau perintahkan wahai penguasa alam gaib," sahut Barjo.


Setelah suara penguasa alam gaib itu berbicara kepada Barjo mereka semua pun menghilang dan Barjo mulai bergegas mencari untuk persembahan ritual yang akan dilakukannya.


Barjo mulai keluar dari rumah gubuknya dengan wajah yang tidak dapat di kenali lagi oleh penduduk desa.


Sesampainya di desa Barjo mulai berkeliling desa, saat iya berkeliling Barjo belum mendapatkan apa yang ia cari dan Barjo memutuskan untuk beristirahat di warung kopi.


"Bu kopinya satu," Barjo yang memesan kopi sambil menundukkan kepalanya.


"Iya Pak," sahut ibu warung itu.


Para pemuda yang ada di warung kopi itu pun membicarakan wajah Barjo yang terdapat luka bakar.


"Siapa sih bapak itu kok wajahnya serem banget."


"hust jangan kencang-kencang entar dengan bapaknya," sahut salah satu pemuda sahabatnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian ibu pemilik warung kopi itu pun datang membawa segelas kopi untuk Barjo.


"Ini kopinya Pak," ucap pemilik warung kopi itu.


"Terima kasih Bu," sahut Barjo.


Saat Barjo tengah asik menikmati segelas kopinya pemuda di samping sedang membicarakan sesuatu.


"Kasian Ki Damar, Melati yang katanya hilang tidak kunjung ketemu-ketemu," ucap pemuda itu.


"Iya loh Nak Supri, ibu pun kasihan sama Ki Damar dan pernikahan Tejo pun gagal karna Melati hilang. Ki Damar pasti merasa malu dengan keluarga Tejo," sahut Ibu warung.


"Udah-udah kok jadi ngomongin orang gini, doakan saja semoga Melati cepat ketemu, agar keluarga Ki Damar tidak gelisah lagi memikirkan putrinya," sahut laki-laki tua.


"Bu kenapa kemarin kok warungnya tutup?" tanya laki-laki tua itu.


"Selamat yah Bu cucunya sudah lahir, cowok atau cewe Bu," kakek yang memberikan selamat kepada ibu warung.


"Iya kek alhamdulilah cowok."


Barjo yang mendapat mendengar percakapan mereka mendapat dua informasi tentang Melati dan apa yang ia cari.


"Aku akan kembali lagi malam hari untuk mencari ari-ari yang telah di kubur," gumam Barjo dalam hati.


Setelah mendapat informasi Barjo pun ingin kembali pulang karena sudah mulai sore.


"Bu berapa ini kopinya," tanya Barjo.

__ADS_1


"Lima ribu saja Pak," sahut ibu pemilik warung itu.


Barjo mengeluarkan uang yang ada di sakunya, harta yang ia bisa selamatkan di saat rumahnya terbakar.


Setelah membayar semuanya Barjo pun pergi meninggalkan warung itu dan kembali ke rumah gubuknya.


Saat Barjo kembali ke rumahnya ia menyelusuri sungai yang jernih dan sering di pakai penduduk desa untuk mandi dan mencuci baju di sana.


Barjo yang dengan kebetulan melihat dua orang gadis di sungai itu sedang mandi.


"Ayo Tinah kita pulang?" ucap sahabat Tinah.


"Kamu duluan saja Lehah," Tinah yang menyuruh Lehah pulang lebih dulu.


Barjo yang bersembunyi di semak-semak sedang memantau kedua gadis itu.


"Ya sudah Tinah aku duluan, kau jangan pulang larut sore."


"Iya Lehah aku masih ingin mencuci pakaian ku terlebih dahulu di sini."


Lehah pun meninggalkan Tinah di sungai sendirian. Selang beberapa menit Tinah pun keluar dari sungai itu menuju tepi sungai untuk mencuci baju kotor yang telah ia bawa.


Saat Tinah mulai tengah mencuci Barjo mulai keluar dari semak-semak dan mengendap-endap di belakang Tinah dengan membawa sebuah balok kayu saat Barjo sudah sampai di belakang Tinah, Barjo pun memukul punggung Tinah dengan balok kayu yang ia bawa. Dengan seketika Tinah pun langsung tidak sadarkan diri dengan cepat Barjo mengendong Tinah dan membawanya ke rumah gubuknya agar tidak di ketahui oleh warga kampung.


Barjo yang mengendong Tinah pun mulai masuk ke hutan terlarang tidak seberapa lama Barjo pun telah sampai di depan rumah gubuknya dengan cepat ia pun masuk ke rumahnya.


Tinah yang masih belum sadar digeletakkan Barjo begitu saja, setelah itu Barjo mulai mengikat kaki, tangan, dengan kain tidak lupa Barjo pun menutup mulut Tinah dengan kain agar tidak tidak dapat berteriak.

__ADS_1


__ADS_2