ILMU HITAM

ILMU HITAM
Mangsa Baru Barjo


__ADS_3

Langkah Suryo tiba-tiba terhenti, kakinya seperti kaku tidak dapat bergerak, mulutnya pun tidak dapat bersuara.


Barjo yang saat itu berada di belakangnya menghampiri Suryo, tatapan Suryo ke arah Barjo seperti ingin meminta pertolongan.


Barjo hanya menyeringai, ia mengeluarkan belatinya sambil membaca mantra, Barjo menyayat kedua kelopak mata Suryo.


Mata Suryo terbelalak merasakan kesakitan yang amat luar biasa, namun ia tidak dapat berteriak atau pun bergerak semua tubuhnya kaku seperti ditahan oleh seseorang.


Ia hanya bisa menyaksikan dan merasakan torehan belati yang menembus kelopak makanya.


Barjo sangat sayatan demi sayatan dikelopak mata Suryo hingga kedua kelopak itu terpisah dari mata Suryo. Barjo kemudian meraih tangan Suryo dan mencabut satu per satu kuku Suryo.


Mata Suryo memerah terkena tetesan darah dari kedua matanya, ia menangis karena kesakitan. Barjo juga mengambil beberapa helai rambut Suryo dan menaruhnya di sebuah wadah dari tanah liat.


Usai melancarkan aksinya Barjo pergi meninggalkan Suryo begitu saja, saat Barjo pergi Suryo dapat menggerakkan tubuhnya ia langsung berteriak namun anehnya ia tak dapat berbicara.


Mendengar suara teriakan histeris, beberapa warga keluar dari rumah dan bersama-sama mencari sumber suara.


Dengan tertatih Suryo berjalan, sambil menahan sakit hingga warga menemukannya.


“Astagfirullah! Suryo!” warga langsung mendatanginya.


“Kamu kenapa Yo? Kok bisa begini,” ucap warga yang merinding melihat keadaan Suryo.


“Aaa ... aa,” Suryo berusaha berbicara namun tidak bisa.


“Yo, siapa yang berbuat seperti ini terhadapmu?” tanya warga lagi.

__ADS_1


Suryo berusaha menjawab namun lidahnya seakan terkunci dan tidak dapat berbicara apapun.


“Kok Suryo jadi tidak bisa bicara seperti ini?” ucap warga.


“Begini saja, kita panggil Ki Damar, aku ngeri lihat keadaan Suryo!” ucapnya.


“Nah betul, ayo kita ke Ki Damar.”


Beberapa warga pun berjalan keluar menuju rumah Ki Damar untuk meminta pertolongan.


“Ki ... Ki Damar?” teriaknya sambil menggedor pintu.


“Ada apa ini?” Ki Damar membuka pintu.


“Begini Ki, si Suryo matanya hilang,” ucap warga.


“Bukan matanya! Tapi kelopak matanya Ki, lalu semua kukunya juga dicabuti,” tutur warga yang lain.


“Di rumah saya Ki,” sahutnya.


“Ya sudah kita ke sana sekarang.”


“Bu, kalau ada yang ketuk pintu tanpa ada suara jangan dibuka mengerti? Kunci rapat semua jendela!” Ki Damar memperingati istrinya.


“Baik, Bapak hati-hati,” sahut Lastri.


Ki Damar beserta para warga mendatangi Suryo, teman ronda yang beberapa saat yang lalu bersama Suryo pun kaget karena mereka baru beberapa menit berpisah.

__ADS_1


“Ya Allah, Suryo! Kok iso koe koyo ngene yo (kenapa bisa kamu seperti ini),” ucap Karim yang datang ketika mendapat kabar dari tetangganya.


“Karim bukannya kalian lagi ronda? Kok bisa Suryo kaya gini?” tanya seorang warga.


“Kami tadi keliling, lalu kami melewati bekas rumah mendiang Barjo, di sana kami lihat-” ucapan Karim terhenti.


“Kamu melihat apa Karim?” Ki Damar datang secara tiba-tiba.


“Lihat hantu Barjo Ki,” ucap Karim.


Seketika para warga heboh dan mengait-ngaitkan semua peristiwa yang ada di desa dengan Barjo.


“Apa ini semua kutukan dari hantu Barjo?” ucap salah satu warga.


“Jika benar berarti semua yang terlibat dalam pembakaran rumah Barjo akan menjadi korban selanjutnya!” salah seorang mulai ketakutan.


“Sudah! Sudah! Kita harus segera menolong Suryo! Kalian tidak lihat ia terus mengeluarkan darah,” ucap Ki Damar.


“Saya akan menelpon ambulan, untuk segera membawa Suryo ke rumah sakit terdekat!” sambung Ki Damar.


Setelah menunggu sekitar setengah jam, dari kejauhan terdengar suara sirine dari mobil ambulan. Beberapa warga pun membantu mengangkat tubuh Suryo yang lemas.


Ki Damar, Karim dan salah seorang warga ikut masuk ke dalam mobil ambulan untuk mendampingi Suryo.


Jarak rumah sakit dan desa tempat mereka tinggal lumayan jauh, mereka harus melewati jalan yang sepi dengan barisan pepohonan yang lebat.


Mobil ambulan melaju dengan kecepatan tinggi mengingat Suryo terus terusan mengeluarkan darah dari jari-jarinya dan juga matanya.

__ADS_1


Suryo terus mengerang kesakitan karena tetesan darah terus mengalir dibola matanya yang kini tak lagi bisa menutup.


Saat sang sopir fokus menyetir, ia dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menyeberang jalan alhasil sopir ambulan membanting stirnya ke arah kiri. Mobil ambulan pun menabrak pohon dan terguling di tengah jalan dan terbalik.


__ADS_2