ILMU HITAM

ILMU HITAM
Tejo yang ketakutan


__ADS_3

Satu persatu bawahan Tejo berhenti dari pekerjaan mereka, beberapa merasa takut dan beberapa lagi merasa lelah dengan sikap Tejo yang arogan.


Rumah yang dulunya ramai dan ketat penjagaan kini menjadi sepi beberapa lampu juga sengaja dimatikan. Kini Tejo hanya sendirian saat keluar rumah ataupun menagih pajak pedagang pasar.


Hingga ia bertemu dengan Burhan yang tengah asik menikmati makanan di sebuah warung yang ada di pasar.


“Den Tejo, tumben sendirian?” tanya Burhan.


“Mereka semua aku pecat karena tidak becus!” sahut Tejo.


“Semuanya?” Burhan terkejut.


“Iya semuanya, rencananya aku ingin mencari orang-orang baru kau bisa carikan?” tanya Tejo pada Burhan.


“Jelas Den bisa asal ada ongkos jalannya,” sahut Burhan sambil membuat cengiran kuda.


“Masalah uang jangan khawatir, aku butuh orang yang kuat!” ucap Tejo.


“Gampang bisa di atur Den, kebetulan banyak pemuda dari desa lain sedang mencari pekerjaan,” sahut Burhan.


“Baiklah, ini uang muka jika pekerjaanmu beres sisanya akan aku berikan,” ucap Tejo sambil menyodorkan  beberapa lembar uang.


“Siap Den!” Burhan tersenyum sumringah.


“Bagus, kalau begitu aku pergi dulu,” ucap Tejo sambil menepuk pundak Burhan.


Saat pulang ke rumahnya Tejo masih terus mencari keberadaan jimatnya tersebut, namun ia sama sekali tidak menemukannya. Hingga ia melihat seseorang berpakaian serba hitam sedang berdiri dan memandanginya.


“Siapa kamu? Berani-beraninya kamu masuk ke halamanku. Keluar!” teriak Tejo.


Alih-alih mendengarkan sosok berbaju serba hitam tersebut malah berjalan santai masuk ke area halaman rumah Tejo.


“Hei berhenti!” teriak Tejo sambil mengejar sosok tersebut.


Tejo berlari hingga sampai halaman belakang rumahnya namun sosok itu malah menghilang seketika padahal tidak ada jalan lain selain jalan yang Tejo lewati.

__ADS_1


“Sialan! Kemana perginya penyusup itu?” ucap Tejo geram.


Tejo terus mengitari halamannya namun tidak menemukan siapa pun, dengan terus waspada Tejo masuk ke dalam rumah serta mengunci semua pintu.


Tap! Tap!


Terdengar suara langkah kaki dari tangga, dengan cepat Tejo berbalik namun lagi-lagi ia tidak melihat siapa-siapa.


Dengan cepat Tejo mengambil sebuah balok kayu yang ada di samping pintu, dengan perlahan Tejo naik ke tangga dan menuju kamarnya sembari mengambil ancang-ancang apabila ada yang tiba-tiba menyerangnya.


Perlahan Tejo membuka satu per satu pintu kamar, merasa tidak ada siapa pun ia masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


“Apa aku sedang berhalusinasi?” gumamnya sembari menghela nafas.


Tok ... Tok! Suara ketukan terdengar dari jendela kamar Tejo.


Dengan cepat Tejo mengambil balok kayu yang tadi ia bawa dan berjalan menuju jendela.


Tejo membuka jendelanya dan betapa terkejutnya Tejo ketika  melihat sosok wanita dengan wajah yang rusak serta tercium bau busuk menyengat.


“Kembalikan!” terdengar suara serak dan lirih dari sosok wanita tersebut.


“Pergi kau!” Tejo mengayunkan balok kayu tersebut berkali-kali.


Sosok wanita itu menghilang, Tejo yang sudah ketakutan berlari keluar dan masuk ke dalam mobilnya.


Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Burhan.


Tokk ... Tokk!


“Burhan! Burhan cepat buka!” ucap Tejo sambil terus menggedor pintu rumah Burhan.


“Den Tejo?” ucap Burhan.


Tanpa basa-basi Tejo menerobos masuk ke dalam rumah Burhan dan duduk di lantai.

__ADS_1


“Ada apa Den? Kok kelihatannya seperti orang ketakutan?” Burhan bingung dengan sikap Tejo.


“Burhan aku akan menginap di sini, tidak apa-apa kan?” sahut Tejo.


“Ya tidak apa-apa Den, tapi ... Den Tejo tahu sendiri kan rumah saya ini sederhana tidak ada AC atau semacamnya dan kasurnya pun keras,” tutur Burhan.


“Sudahlah tidak apa, yang terpenting aku tidak berada di rumah itu,” sahut Tejo.


“Memangnya kenapa Den? Apakah ada masalah?” tanya Burhan.


“Sepertinya aku sedang di teror oleh hantu Barjo,” ucapnya dengan wajah cemas.


“Barjo? Mana mungkin Den, Barjo itu sudah mati. Orang mati tidak mungkin hidup lagi,” Burhan tidak percaya dengan ucapan Tejo.


“Kau tidak tahu jika desa ini sekarang di teror oleh arwah penasaran dari Barjo.”


“Alah ... Mereka saja yang terlalu percaya dengan takhayul. Mana ada hantu selama saya hidup saya tidak pernah bertemu bahkan melihatnya,” sahut Burhan.


“hati-hati kau Burhan, sudah banyak korban dari si Barjo sialan itu!” ucap Tejo.


“Begini saja, besok kau temani aku ke desa sebelah aku mau menemui dukun yang ada di sana,” sambung Tejo.


“Oh ... Kalau soal itu gampang Den asal-” Burhan menggerakkan ibu jari dan telunjukknya isyarat meminta uang.


“Soal uang gampang,” sahut Tejo yang paham akan maksud Burhan.


“Eh ... Ada Den Tejo,” ucap Istri Burhan.


“Bu, bikinkan kopi buat Den Tejo sama kamar yang di sebelah dibersihkan Den Tejo mau menginap di sini,” perintah Burhan pada Istrinya.


“Oalah ... Den Tejo beneran mau menginap di sini? Apa tidak apa-apa Den?” tanya Istri Burhan.


“Tidak apa-apa, aku hanya menginap semalam saja,” sahut Tejo.


“Ya sudah kalau begitu Ibu tinggal ya Pak ke dapur,” istrinya berpamitan.

__ADS_1


__ADS_2