ILMU HITAM

ILMU HITAM
Tarsim


__ADS_3

Saat hari dimana Melati meninggal, Barjo tiba-tiba teringat kepada kekasihnya yaitu Melati. Sejak insiden pembakaran itu Barjo sama sekali tidak mengetahui kabar berita dari Melati.


Entah kenapa Barjo baru saja menyadari hal tersebut, selama ini ia terus dibutakan oleh ilmu hitam yang dipelajarinya.


“Bagaimana keadaan kamu sekarang Melati? Kenapa aku baru saja mengingatmu,” ucap Barjo sambil termenung.


Barjo membenarkan posisi duduknya, dan mencoba mencari tahu keadaan kekasihnya lewat mata batinnya.


Anehnya Barjo tidak bisa melihat apa pun, bahkan kejadian-kejadian lalu yang di alami Melati pun ia tidak dapat melihatnya.


“Kenapa sangat gelap? Bahkan aku tidak dapat melihat dimana kamu berada. Apa yang terjadi kepadamu Melati?” guman Barjo.


“Sepertinya aku harus memperdalam ilmuku lagi!” ucapnya lagi.


Barjo pun berdiri, dan berjalan menuju pasar untuk berjualan. Kali ini ia membawa banyak sayuran karena kebunnya tengah panen.


Rupanya kedatangan Barjo telah di tunggu para ibu-ibu karena hanya Barjo yang mau menjual sayuran dengan harga yang sangat murah.


Saat para Ibu-ibu itu membeli dagangan Barjo, sesekali mereka saling bercerita hingga Barjo mendapatkan informasi.


“Bu Retno katanya Den Tejo mau menikah dengan Sri ya?” salah satu pembeli membuka pembicaraan.


“Katanya sih begitu, soalnya saya sering lihat Den Tejo ke rumah Sri terus, kemarin terakhir Den tejo datang sama orang tuanya ke rumah Sri,” tuturnya.

__ADS_1


“Wah pasti nanti acaranya meriah, keluarga Sri dan Tejo kan orang terpandang beda kaya kita ini.”


“Kalian ini mau beli sayur apa mau bergosip? Itu kasihan Bapaknya nungguin kalian!” tegur salah satu pembeli.


“Tidak apa-apa, saya malahan senang Ibu-ibu datang kesini,” sahut Barjo.


“Tuh Bapaknya saja tidak marah kok,” ucap Bu Retno.


Karena merasa ia akan mendapatkan informasi tentang Melati, Barjo akhirnya bertanya kepada mereka.


“Maaf saya mau bertanya sama Ibu-ibu, bukannya Den Tejo itu mau menikah sama anaknya Pak Kades?” Barjo mulai membuka pertanyaan.


“Bapak tidak tahu ya, anaknya Pak Kades itu kabur entah kemana, sampai sekarang tidak pulang,” tutur salah satu pembeli yang ada di depan Barjo.


“Dari Ibunya Sri, katanya Den Tejo sendiri yang cerita,” sahutnya.


“Sudah! Sudah! Jangan bergosip terus ayo kita pulang! Nanti kamu dicari sama suamimu!” salah satu pembeli menarik tangan Bu Retno.


Para ibu-ibu itu membubarkan diri setelah puas bercerita, begitu pula dengan Barjo yang telah mendapatkan informasi tentang kekasihnya Melati.


Sayuran Barjo habis terjual, kali ini Barjo mendapatkan banyak uang. Saat ia membenahi tempat dagangnya seseorang datang menghampirinya.


“Laris sayurnya Pak?”

__ADS_1


“Oh ... Kamu anak muda, iya hari ini saya bisa pulang cepat,” sahut Barjo dengan senyum karena yang menghampirinya adalah Briptu Ardi.


“Biar saya bantu Pak, sekalian saya mau main ke rumah Bapak,” ucapnya.


“Baiklah, kalau begitu terima kasih.”


Ardi berjalan beriringan bersama Barjo mengitari jalan setapak yang ada di hutan. Ardi merasa penasaran bagaimana denga luka yang ada di wajah Barjo.


“Pak apa saya boleh bertanya?” ucap Ardi.


“Boleh saja silahkan,” sahut Barjo.


“Bapak wajahnya kenapa? Apakah kecelakaan?” tanya Ardi.


“Oh ... dulu rumah saya kebakaran saya masih ada di dalam, saat ingin keluar saya terjatuh dan wajah saya mengenai kayu yang masih terbakar,” tutur Barjo.


“Lalu apa Bapak punya keluarga? Misalnya di luar desa atau di kota?” tanya Ardi lagi.


“Tidak, saya hanya tinggal sendiri,” sahut Barjo singkat.


“Oh iya ... Saya belum tahu nama Bapak siapa?”


“Tarsim,” sahut Barjo menyamarkan namanya.

__ADS_1


__ADS_2