ILMU HITAM

ILMU HITAM
Serangan dari Barjo


__ADS_3

“Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Ardi kepada Barjo.


“Tidak apa-apa,” sahut Barjo.


“Aku kasihan kepada para pedagang di sini, aku sempat mendengar jika dia meminta uang iuran semaunya,” ucap Ardi.


“Yah begitulah jika manusia serakah, tidak heran,” ucap Barjo.


“Apa kamu mau pulang?”


“Mau kemana lagi,” sahut Barjo.


“Ya sudah kalau begitu aku ikut denganmu,” ucap Ardi.


“Bukankah kamu sedang bertugas, sebaiknya kamu selesaikan saja,” sahut Barjo sambil membereskan dagangannya.


“Sebetulnya ada yang ingin aku bicarakan.”


“Ya sudah kalau begitu.”


Barjo dan ardi pun beranjak dari pasar menuju hutan, lagi-lagi Ardi merasa aneh saat berada di hutan, ia merasa belum pernah menginjakkan kaki di hutan tersebut. Suasana yang sangat berbeda lebih rindang dan sejuk tidak terlihat semak belukar karena penasaran ia pun bertanya kepada Barjo.


“Sepertinya ini bukan jalan yang biasa kita lewati, apakah ini jalan lain?” tanya Ardi.


“Hutan bahkan alam tahu mana manusia dengan hati yang tulus, dengan sendirinya mereka akan mempermudah jalanmu,” sahut Barjo.


“Ketika mereka menerimamu, kamu bisa dengan leluasa keluar masuk tanpa takut tersesat, bahkan jika kamu mengambil arah mana pun kamu akan sampai pada tujuan,” sambung Barjo.


Pernyataan dari Barjo itu membuatnya semakin bingung, baginya ucapan Barjo penuh teka-teki.


“Sebenarnya kamu siapa?” tanya Ardi.


“Kamu pikir aku siapa? Siluman?” ucap Barjo sambil terkekeh.


“Kamu jangan terlalu baik dengan orang lain, karena nantinya itu bisa menyakitimu,” sambung Barjo yang sedari tadi sudah mengetahui niat dari Briptu Ardi.


Briptu Ardi hanya tersenyum dan menunduk karena tidak dapat membalas kata-kata dari Barjo. Baru beberapa detik saja ia menundukkan kepalanya hal tak terduga membuatnya terkejut.


“Loh ... Kita sudah sampai? Cepat sekali,” ucap Ardi terkejut tanpa sadar ia sudah berada di depan rumah Barjo.


“Aku sudah bilang karena mereka menerimamu,” ucap Barjo.


“Sungguh aneh dan ajaib,” gumam Briptu Ardi dalam hati.

__ADS_1


Mereka berdua duduk di teras rumah yang hanya terdiri dari papan kayu yang disusun dan dialasi anyaman bambu.


“Apa kamu tidak ingin pergi dari hutan ini dan tinggal bersama warga lainnya?” tanya Ardi.


“Aku sudah menyatu dengan hutan ini, tidak ada tempat untuk aku pergi selain hutan ini,” tutur Barjo.


“Kalau begitu, apa kamu mau jika aku perbaiki rumahmu?” tanya Briptu Ardi.


“Jika kamu mau silahkan saja,” sahut Barjo.


“Bagus kalau begitu, aku sudah koordinasi dengan beberapa rekanku yang berada di sini,” ucapnya.


“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Barjo.


“Proses penyelidikan masih berlangsung dan sepertinya akan memakan waktu lama jadi kami harus menunggu,” sahut Briptu Ardi.


“Oh ya? Kalau begitu silahkan saja. Jika suatu saat kamu menemukan pelakunya apa yang akan kamu lakukan?” tanya Barjo.


“Entahlah. Mungkin aku akan bertanya kenapa dia bisa berbuat tidak manusiawi seperti itu tapi, kembali lagi tidak akan ada asap kalau tidak ada api,” sahutnya.


“Menurutmu hukuman yang pantas untuk orang itu seperti apa?” tanya Barjo.


“Tergantung motifnya apa, tapi menurutku hukuman seumur hidup,” sahut Briptu Ardi.


“Jika kelak kamu menemukan pelakunya , maka kamu langsung tembak mati saja dia, jika tidak menurutku semuanya akan percuma,” Barjo menyeringai.


“Aku tidak akan sampai hati melakukan hal tersebut, biarlah hukum yang menentukannya,” sahut Briptu Ardi.


Obrolan panjang terjadi antara Barjo dan Briptu Ardi hingga akhirnya Briptu Ardi memutuskan untuk pulang.


Barjo masuk ke dalam rumah, ia duduk bersila dan memanggil beberapa siluman untuk mencelakai Tejo.


“Pergilah kalian ke rumah Tejo hancurkan dan siksa dia sampai mati!” ucap Barjo.


Sosok itu hanya menganggukkan kepalanya dan menghilang bagai asap tipis yang tertiup angin. Barjo menyeringai sambil membayangkan tubuh Tejo yang kaku bersimbah darah.


Langit mulai gelap, lolongan hewan malam memecah keheningan desa, tak ada lagi terdengar hiruk pikuk suara warga. Warung-warung kopi pun sudah tidak menampakkan aktivitasnya. Semua warga telah mengunci pintunya dengan rapat. Sedangkan Tejo duduk santai di ruang tamunya sambil menikmati sebatang rokok hingga sesuatu mengejutkannya.


Braaakkkk!


Terdengar seperti batu besar dilemparkan ke atas atap rumahnya. Mendengar kerasnya suara itu, Tejo dan para bawahannya terkejut, mereka pun langsung berkumpul menemui Tejo.


“Suara apa tadi?” tanya Firman.

__ADS_1


“Sepertinya ada sesuatu di atas,” sahut yang lain.


“Cepat kalian periksa!” perintah Tejo.


Mereka berpencar mencari sumber suara tersebut namun mereka sama sekali tidak menemukan benda apa pun.


“Maaf Den, kami tidak menemukan apa-apa, kami sudah mencarinya sampai ke bagian gudang belakang,” tutur Karim.


“Ya sudah, kalian terus berjaga! Jangan sampai lengah!” ucap Tejo.


Karena sudah semakin larut, Tejo berjalan masuk ke dalam kamarnya ia membaringkan tubuhnya di kasur. Tejo memejamkan matanya hingga ia masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


Sosok makhluk suruhan Barjo datang mendekati Tejo, ia berusaha merasuki tubuh Tejo. Alih-alih berhasil, makhluk itu malah terpental dan berteriak kesakitan.


Ia melihat tubuh Tejo seperti dilindungi oleh kepulan asap berwarna hitam pekat. Berulang kali makhluk itu mendekat berulang kali pula ia merasakan kesakitan bahkan ia merasa tubuhnya sangat panas seperti dibakar.


Hal itu diketahui oleh Barjo, ia kesal dan baru menyadari jika Tejo memakai jimat.


“Rupanya kau telah mendahuluiku Tejo! Lihat saja akan aku habisi kau beserta dukunmu itu!” ucap Barjo.


Barjo mengatur posisi duduknya, ia bersila sambil menyatukan kedua telapak tangan di atas kepalanya.


Dengan sekejap ia bisa melihat siapa yang membantu Tejo dan jimat apa yang digunakan oleh Tejo.


“Ha-ha-ha rupanya si Tejo punya nyali juga untuk mengambil tali pocong itu,” ucap Barjo.


“Kita lihat apakah dukunmu mampu menghadapiku!” ucap Barjo sambil membuka sebilah keris yang dibungkus dengan kain hitam.


Barjo mulai membakar kemenyan di tungkunya, asap membumbung tinggi namun ada penampakan aneh dari asap tersebut, asap itu berwarna hitam pekat tidak seperti biasanya.


Ia mulai mengelilingi kerisnya mengitari tungku dan meletakkannya di lantai, seketika keris tersebut bergerak dengan sendirinya dan berdiri tegak dengan ujung keris menghadap ke bawah.


Barjo mulai membaca mantra, dan keris itu terangkat dengan sendirinya hingga Barjo menyebut satu kata.


“Musnah!” ucapnya dengan lantang dan keris itu menghilang.


Rupanya Barjo mengirim keris tersebut untuk menyerang Mbah Sirah yang saat itu tengah bersemedi.


Ilmu Mbah Sirah tergolong cukup tinggi, namun ia mendapatkan ilmu tersebut dari hasil berguru berbeda dengan Barjo yang bersekutu langsung dengan iblis. Dibandingkan Mbah Sirah, Barjo jauh lebih kuat karena ada campur tangan penguasa alam gaib.


Namun Mbah Sirah dapat mengetahui serangan dari Barjo, dengan cepat Mbah Sirah menghalau keris tersebut dengan tenaga dalamnya. Kuatnya tekanan energi dari Barjo membuat Mbah Sirah tidak kuat menahannya hingga keris itu menerobos pertahanan Mbah Sirah.


Mbah Sirah tersungkur sambil memegangi perutnya, tidak lama darah menyembur keluar dari mulutnya. Dengan cepat Mbah Sirah kembali duduk bersila dan membaca mantra untuk menetralkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2