ILMU HITAM

ILMU HITAM
Kematian Tinah


__ADS_3

Tinah mati dengan cara yang sangat mengenaskan tubuhnya kejang-kejang saat penguasa kegelapan itu mengisap darahnya mata terbelalak tidak dapat tertutup sampai akhirnya detak jantung dan nafas Tinah berhenti.


 


Tinah yang tidak bernyawa lagi di biarkan begitu saja dengan darah yang berceceran di lehernya. Penguasa alam gaib pun menyambung kembali ia membuka ari-ari yang telah Barjo ambil, tampaknya ari-ari itu mulai berubah warna tidak segar lagi aroma busuk pun mulai tercium.


 


Penguasa kegelapan memasukkan tangan dengan kuku yang panjang ke dalam kendi itu, ari-ari pun di ambil laku ia memakannya dengan sangat lahap seperti orang yang sedang kelaparan.


 


Setelah ia selesai menyantap ari-ari itu barulah ia memerintahkan Barjo.


 


“Jilat darah yang mengalir dari leher wanita itu!” Perintah penguasa gaib.


 


Barjo pun menuruti perintah penguasa gaib itu ia mendekati jasad Tinah dan menjilat sisa darah yang keluar dari leher Tinah.


 


“Sudah aku lakukan perintah mu,” sahut Barjo di mulutnya terdapat darah segar Tinah.


 


“Makan sisa ari-ari itu!” penguasa alam gaib yang memerintahkan Barjo kembali.

__ADS_1


 


Dengan sedikit ragu Barjo melaksanakan perintah penguasa gaib itu. Barjo mulai memasukkan tangannya dan mengambil sisi ari-ari yang sengaja di tinggalkan oleh penguasa alam gaib itu.


 


Barjo yang mulai mendekatkan ari-ari itu ke mulutnya menelan ludahnya. Tercium aroma busuk yang di pancarkan oleh ari-ari itu membuat Barjo tidak dapat memakannya. Melihat Barjo yang mulai ragu untuk memakannya penguasa alam gaib menegurnya.


 


“Cepat makam ari-ari itu!” bentak penguasa alam gaib.


 


Barjo mulai menutup matanya dan memakan ari-ari busuk itu, Barjo merasakan ingin muntah dan mual tapi ia harus menelan ari-ari itu dengan sekuat tenaga ia berusaha menelan ari-ari itu dan menghabiskannya.


 


 


“Apa setelah ini aku akan mendapatkan ilmu yang kau janjikan?” tanya Barjo.


 


“Iya kau dapat menyakiti atau menyantet orang yang pernah menyakitimu dari jauh, kau juga dapat memerintahkan  pocong, kuntilanak, genderuwo, wewe gombel, setan-setan yang mati penasaran Barjo untuk mengikuti perintah mu. Tapi jangan lupa setiap malam jumat Kliwon aku ingin tumbal gadis perawan Barjo, bagaimana apakah kau setuju Barjo?” tanya penguasa alam gaib.


 


“Baiklah aku akan menuruti semua keinginanmu agar dendamku dapat terbalaskan ha-ha-ha-ha.”

__ADS_1


 


Penguasa alam gaib itu pun hilang Barjo mulai mengangkat jasad Tinah ia membawa jasad Tinah ke belakang rumahnya, setelah sampai Barjo mulai menggeletakkan tubuh Tinah di tanah lalu mulai menggali tanah untuk mengubur Tinah dengan perlengkapan seadanya. Beberapa menit kemudian setelah cukup lubang yang ia gali Barjo mulai mengangkat tubuh Tinah meletakkannya di lubang  lalu Barjo menutup jasad Tinah dengan Tanah.   


 


Barjo yang telah usai mengubur jasad Tinah pun kembali ke kamarnya lagi ia pun mulai ingin beristirahat.


 


“Tunggu saja kalian semua, aku akan membalaskan dendamku untuk kalian dan kematian Sugeng karna kalian semua,” gumam batin Barjo yang penuh dengan dendam.


 


Barjo mulai menjadi pribadi yang jahat hatinya penuh dengan dendam dan amarah kepada orang-orang yang telah menyakitinya kini di hati dan pikiran Barjo hanya terisi dengan balas dendam.


 


Saat Barjo ingin memejamkan tiba-tiba tercium aroma daging yang terbakar aroma itu membuat  Barjo membuka matanya kembali.


 


“Aroma apa ini, baunya seperti bau daging yang terbakar,” gumam Barjo di dalam batinnya.


 


Lalu tanpa tidak ia sadari di sudut kamar Barjo terlihat sosok makhluk samar-samar memanggil nama Barjo.


 

__ADS_1


“Barjo ... Barjo ... Barjo ....” dengan suara serak makhluk itu memanggil Barjo.


 


__ADS_2