ILMU HITAM

ILMU HITAM
Pembakaran Rumah Barjo


__ADS_3

“Ada apa ini?” ucap Barjo yang keluar dari rumahnya.


“Jangan kau pura-pura Barjo! Kami ingin kau angkat kaki dari desa ini!” ucap salah satu warga.


“Tenang Pak! Sebenarnya apa salah saya?” Barjo sangat bingung dengan apa yang terjadi.


“Ahh ... tidak usah berlagak tolol Barjo! Kau telah menodai Melati calon istri Den Tejo! Orang bejad sepertimu tidak pantas di desa ini!”


“Maafkan saya, saya memang khilaf dan saya akan bertanggung jawab. Tapi kami melakukannya atas dasar cinta,” tutur Barjo.


“Persetan! Jangan mencari alasan kau Barjo! Kau telah memperkosa Melati dan membuat keluarga kami malu!” teriak Ki Damar.


Secara tiba-tiba beberapa warga melemparkan batu ke arah Barjo, lemparan batu itu mengenai kepalanya hingga berdarah. Dengan sigap Barjo masuk kembali kedalam rumahnya untuk berlindung. Sugeng yang melihat hal itupun terkejut karena Barjo masuk dengan keadaan kepalanya berdarah.


“Barjo!” dengan sigap Sugeng mengambil kain untuk menutupi luka di kepala Barjo.

__ADS_1


Tidak lama dari atas terlihat atap rumah Barjo yang terbuat dari daun itu terbakar, api dengan cepat menyebar. Karena banyak mengeluarkan dara Barjo pun lemas dibantu Sugeng sahabatnya Barjo dipapah untuk berdiri namun karena rumah Barjo sudah lapuk tiang-tiang yang berada di atas pun berjatuhan dan menimpa Sugeng.


“Barjo kamu selamatkanlah dirimu!” ucap Sugeng.


“Mana mungkin aku meninggalkan sahabatku sendiri!” sahut Barjo yang berusaha mengangkat kayu yang menimpa Sugeng.


“Sudahlah tinggalkan aku Barjo!”


Sugeng melempar kayu yang ada disekitarnya agar Barjo menjauh darinya, perlahan Barjo pun mundur perlahan menuju pintu belakang namun kaki Barjo tersandung hingga membuatnya terjatuh hingga serpihan bara api mengenai wajahnya.


Barjo pun berteriak histeris karena sakit yang dia rasakan, mendengar suara Barjo yang berteriak di dalam rumah yang terbakar itu membuat Tejo tertawa senang, sedangkan warga yang lainnya mulai menyingkir satu persatu.


Dengan berlinang air mata Barjo berlari tertatih hati Barjo sangat hancur, sedih serta marah mengingat Sugeng sahabatnya mengorbankan nyawanya agar ia bisa selamat, barjo juga menyalahkan dirinya atas hal yang terjadi. Perasaan dendam berkecamuk di hatinya kepada warga desa.


Barjo terus berjalan dengan terseok-seok, hingga ia menemukan sebuah gubuk tua dengan cepat Barjo masuk ke dalamnya dan bersembunyi.

__ADS_1


“Semoga saja warga desa tidak mencariku sampai ke sini,” ucap Barjo sambil berbaring di atas lantai tanah.


Keesokan harinya Barjo terbangun, ia keluar gubuk itu untuk mencari sumber air. Setelah menemukan aliran sungai kecil Barjo mulai membersihkan dirinya sesekali Barjo meringis kesakitan karena luka yang dialaminya, rasa sakit dan perih luar biasa harus Barjo tahan.


Setelahnya Barjo berjalan menuju jalan keluar hutan, karena ia ingin melihat kondisi Sugeng yang terkurung didalam rumahnya, dengan perlahan Barjo mendekati area rumahnya. Terlihat dari kejauhan beberapa warga masih berada di sana, mereka mengangkat seseorang dari puing-puing rumahnya.


“Sugeng! Kenapa kau mengorbankan dirimu sendiri,” tangis pilu Barjo pecah.


Di saat yang sama Barjo mendengar seseorang sedang berbicara, ternyata itu adalah Tejo dan juga Burhan.


“Akhirnya tidak ada lagi penghalang antara aku dan Melati,” ucap Tejo.


“Iya sekarang Den Tejo bisa menikah dengan Melati,” sahut Burhan.


“Tidak sia-sia aku membayarmu Burhan untuk memprovokasi warga desa,” Tejo tertawa puas.

__ADS_1


Amarah Barjo memuncak mendengar ucapan dari Tejo dan Burhan, Barjo mengepal kuat tangannya.


“Tertawalah kalian selagi bisa! Akan aku balas perlakuan kalian semua hingga kalian menyesalinya!” gumam Barjo.


__ADS_2