ILMU HITAM

ILMU HITAM
Kematian anak buah Tejo


__ADS_3

Sesampainya Barjo di rumahnya Ia masuk ke dalam kamar tempat biasanya ia pakai sebagai tempat ritual di sana Barjo duduk bersila memejamkan matanya.


Keanehan terjadi lagi kepada Barjo luka lebam yang ada di wajahnya seketika memudar dan lama-kelamaan pun menghilang lalu luka lebam di badannya akibat pukulan pun hilang dan kini Barjo kembali sehat seperti sedia kala.


Di malam harinya ketiga preman yang bernama Badrun, Tito, dan Supri menghabiskan malam untuk bersenang-senang di sebuah warung kopi yang menyediakan minuman keras ditemani beberapa orang wanita penghibur.


“Ayo To, tambah lagi masa kalah sama Supri kamu,” tantang Badrun yang juga ketua mereka.


“Aduh! Aku sudah minum banyak suruh Supri saja habiskan, malam ini aku mau bersenang-senang dulu sama dia,” ucap Tito sambil merangkul seorang wanita di sampingnya.


“Ha-ha-ha, kau harus melayaninya malam ini! Tapi jika dia tidak sanggup potong saja miliknya,” ucap Badrun pada wanita yang ada di sebelah Tito


Supri berdiri dengan sempoyongan dan berjalan ke belakang warung.


“Mau kemana kau Pri?” tanya Tito.


“Kencing! Mau ikut kau?” ucap Supri.


“Ya sudah sana!” ucap Tito.


Dengan sempoyongan sambil sesekali cegukan Supri berjalan menuju pepohonan yang ada di belakang warung kopi, tanpa basa-basi Supri membuang air di samping pohon saat ia ingin kembali Supri melihat sesuatu yang aneh di sela pohon.


“Apaan tuh? Gerak-gerak. Siapa di situ?” teriak Supri.


Terlihat asap putih yang lambat laun membentuk suatu sosok, perlahan sosok itu mendekat ke arah Supri semakin dekat sosok itu semakin jelas namun tiba-tiba menghilang. Hal itu membuat Supri kebingungan ditambah lagi pengaruh alkohol membuatnya mengira jika dirinya sedang berhalusinasi.


Saat Supri berbalik badan, sosok itu muncul di depan wajahnya dengan sangat jelas dengan bau busuk yang menyengat wajah yang gosong serta mata yang keluar membuat Supri berteriak.


“Po-Pocong!” teriak Supri.

__ADS_1


Supri berlari dengan sempoyongan menuju warung kopi, namun baru beberapa langkah Supri tersandung dan terjatuh.


“Aaaarrggghh!” Supri mengerang kesakitan.


Saat terjatuh mata sebelah kiri Supri tertusuk batang kayu bekas penebangan pohon, seketika darah segar mengalir hebat, hingga membuatnya berteriak histeris meminta pertolongan. Anehnya Tito dan Badrun seakan tidak mendengar teriakan dari Supri. Mereka berdua malah asyik bermain-main dengan wanita penghibur.


Supri pun bangkit sambil menutupi mata dengan tangannya, berjalan terhuyung untuk meminta pertolongan. Supri kembali dikejutkan oleh sosok pocong yang muncul tiba-tiba di depannya.


“Pergi! Jangan ganggu aku! Pergi!” ucapnya dengan nada tinggi.


Supri mundur perlahan karena sosok pocong itu terus mendekat dengan menyeringai, cairan hitam berbau busuk mengalir dari mulutnya membuat Supri semakin ketakutan. Supri terus berjalan mundur hingga kembali tersandung dan tubuhnya terjatuh di antara bambu-bambu runcing yang baru saja di tebang.


Seketika bambu-bambu itu menusuk sekujur tubuh Supri, tubuhnya kejang dengan nafas berat darah segar juga menyembur keluar dari mulut Supri hingga akhirnya Supri meregang nyawa.


Sementara itu Tito tengah asyik berboncengan dengan wanita dari warung kopi untuk menuju ke sebuah bilik yang ada di dekat hutan, hingga Tito tiba di sebuah jembatan kayu dengan sungai yang mengalir deras di bawahnya.


Seketika Tito terseret derasnya arus sungai, namun tidak dengan wanita yang diboncengnya, wanita itu selamat karena berpegangan pada tiang jembatan, dengan sekuat tenaga wanita itu meraih tiang demi tiang hingga ia bisa menuju pinggir sungai dan naik ke atas.


Sambil menangis dan panik wanita itu berlari mencari bantuan.


“Tolong! Tolong!” teriaknya sambil berlari.


Teriakannya mengundang perhatian warga sekitar dan akhirnya menghampiri wanita itu.


“Ada apa? Kenapa kamu basah kuyub begini?” tanya seorang warga.


“Ti-Tito Pak! Tito!” ucapnya dengan gemetar.


“Tito? Si preman sialan itu? Kenapa kamu disakiti sama dia?” ucap warga itu.

__ADS_1


“Bukan Pak, Tito hanyut di sungai,”


“Biarkan saja! Aku bersyukur kalau perlu dia hanyut sampai ke laut!” ucapnya geram.


“Jangan begitu, bagaimana pun juga dia tetaplah manusia ciptaan Tuhan sama seperti kita, mari kita lakukan pencarian Tito semoga dia baik-baik saja,” sahut warga yang lain.


Sementara itu Badrun masih asyik menenggak minumannya sembari menunggu wanita penghibur masuk ke dalam bilik.


“Ayo cepetan! Kamu kok lama sekali!” teriak Badrun.


Wanita itu pun masuk ke dalam bilik, namun tidak mengucapkan sepatah kata hanya memandangi Badrun sambil tersenyum, wanita itu hanya diam tanpa ekspresi ketika tangan Badrun menggerayanginya.


Badrun mulai kesal karena wanita itu sama sekali tidak merespon pergerakan nakalnya.


“Kau sudah aku bayar! Jangan mencoba memancing emosiku!” ucap Badrun sambil menjambak rambut wanita itu.


“Ha-ha-ha...,” wanita itu tertawa.


Seketika lampu yang ada di bilik itu mati lalu kembali menyala, tangan Badrun masih memegangi rambut wanita itu sambil terus mengumpat. Tanpa ia sadari tubuh wanita itu tiba-tiba menghilang hanya tersisa kepalanya. Badrun yang kaget langsung melemparnya.


Kepala itu jatuh menggelinding di lantai dan memperlihatkan wajahnya yang hancur kepada Badrun, sontak Badrun keluar bilik dengan hanya mengenakan sarung saja.


Badrun lari  karena ketakutan, beberapa warga yang ada di pos ronda mencemooh tampilan Badrun, namun tidak ada yang berani menegurnya.


Badrun terus berlari tanpa henti seperti orang yang kehilangan akal, ia berlari menuju jalan raya dan langsung dihantam oleh sebuah mobil truk yang tidak menyadari kehadiran Badrun.


Tubuh Badrun terhempas dan terlindas oleh mobil lain, suara seperti patahan kayu terdengar jelas ketika tubuh Badrun terlindas, organ tubuh Badrun berhamburan di jalan bercampur darah gumpalan organ berwarna putih keluar dari kepalanya.


Para warga dan beberapa pengemudi berhamburan ke jalan, karena kejadian mengerikan yang di alami Badrun.

__ADS_1


__ADS_2