ILMU HITAM

ILMU HITAM
Niat jahat Tejo


__ADS_3

Tejo yang sudah beranjak pergi meninggalkan rumah Ki Damar kini ia pergi ke rumah Bi Minah untuk menggugurkan kandungan Melati.


 


Sesampainya di rumah Bi Minah, Tejo pun mengetok rumah Bi Minah.


 


Tok ... Tok ... (Suara ketukan pintu)


 


“Bi Minah, Bi Minah,” panggil Tejo sambil mengetuk pintu rumah kayu Bi Minah.


 


“Siapa,” sahut Bi Minah di dalam rumahnya.


 


“Saya Tejo Bi.”


 


Mendengar suara Tejo Bi Minah  mendatangi dan membukakan pintu untuk si Tejo.


 


“Ada apa Tejo, tidak biasanya kau ke rumah Bibi?” Bi Minah yang menanyakan maksud Tejo datang ke rumahnya.


 


“Sebaiknya kita berbicara di dalam rumah saja Bi, tidak enak kalau tetangga nanti mengetahui hal ini.”


 


Bi Minah mempersilahkan Tejo untuk masuk ke dalam rumahnya dan duduk di ruang tamu.


 


“Begini Bi kedatangan Tejo ke sini untuk meminta tolong kepada Bi Minah berapa pun Bi Minah meminta bayaran akan Tejo berikan.


 


“Sebenarnya ada apa Den Tejo ke sini dan ingin meminta tolong apa?” tanya Bi Minah yang binggung.


 


“Melati hamil Bi minggu ini kami akan menikah tapi Tejo tidak ingin menikah dengan Melati karena yang di kandung oleh Melati itu bukan anak Tejo melainkan anak Barjo. Tolong gugurkan kandungan Melati Bi dan jangan sampai orang desa mengetahui kalau Melati sedang hamil,” Tejo yang menjelaskan semuanya kepada Bi Minah.


 


“Tenang saja urusan itu gampang, asal sesuai dengan bayarannya.”


 


“Tenang saja Bi asalkan Bi Minah dapat menggugurkan kandungan Melati berapa pun yang Bi Minah minta akan Tejo berikan bagaimana!”


 


“Baiklah jika begitu, besok malam bawalah Melati ke rumah Bibi karena di waktu malam tidak terlihat oleh penduduk desa, dan nanti Bibi akan kubur janin Melati di belakang rumah Bibi,” kata Bi Minah kebetulan belakang rumah Bi Minah adalah hutan karet.


 

__ADS_1


“Baiklah jika begitu Bi, ini uang mukanya terlebih dahulu, sisanya setelah semua telah selesai,” Tejo yang mengeluarkan segepok uang dari dalam saku celananya.


 


“Dan Tejo harap Bi Minah harus menjaga Melati, Tejo tidak ingin Melati kenapa-kenapa.”


 


“Serahkan kepada Bibi semua akan beres.”


 


Setelah berbincang-bincang dan menceritakan niat tidak baiknya kepada Bi Minah akhirnya Tejo berpamitan pulang dan kembali mengurus tentang Barjo.


 


“Baiklah Bi Tejo pamit pulang dahulu, besok malam Tejo akan kembali ke sini dengan membawa Melati beserta orang tuanya,” Tejo yang keluar rumah Bi Minah dan kembali pulang.


 


Tejo yang menaiki motor lakinya kembali pulang, ia lebih nyaman memakai motor karena jalan di desa masih belum sebagus jalan di kota.


 


Selang beberapa menit Tejo pun telah sampai di rumah, di sambut hangat oleh kedua orang tuanya Bu Surti dan Pak Joko.


 


“Bagaimana Tejo apakah Melati sudah bisa menerimamu sebagai calon suaminya,” tanya Pak Joko yang mengetahui bahwa Melati di lamar oleh Barjo dan mencintai Barjo.


 


“Tenang saja Pak, Melati sudah menerima Tejo untuk menjadi suaminya. Lagi pula Ki Damar sudah membujuk Melati agar mau menikah dengan Tejo,” Tejo yang berbohong kepada Bapaknya.


 


 


“Ia Pak jadi keluarga kita akan menjadi orang terkaya di desa ini,” ujar Bu Surti.


 


“Ha-ha-ha itu yang Tejo harapkan Pak,Bu.”


 


“Pak, Bu. Tejo tinggal dahulu mau ke tempat Burhan dahulu ada yang ingin Tejo urus.” Pamit Tejo kepada bapak dan Ibunya.


 


Burhan adalah kaki tangan keluarga Tejo yang mengurus perkebunan karet milik mereka yang tinggal di samping rumah Tejo.


 


Tejo pun kembali keluar rumah untuk mendatangi Burhan di rumahnya.


 


“Eh Den Tejo, masuk Den,” sahut Burhan dengan ramah.


 


“Ada apa Den? Apa ada masalah di perkebunan,” Burhan yang mempersilahkan Teji masuk dan menanyakan kedatangannya.

__ADS_1


 


“Begini aku ingi kau hasut seluruh warga desa untuk membakar rumah Barjo karena Barjo ingin memperkosa Melati,” Tejo yang menceritakan niat busuknya kepada Burhan.


 


“Masalah itu gampang Den, a-asal ada u-uang pelancarnya.”


 


“Tenang ini sudah aku siapkan malam ini juga aku ingin kau jalankan rencanaku,” Tejo yang mengeluarkan uangnya kembali dari saku celananya.


 


“Baik Den semua beres.”


 


“Aku ingin Barjo mati, karena dia sudah bermain-main dengan Tejo ha-ha-ha-ha,” sahut Tejo dengan tertawa jahatnya.


 


Setelah menyelesaikan semua misinya Tejo pun dapat pulang dan beristirahat dengan tenang.


 


Malam mulai tiba sementara itu di rumah Barjo, Sugeng sahabat Barjo sedang berada di rumah Barjo karena semenjak Barjo di tolak lamarannya oleh Ki Damar dan mengetahui Melati akan menikah dengan Tejo. Barjo selalu murung Sugeng lah yang selalu menghibur dan menemani Barjo di rumahnya.


 


“Sudahlah Barjo, sudah sebulan kau seperti ini ikhlaskan Melati bersama Tejo. Jika kau terus-menerus seperti ini kasihan Melati ia akan bersedih Barjo.”


 


“Aku sudah berusaha Sugeng tapi hatiku masih belum mampu mengikhlaskan orang yang aku cintai bersama orang lain.”


 


“Aku sangat mencinta Melati Sugeng,” sambung Barjo kembali.


 


“Iya aku mengerti, tapi mau sampai kapan kau larut dalam kesedihan ini Barjo.”


 


“Entah lah  aku pun tidak tahu Sugeng sampai kapan aku seperti ini,” Barjo yang pasrah.


 


  


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2