
Keesokan harinya jenazah Agus pun dimakamkan tidak jauh dari kediamannya, Agus yang meninggalkan seorang putra yang berumur 17 tahun dan istrinya yang tengah hamil muda.
Isak tangis pecah saat jasad Agus di masukan ke liang lahat.
“Yang sabar, kasihan suamimu kalau kamu menangisinya terus,” sahut Lastri istri dari Ki Damar.
“Aku gak sanggup Bu, jika harus kehilangan Mas Agus.”
“Nduk gak ada cobaan yang di beri Tuhan melampaui batas hambanya, memang terlihat berat jika belum di jalani,” Lastri yang menasihati Istri Agus sambil memeluk.
Beberapa jam kemudian pemakan Agus pun telah selesai warga desa beserta keluarga Agus pun meninggalkan pemakaman itu dan pulang ke rumah mereka masing-masing termasuk Ki Damar beserta istri.
“Bu bikin kan Bapak kopi,” pinta Ki Damar yang duduk di teras rumahnya.
“Iya Pak.”
Lastri yang menuju dapur untuk membuatkan kopi suaminya. Setelah selesai membuatkan kopi Lastri mengantarkan kepada Ki Damar dan menemani suaminya duduk di samping.
“Ini kopinya Pak.”
“Terima kasih ya Bu,” celetuk Ki Damar sambil meminum kopi buatan istrinya.
“Ada apa toh Pak, kok kelihatannya banyak yang di pikirkan?” tanya Lastri.
“Bapak bingung Bu, akhir-akhir ini di desa kita banyak mengalami keanehan, Bapak sebagai Kades di sini kepikiran. Dari hilangnya anak kita, lalu ari-ari yang tiba-tiba hilang terus hilangnya anak Burhan si Tinah dan yang terakhir ini Agus meninggal secara tidak wajar kena teluh,” Ki Damar yang menjelaskan dan bertukar pendapat kepada sang istri.
__ADS_1
“Pak mungkin itu hanya kebetulan saja. Lagi pula desa kita tidak pernah mempunyai musuh selalu aman dan tenteram Pak, mungkin saja ini ujian yang Tuhan kasih untuk kita semua.”
“Semoga saja Bu, tapi Bapak merasa ada seseorang yang memang sedang menganut ilmu hitam.”
“Pak buang prasangkamu itu, berdoa saja semoga tidak terjadi hal-hal yang aneh lagi.”
“Iya Bu semoga.”
Ki Damar dan sang Istri mulai merasakan keanehan di desanya namun mereka berdua tidak mau berburuk sangka terlebih dahulu.
Sementara itu di sisi lain, Barjo tengah sibuk berjualan sayur di pasar.
“Sayurnya Bu,” Barjo yang menawarkan jualannya ke semua orang yang lewat di depan dagangannya.
Saat tengah asyik berjualan dan menawarkan kepada orang yang lewat, tiba-tiba sekelompok preman pasar datang dan meminta uang ke setiap para pedagang.
“A-ampun, dagangan saya belum ada yang laku. Saya belum bisa ngasih setoran hari ini."
“Ahh, sudah berapa minggu kau tak setor-setor, kau mau main-main Pak tua dengan Den Tejo pemilik lahan ini hah?” ucapnya dengan nada kasar.
Ke tiga preman itu pun mengobrak-abrik dagangan Bapak Tua itu, diinjak, dilempar dan dirusak. Bahkan Bapak Tua itu di pukuli dan dianiaya oleh mereka sampai pergelangan Bapak Tua itu patah.
Di sini tidak ada satu orang pun yang berani mendekati Bapak Tua itu apa lagi menolongnya.
Barjo yang sedari tadi kesal melihat kejadian itu pun bersuara sembari membereskan dagangannya yang tidak habis.
__ADS_1
“Kenapa orang Tua yang sudah renta masih saja kalian siksa?” celetuk Barjo.
Mendengar ucapan Barjo para preman itu naik pitam dan menghampiri Barjo.
“Heh buruk rupa! Berani kau kepada kami, mana setoranmu!” bentar preman itu.
“Untuk apa aku memberikan uangku kepada kalian,” sahut Barjo
“Rupanya kau cari mati, habisi dia,” perintah salah satu preman ketua preman.
Mereka bertiga menginjak-injak sayuran Barjo, tidak hanya itu mereka pun tidak puas dan menyiksa Berjo memukuli Barjo sampai keluar darah segar dari mulut Barjo.
Namun anehnya Barjo tidak merasakan sama sekali rasa sakit walaupun iya sudah muntah darah Barjo hanya tertawa saja terduduk di tanah.
Ketiga preman itu pun sudah sangat kelelahan memukuli Barjo, namun ia hanya tertawa dan tersenyum seolah-olah tidak merasakan sakit.
Barjo yang hanya diam saja mendapat siksaan dan pukulan kepada preman itu ia tidak ingin penduduk desa curiga kepadanya sehingga Barjo hanya diam saja.
“Dasar kau orang gila! ayo kita pergi percuma kita mengajar orang gila ini,” ujar preman itu dan meninggalkan Barjo yang terduduk di tanah.
“Ha-ha-ha, kalian bertiga akan mati. Bunuh mereka bertiga,” gumam Barjo dalam batin menyuruh suruhannya dari alam lain membunuh mereka.
Setelah ketiga preman itu pergi Barjo mulai berdiri dan menghampiri Pak Tua itu, tidak berbasa-basi lagi Barjo mengambil pergelangan Pak Tua yang patah itu, sedikit memijatnya setelah itu ia membungkus tangan Pak Tua itu dengan daun pisang dan pergi mengambil dagangannya dan kembali pulang.
Namun keanehan muncul kembali saat Barjo tidak ada Pak Tua itu merasakan tidak sakit lagi akhirnya ia membuka pergelangan tangannya yang di bungkus oleh Barjo tadi dan benar saja.
__ADS_1
Pergelangan tangan Pak Tua itu kembali normal tanpa ada luka lebam ataupun bengkak. Penduduk desa yang mengetahui hal itu pun di buatnya kaget.
jangan lupa Like dan komen ya 😊😊