ILMU HITAM

ILMU HITAM
Hadiah dari Barjo


__ADS_3

“Kau anak muda tidak tau diri! Terimalah hadiah dariku,” gumam Barjo sambil menghentakkan kakinya sebanyak tiga kali ke tanah.


 


Seketika angin berembus kencang dari arah belakang mereka, dan menghantam pemuda tersebut hingga membuatnya jatuh tersungkur.


“Aduh!” keluh Iwan pemuda yang menjadi sasaran Barjo.


“Lah ... Kamu itu jalan gimana to Wan? Kok bisa-bisanya jatuh. Ayo berdiri!” ucap seorang warga sambil membantunya berdiri.


“Iwan Iwan, kamu kualat sih. Makanya kalau ngomong itu dijaga!” sahut yang lainnya.


“Kalian sengaja ya dorong aku? Ada masalah apa aku sama kalian?” bentak Iwan.


“Bocah gendeng! Buat apa aku dorong kamu kaya gak ada kerjaan aja!” sahut seorang pria paruh baya.


“Maaf, tapi tadi Mas nya jatuh sendiri,” Ardi memberi penjelasan.


“Mana ada! Jelas-jelas tadi saya didorong dari belakang!” Iwan tetap bersikeras.


Wajah beberapa warga pun berubah, mereka seakan terdiam sambil melihat sekeliling hutan.


“Jangan-jangan si Iwan di kerjain penunggu di sini. Iihh ... Saya duluan saja,” ucap pria paru baya itu sambil bergidik.


“Uhukk! Uhukkk!” Iwan terus batuk sepanjang perjalanan menuju keluar hutan.


“Kamu kenapa lagi Wan? Perasaan batuknya tidak berhenti,” tanya pria paruh baya itu.


“Nggak tau kaya ada yang nyangkut di tenggorokan dadaku juga sesak,” ucap Iwan sambil terengah-engah.


“Sebaiknya setelah ini Mas pulang dan beristirahat,” ucap Ardi. 


Mereka pun keluar hutan, Iwan memili untuk pulang ke rumahnya karena merasa tidak enak badan. Di rumahnya Iwan duduk di teras sambil mengatur nafas, rasa sesak dan mengganjal di tenggorokan membuatnya sulit bernafas.


Karena merasa tidak tahan lagi Iwan meminum banyak air agar rasa mengganjal itu hilang namun hal itu rupanya tidak berpengaruh sedikit pun. Iwan kemudian merogoh tenggorokan dengan jarinya, ia terkejut karena ada sesuatu di tenggorokannya dengan perlahan Iwan menariknya.


Rasa perih begitu terasa di tenggorokan Iwan, perlahan-lahan benda itu mulai keluar. Iwan semakin terkejut karena yang ia tarik dari tenggorokannya ternyata untaian rambut yang panjang.


Semakin rambut itu di tarik keluar, tenggorokan Iwan semakin terasa sakit bahkan mengeluarkan darah.


“Aaarrghh!” Iwan mengerang kesakitan.


Karena sudah tidak tahan Iwan menarik rambut tersebut secara paksa dan mengakibatkan Iwan mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.

__ADS_1


“Ya Allah Wan! Kamu kenapa?” teriak Ibu Iwan yang melihat mulut Iwan Penuh dengan darah.


“B-bu minta air,” ucap Iwan lirih.


“Wan ... kenapa kok iso koyo ngene (kok bisa seperti ini)  Wan,” Ibu Iwan menangis sambil menyodorkan segelas air putih.


Tanpa basa-basi Iwan langsung meminum air itu, bukannya meredakan rasa sakitnya air itu malah membuat Iwan semakin kesakitan.


Dengan tertatih Iwan berdiri sambil dipegangi oleh Ibunya Iwan membaringkan tubuhnya di kasur. Ibu Iwan yang cemas dengan keadaan Iwan mencoba untuk meminta bantuan kepada Ki Damar.


Dengan cepat ibu Iwan berjalan menuju rumah Ki Damar.


“Assalamualaikum Ki?” ucapnya sambil menggedor pintu rumah Ki Damar.


“Walaikumsalam,” terdengar sahutan salam dari dalam rumah.  


“Mbok? Ada apa? Kelihatannya panik sekali,” ucap Ki damar setelah membukakan pintu.


“Anu Ki, apa bisa Ki Damar panggilkan mantri,” ucapnya.


“Mantri? Siapa yang sakit Mbok?” tanya Istri Ki Damar.


“Itu si Iwan, mulutnya keluar darah,” tuturnya.


Setelah menunggu beberapa lama sebuah motor bebek terlihat berhenti di depan rumah Ki Damar.


“Assalamualaikum Ki,” ucapnya.


“Walaikumsalam Pak Mantri,” sahut Ki Damar.


“Siapa yang sakit Ki?” tanya Mantri itu.


“Anak saya Pak Mantri,” wanita paruh baya itu menyahut.


“Ayo Pak Mantri! Cepat!” sambungnya sambil berjalan ke luar.


Mantri dan Ki Damar pun mengikutinya hingga sampai ke rumah.


“Ini Pak Mantri anak saya” ucapnya.


Terlihat Iwan terbaring lemas dengan wajah yang pucat dan baju yang masih penuh bercak darah, Mantri pun dengan cepat memeriksa keadaan Iwan.


“Mas boleh buka mulutnya? Sambil di keluarkan lidahnya ya,” ucap Mantri.

__ADS_1


Iwan pun membuka mulutnya, sedangkan Mantri itu mengarahkan senter kecilnya ke dalam mulut Iwan.


“Aman tidak ada tanda-tanda terluka, hanya saja ada sedikit peradangan,” tutur sang Mantri.


“Tapi tenggorokan saya sangat sakit Pak Mantri, bahkan untuk minum air saja sangat sakit,” ucap Iwan lirih.


“Lalu bagaimana dengan darah yang keluar dari mulut anak saya Pak Mantri?”


“Apa sebelumya Mas ini  batuk-batuk parah? Atau mengalami gangguan di perutnya?” tanya Mantri.


“Awalnya ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan saya, waktu saya tarik tenggorokan saya sangat sakit dan langsung berdarah sangat banyak,” tutur Iwan.


“Aneh, karena saat saya periksa tidak ada tanda-tanda terluka,” Mantri sedikit kebingungan.


“Benda apa Wan? Kamu habis makan apa?” tanya Ki Damar.


“Rambut Ki,” sahut Iwan singkat.


Seketika semua hening mendengar perkataan dari Iwan dan tidak habis pikir dengan jawaban Iwan.


Mantri pun memutuskan untuk memberikan beberapa obat dan menyarankan Ibu Iwan untuk memeriksakan Iwan ke rumah sakit.  


Ki Damar sangat cemas dengan keadaan Iwan karena terjadi hal yang tidak wajar, ia takut Iwan akan bernasib sama dengan Tito dan lainnya.  


Malam harinya Ibu Iwan pergi ke rumah tetangganya untuk meminta tolong agar mau mengantarkan Iwan ke rumah sakit. Iwan yang saat itu sedang sendirian di rumahnya tiba-tiba merasakan seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam perutnya, karena merasa tidak nyaman ia membuka bajunya di depan cermin.


Saat ia membuka baju, ia melihat perutnya membesar dua kali lipat, rasa sakit yang hebat dirasakan oleh Iwan, perutnya terasa seperti dicabik-cabik hingga Iwan kembali memuntahkan cairan berwarna hitam kemerahan dari mulutnya.


Iwan langsung tersungkur di lantai yang penuh dengan darah. Nafas Iwan terengah-engah sambil memegangi perutnya.


Rasa frustasi mengelilingi pikiran Iwan, ia terus mengerang kesakitan hingga kesadaran Iwan menghilang.


Beberapa menit kemudian Iwan membuka matanya namun, tatapan mata Iwan kosong namun dengan raut wajah penuh ketakutan. Iwan tidak bisa mengontrol tubuhnya.  


Ia berdiri dan berjalan perlahan menuju dapur,  tubuh Iwan telah dikendalikan oleh makhluk halus, Iwan mengambil pisau dapur yang terselip di antara kayu dinding dapurnya.


SRRETT!


Iwan menyayat perutnya sendiri dengan perlahan, darahnya membanjiri lantai yang terbuat dari semen itu. Mata Iwan terbelalak karena kesakitan namun ia tidak bisa mengambil alih tubuhnya.


Isak tangis Iwan terdengar namun ia tidak bisa membuka mulutnya tak kala luka menganga diperutnya semakin melebar akibat tangannya terus menyayat perutnya sendiri hingga sesuatu dari perutnya terjatuh sebagian ke lantai dan sebagian masih menggantung di perutnya.


Nafas Iwan semakin tidak beraturan hingga ia bisa membuka mulutnya, suara serak yang pelan terlontar dari mulut Iwan.

__ADS_1


Rintihan kesakitan tak bisa dibendung olehnya, air mata mengucur deras hingga tubuhnya ambruk ke lantai yang penuh dengan genangan darah.


__ADS_2