ILMU HITAM

ILMU HITAM
Kesombongan Ki Damar


__ADS_3

Dengan perlahan Ki Damar berjalan mengitari hutan sambil tetap waspada. Rupanya Barjo sudah terlebih dahulu mengetahui jika Ki Damar akan mencari tahu dalang dari terbunuhnya beberapa penduduk desa.


Di tempat Barjo berada, ia hanya menyeringai lalu tertawa terbahak karena mengetahui Ki Damar mencoba mengusiknya.


“Kau datang ke tempat yang salah Damar!” ucap Barjo.


Suara Barjo itu terdengar oleh Ki Damar, suara serak dan berat itu menggema ke seluruh penjuru hutan.


“Siapa kamu?” Ki Damar berusaha mencari-cari sumber suara tersebut.


“Ha-ha-ha, kenapa kau panik Damar? Bukankah kau akan menangkapku baik hidup ataupun mati,” seru suara itu.


Mendengar ucapan itu Ki Damar terkejut, karena ia hanya mengucapkan hal itu kepada istrinya.


“Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu membunuh para warga yang tidak bersalah?” ucap Ki Damar dengan lantang.


“Tidak bersalah? Ha-ha-ha kau bodoh Damar!” pekik Barjo.


"Kau jangan main-main denganku! tunjukkan batang hidungmu sekarang juga! aku Ki Damar tidak takut denganmu!" ucapnya sambil menepuk-nepuk dadanya dengan keras.

__ADS_1


"Ha-ha-ha ... kau terlalu sombong Damar! berani menantangku dengan ilmu yang hanya seujung kuku?" ledek Barjo.


"Keluar kau sialan! hadapi aku! jangan hanya bersembunyi!" teriak Ki Damar.


Seketika terdengar suara gemuruh, angin berhembus begitu kencang, membuat Ki Damar kebingungan.


Tiba-tiba dari arah belakang muncul sosok hitam besar dengan kuku yang panjang serta bertaring, matanya yang merah menyala seakan siap memakan Ki Damar.


Sosok itu melayangkan cakarannya ke arah Ki Damar, karena kaget Ki Damar tak sempat menghindar dan cakaran makhluk itu mengenai punggungnya.


Cakarnya mencabik punggung Ki Damar, membuatnya tersungkur karena kesakitan.


Makhluk itu menyeringai dengan taringnya yang panjang, cairan berwarna hitam menetes dari mulut makhluk tersebut, Ki Damar dengan cepat bangkit dan berlari menyelamatkan diri.


Rasa sakit dari luka sobekan di punggungnya membuatnya terus mengerang kesakitan.


Mendengar suaminya megerang kesakitan Lastri langsung masuk ke dalam ruangan itu dan menyadarkan Ki Damar.


“Pak sadar Pak!” Lastri menggoyangkan bahu Ki Damar.

__ADS_1


Ki Damar membuka mata dan langsung tersungkur, nafas berat terdengar dari Ki Damar ia pun meringis sambil memegangi punggungnya.


“Bapak kenapa?” Lastri mulai cemas.


“Sudah Bapak tidak apa-apa Bu, terima kasih karena sudah menyadarkan Bapak kalau tidak bagaimana nantinya nasib Bapak,” tutur Ki Damar.


Lastri memapah Ki Damar dan berjalan menuju kamarnya, dengan perlahan membaringkan Ki Damar ke kasur.


“Bu, kita sepertinya harus berhati-hati, seseorang penganut ilmu hitam itu begitu kuat. Bahkan dia bisa tahu apa yang Bapak ucapkan,” tutur Ki Damar.


“Lalu kita harus bagaimana Pak? Apakah selamanya desa kita akan diteror seperti ini?” Lastri sangat ketakutan mendengar penjelasan Ki Damar.


“Nanti akan Bapak pikirkan Bu,” sahut Ki Damar.


Di tempat lain, Barjo tertawa melihat Ki Damar tertatih saat diserang oleh pengikutnya namun, ia masih belum puas dalam benaknya tersimpan dendam yang teramat besar terhadap Ki Damar dan juga Tejo.


“Sebentar lagi giliran kau Damar! Ha-ha-ha,” Barjo tertawa senang.


Persaan tak tenang dan juga cemas menyelimuti hati Ki Damar, ia tidak menyangka bahwa sang pemilik ilmu hitam tersebut sangat kuat bahkan ia bisa mengetahui apa yang ia bicarakan bersama istrinya.

__ADS_1


__ADS_2