ILMU HITAM

ILMU HITAM
Meninggalnya Suryo


__ADS_3

Mobil ambulan terguling, pintu belakang ambulan pun terbuka yang membuat Ki Damar dan Karim terpental keluar. Tubuh mereka terhempas ke aspal sedangkan Suryo dan seorang warga yang ikut terjepit diantara badan mobil yang peyok.


“Ki? Apakah Ki Damar baik-baik saja?” teriak Karim yang terduduk di aspal.


Berkali-kali Karim berteriak namun tidak ada tanggapan, dengan perlahan Karim bangkit sambil menyeret kakinya ia menghampiri Ki Damar.


“Ki, Ki Damar? Ki?” Karim mencoba membangunkan Ki Damar.


Karim memeriksa detak jantung dengan cara mendekatkan telinganya ke dada Ki Damar, terdengar suara detak jantung yang cukup cepat.


“Ki? Ki Damar? Ki?” ucapnya lagi.


Terdengar suara erangan dari Ki Damar, hal itu membuat Karim sedikit tenang.


Ki Damar bangkit dan duduk sembari mengatur nafas, dadanya terasa sakit akibat terjatuh dari mobil ambulan.


“Suryo mana?” tanya Ki Damar.


“Masih di dalam ambulan Ki!” sahut Karim.


Dengan tertatih serta meringis Ki Damar berdiri, begitu pula dengan Karim. Melihat kaki Karim terluka Ki Damar memapah Karim, mereka bersua berjalan perlahan menghampiri mobil ambulan yang terbalik itu.

__ADS_1


Saat mereka mulai dekat terdengar suara nafas yang serak dan berat mereka berdua langsung mendatangi sumber suara tersebut dan benar saja Suryo rupanya tertindih badan mobil bersama salah satu warga yang ikut.


"Ki Suryo Ki," ucap Karim.


"Suryo? kamu masih sadar?" ucap Ki Damar.


Terdengar suara berat dari Suryo, merespon panggilan dari Ki Damar.


"Semoga semuanya baik-baik saja," ucap Ki Damar.


“Tolong! Tolong!” terdengar suara di bagian depan mobil.


Rupanya sang sopir yang masih sadar juga terjepit badan mobil, Ki Damar memeriksa HP yang ada disaku celananya.


Dengan cepat ia memanggil polisi serta ambulan dan mengabarkan jika mereka terlibat kecelakaan tunggal.


“Pak, Bapak masih sadar kan?” teriak Ki Damar kepada supir ambulan.


“Masih Pak, Cuma kaki saya saja yang terjepit,” sahutnya.


“Berarti perawat masih di dalam,” ucap Karim.

__ADS_1


“Kita tunggu polis datang, kita periksa keadaan Suryo dulu,” sahut Ki Damar.


“Sur? Suryo?” teriak Karim.


Berkali-kali Karim berteriak memanggil nama Suryo namun tidak ada respon bahkan suara pun tidak ada.


“Ya Allah Sur, baru saja kita selesai ronda kenapa kamu jadi begini Sur,” seru Karim dengan penuh kesedihan.


Sahut-sahutan suara sirine terdengar, lampu merah dan biru terlihat jelas. Ki Damar dan Karim mengucap syukur karena polisi datang dengan cepat.


Semua polisi bergegas keluar dan menghampiri Ki Damar.”


“Apa ada yang terluka lagi selain Bapak?” tanya salah satu polisi.


“Teman saya Pak Polisi! Di sana terjepit!” tunjuk Karim.


Dengan cepat para polisi memeriksa keadaan di dalam mobil ambulan, sedangkan polisi yang lain berusaha membantu mengeluarkan sang sopir ambulan.


Hari semakin pagi, matahari mulai menunjukkan sinarnya, proses evakuasi korban belum juga terlaksana karena mereka harus menarik bagian depan mobil ambulan agar sang sopir bisa keluar.


Para warga pun mulai berdatangan, hingga membuat kehebohan di seluruh desa.

__ADS_1


Dengan dibantu warga yang lain mereka berusaha mengangkat badan mobil untuk mengevakuasi jasad Suryo seorang warga dan juga seorang perawat.


Mereka bertiga dinyatakan meninggal dunia, para polisi sangat terkejut ketika melihat jasad Suryo yang mengenaskan dengan bola mata yang melotot, mulut menganga serta perut yang robek.


__ADS_2