
“Ha-ha-ha Tejo kau akan mati! Mati!” teriak Firman dengan wajah babak belur karena Tejo.
“Kau! Barjo!” ucap Tejo dengan wajah ketakutan.
Tejo melepas ikatan tali pocong yang ada di lengannya dan mengarahkannya pada wajah Firman dengan wajah tegang dan tangan yang gemetar Tejo berusaha memberanikan dirinya.
“Ba-Barjo aku tidak takut denganmu! Kau tidak akan bisa menyentuhku!” ucapnya.
“Ha-ha-ha jimat busukmu itu tidak berlaku Tejo!” ucap Firman dengan memasang wajah mengerikan.
Karena sudah tidak tahan Tejo menarik golok yang ada di pinggang Surya, dan berusaha mengarahkannya ke tubuh Firman yang saat itu sedang kerasukan, beruntung Surya dan penjaga yang lain menahan Tejo.
“Den jangan!” teriak Surya.
“Minggir kalian! Aku harus menghabisinya!”
“Ingat Den dia Firman! Bukan Barjo, Den Tejo jangan terpancing!” sahut Surya sambil terus berusaha mengambil golok yang di pegang oleh Tejo.
“Arrggh! Kau berani menghalangiku sialan!”
__ADS_1
Bukkkk! Tejo menendang perut Surya.
Surya terjatuh, sementara Tejo berbalik dan mengarahkan golok itu ke semua bawahannya alhasil mereka semua mundur karena takut terkena sabetan golok dari Tejo.
Tejo berjalan menghampiri Firman yang masih terkekeh tertawa sambil memandang tajam ke arah Tejo.
“Mampus kau sialan!” teriak Tejo sambil menyabetkan goloknya ke tubuh Firman.
Luka menganga serta darah yang langsung keluar deras membuat Firman akhirnya tumbang, tubuhnya seketika kejang dan tersadar.
“De-Den kenapa saya? Saya salah apa?” ucap Firman dengan lirih.
“Panggil ambulan cepat!” teriak Tejo.
“Ba-baik Den,” sahut Surya.
Dengan tatapan kosong Tejo berjalan masuk ke rumahnya, namun ada satu hal yang ia lupakan yaitu tali pocong yang menjadi jimat pelindungnya itu masih berada di tanah.
Para penjaga masih sibuk membantu Firman agar darahnya tidak terus keluar, hingga mobil ambulan datang dan melarikan Firman ke rumah sakit.
Karena terlalu banyak mengeluarkan darah, tubuh Firman semakin pucat nafasnya pun terengah-engah hingga ia menghembuskan nafas terkhirnya di perjalanan menuju rumah sakit.
__ADS_1
Surya yang saat itu berada dalam ambulan pun terdunduk sedih karena sahabatnya harus berakhir dengan keadaan yang seperti itu. Rasa kecewa dan marah ia tujukan pada Tejo dan berencana untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai penjaga Tejo.
Surya mengabil HP nya dan menghubungi Tejo.
“Halo Den Tejo, Firman sudah meninggal,” ucapnya.
Dalam sambungan telepon itu Tejo hanya terdiam tanpa suara, hanya menghela nafas yang berat penuh penyesalan.
“Dan satu lagi Den, sepertinya mulai hari ini saya tidak bisa bekerja lagi dengan Den Tejo, saya akan berhenti,” ucapnya sambil langsung menutup telepon.
Surya tertunduk menyesali perbuatan serta kekasarannya terhadap warga desa yang selama ini ia lakukan atas perintah Tejo.
Di tempat lain Tejo merasa sangat frustrasi dan ketakutan ia meraba lengannya, rupanya ia baru ingat jika jimat miliknya ia lepas.
Dengan cepat Tejo keluar dan menuju halaman tempat ia menjatuhkan jimat tersebut, namun jimat tali pocong itu sudah tidak ada. Ia berusaha mencarinya ke seluruh penjuru halamannya namun jimat itu hilang seketika seperti di telan bumi.
Para penjaga yang lain juga tidak tahu menahu masalah jimat itu, yang mengetahuinya hanyalah Firman dan Karim.
Perasaan Tejo semakin tak karuan, ia bergegas masuk ke dalam rumahnya.
“Ha-ha-ha teruslah kau tenggelam dalam ketakutan Tejo!” ucap Barjo yang berdiri di depan pagar rumah Tejo sambil memegangi jimat milik Tejo.
__ADS_1