
Sebulan kemudian kesedihan masih saja menyelimuti hati Melati seminggu lagi tepatnya hari pernikahan Melati dengan Tejo yang akan diadakan di rumahnya.
Melati yang mencoba menyibukkan dirinya agar tidak terus-menerus larut dalam kesedihannya. Saat itu Melati tengah menyapu rumahnya, sedangkan Ibunya sedang berada di dapur menyiapkan bahan-bahan makan yang di perlukan untuk pernikahannya, sementara Bapaknya sedang sibuk mengurus kelengkapan pernikahan Melati.
Dikala Melati tengah sibuk menyapu tiba-tiba ia merasakan sakit kepala, perutnya terasa mual ingin muntah. Melati yang merasakan ingin muntah segera berlari ke kamar mandi.
Setelah Melati mengeluarkan semua isi perutnya hingga lemas. Melati pun keluar dari kamar mandi hal ini dilihat oleh ibunya.
“Kamu kenapa Nduk? Kamu sakit wajahmu terlihat pucat,” ujar Lastri sang Ibu yang menghampiri Melati di pintu kamar mandi.
“Entah Bu, tiba-tiba Melati tidak enak badan kepala Melati sakit, perut Melati terasa mual.”
“Ya sudah kamu istirahat saja di kamar Nduk nanti ibu panggilkan Mantri untuk memeriksa kondisimu,” sahut Lastri yang khawatir kepada kesehatan anaknya.
“Iya Bu,” ujar Melati yang mengikuti saran dari ibunya.
Melati pergi meninggalkan ibunya dan pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Sementara Lastri mendatangi suaminya Ki Damar yang sedang berada di teras rumahnya.
“Pak sepertinya Melati sakit Pak, tadi ibu melihatnya muntah-muntah di kamar mandi wajahnya terlihat sangat pucat,” tutur Lastri menjelaskan kondisi Melati.
“Tolong panggilkan Mantri Pak untuk memeriksa kondisi Melati,” pinta Lastri kepada Ki Damar.
Ki Damar yang mendengar hal tersebut segera pergi memanggil Mantri untuk memeriksa Melati.
Selang beberapa menit Ki Damar pergi Tejo secara kebetulan datang untuk bertemu calon istrinya.
“Assalam’mualaikum,” ucap Tejo sambil mengetok pintu rumah Melati.
Mendengar ada yang mengetok pintu, Lastri menghampirinya.
“Owalah Nak Tejo toh, sini masuk Nak,” Lastri yang menyuruh Tejo untuk masuk ke rumahnya.
Mereka berdua berjalan menuju sofa yang berada di ruang tamu.
“Iya Bu terima kasih, oyah Bu Bapak di mana kok tidak kelihatan?” ujar Tejo yang menanyakan Ki Damar.
“Bapak tadi keluar memanggil Mantri untuk Melati.”
__ADS_1
“Melati sakit Bu?” sahut Tejo yang menanyakan kondisi Melati karena iya sangat khawatir.
“Sepertinya Nak Tejo, tiba-tiba Melati tadi ke kamar mandi di sana ia muntah-muntah kepala terasa berat katanya dan wajah pun terlihat pucat,” Lastri yang menjelaskan kondisi Melati kepada Tejo.
“Semoga Melati cepat sembuh Bu, Bapak suruh cari Mantri yang paling bagus, Tejo tidak mau pernikahan ini tertunda gara-gara Melati sakit Bu,” kata Tejo yang mementingkan egonya.
“Iya Nak Tejo, tenang saja mungkin Melati hannya masuk angin biasa saja di tambah lagi ia kelelahan.”
“Tejo boleh melihat kondisi Melati Bu di kamar?”
“Iya Nak Tejo silahkan!” Lastri yang mempersilahkan Tejo untuk melihat Melati.
Bu Lastri mendampingi Tejo ke kamar Melati. Sesampainya di depan pintu kamar Melari Bu Lastri mengetuknya dan memberitahukan bahwa Tejo datang.
“Nduk, nduk, ini Tejo mau bertemu denganmu Nduk.”
“Masuk Bu, pintunya gak Melati kunci.”
Bu Lastri dan Tejo pun masuk ke kamar Melati. Tejo pun segera menghampiri Melati yang terbaring lemas di tempat tidurnya dan duduk di sampingnya.
“Nduk, Nak Tejo ibu tinggal ke dapur dulu masih bapak keperluan yang harus ibu urus untuk pernikahan kalian.”
“Iya Bu, biar Melati Tejo yang jaga,” sahut Tejo.
Lastri pun meninggalkan mereka berdua dan bergegas pergi ke dapur. Sementara itu Tejo mulai berbincang-bincang dengan Melati.
“Kamu kenapa Melati, mungkin kamu terlalu kelelahan sampai-sampai kondisi badanmu menjadi drop.”
“Melati tidak tahu mas, saat Melati menyapu secara tiba-tiba Melati kepala Melati sakit dan perut seperti mual.”
“Ya sudah lebih baik kamu beristirahat, biar mas yang menjamu.”
Selang beberapa menit Ki Damar pun datang bersama Mantri, mereka berdua segera menuju kamar Melati. Melati yang terbaring lemas pun di periksa oleh Mantri tersebut. Ibu, bapak dan Tejo sedang melihat Melati yang tengah di periksa oleh Mantri.
Setelah selesai memeriksa Mantri pun memberi tahu kepada mereka semua tentang kondisi Melati saat ini.
“Selamat Ki Damar, Ki akan segera menimang cucu,” sahut Mantri itu dengan tersenyum.
__ADS_1
Bak di sambar petir disiang hari bolong Ki Damar mendengar ucapan dari Mantri tersebut, tubuhnya terasa lemas jantungnya berdebar sangat kencang.
Secara spontan Ki Damar menghampiri Melati mengayunkan secara kencang tangannya ke wajah Melati.
PLAKK ( tamparan keras mengena tepat di pipi Melati).
Ki Barjo secara emosional memaki-maki Melati anaknya sendiri.
“Bikin malu keluarga saja, siapa ayah dari anak itu!” ucap Ki Damar membentak Melati.
Melati hanya diam seribu bahasa dan menangis ia tidak berani memberi tahukan siapa ayah dari anaknya itu.
Sementara disisi lain melihat Ki Damar yang sangat marah kepada Melati membuat Mantri itu merasa tidak nyaman dan ingin pulang.
“Baik Ki Damar saya pamit terlebih dahulu.”
“Iya sama-sama Pak Mantri terima kasih,” sahut Ki Damar.
Tejo pun mengantar Mantri tersebut sampai di pintu dan berbicara sesuatu kepada Mantri tersebut.
“Tolong rahasiakan hal ini, jangan sampai penduduk desa tahu, ini uang tutup mulut untuk Pak Mantri. Tapi ingat Pak jika ada penduduk desa yang mengetahui hal ini Bapak harus menerima akibatnya,” ancam Tejo sambil memberikan kan uang dari kantong celananya.
“Baik Den Tejo,” ujar Mantri yang ketakutan.
Setelah mengantar Mantri itu Tejo kembali ke kamar Melati untuk mengetahui lebih lanjut siapa bapak dari anak yang di kandungnya.
__ADS_1