ILMU HITAM

ILMU HITAM
Tumbal


__ADS_3

Sementara di sisi lain Barjo yang mengetahui kematian para preman tertawa dengan sangat gembiranya.


“Ha-ha-ha-ha, kalian semua mati,” gumam Barjo dengan wajah bahagia.


Di saat Barjo tengah tertawa gembira terdengar ada suara yang tak terlihat wujudnya suara itu berasal dari penguasa alam gaib.


“Barjo ... Besok malam jumat Kliwon kau jangan melupakan tumbal darah gadis perawan untukku,” ucap penguasa alam gaib dengan suara yang berat dan serak.


“Baiklah besok aku, akan mencarikan tumbal untukmu,” sahut Barjo.


Suara itu pun tiba-tiba menghilang setelah Barjo menyahutinya.


Tidak mendengar apa-apa lagi Barjo pun mulai kembali untuk beristirahat.


 


...***...


Keesokan harinya seluruh warga desa gempar mendengar mayat Supri, dan Bahdrun.


Yang meninggal dengan cara yang mengenaskan, mereka pun di makamkan sesegera mungkin apa lagi jasad Bahdrun yang sangat mengerikan dengan tubuh terbelah menjadi dua isak tangis kedua keluarga Supri dan Bandrun pun pecah di saat kedua jenazah di masukan keliang lahat secara bergantian.


Setelah selesai pemakaman warga desa berusaha mencari kembali jasad Tito yang sampai sekarang belum di temukan jasadnya. Menurut saksi mata yaitu Wanita penghibur yang bersama Tito, jatuh ke sungai. Tito yang saat itu terbawa arus sungai yang sedang deras.


Beberapa jam kemudian jasad Tito akhirnya di temukan sangat jauh tersangkut di sebuah batu kali saat kondisi air sungai sedang surut.


“Ini jasad Tito ayo cepat ke sini,” ucap salah satu penduduk desa yang membatu mencari jasad Tito.


 Beberapa penduduk desa mendatangi jasad Tito yang sudah membengkak mereka pun mulai mengangkat jasad Tito.

__ADS_1


Isak tangis kembali muncul oleh keluarga Tito saat jasad Tito telah di temukan.


“Owalah Le, kok nasib mu seperti ini, salah apa kamu Le,” ucap ibu Tito yang menangis melihat jasad Tito.


Para warga desa berusaha menenangkan ibu Tito beserta keluarga. Tejo pun memberi santunan kepada para keluarga yang di tinggalkan.


Saat jasad Tito telah di makamkan masih, para penduduk desa pun mulai meninggalkan pemakaman ada beberapa dari penduduk desa yang mencibir kematian mereka.


“Akhirnya mereka bertiga mati semua, matinya pun secara mengenaskan mungkin ini ajab untuk mereka karena ulah mereka semasa hidup suka menindas yang lemah dan meminta uang yang bukan hak mereka,” ujar salah satu ibu-ibu yang ikut menghadiri pemakaman mereka bertiga.


“Hust, jangan  ngomongin orang yang sudah meninggal,” kata salah satu pemuda.


Setelah di tegur ibu-ibu yang menggosipkan mereka bertiga pun berhenti.


Malam mulai tiba, Barjo pun mulai beraksi ia mulai keliling kampung untuk mencari gadis perawan.


Dengan indra penciumannya yang berbeda dari manusia normal lainnya. Barjo mampu mencium bau darah segar yang berasal dari gadis perawan.


Barjo yang mengamati keberadaan gadis itu dari kejauhan.


Sudah hampir 4 jam Barjo memantau  rumah gadis itu di balik pohon, dan akhirnya gadis itu keluar rumah untuk membeli sesuatu di warung.


“Lam jangan lama-lama ke warungnya kasihan bapak mu kepalanya sakit,” Ibu Nilam yang memperingati anaknya.


“Iya Bu,” sahut Nilam dengan suara yang lembut.


Nilam pun pergi ke warung membeli obat sakit kepala untuk Ayahnya. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Barjo.


Barjo yang mulai mendekati Nilam dari arah belakang, dan akhirnya membungkam mulut Nilam.

__ADS_1


Lalu membacakan mantra aji sirep dan di tiupkan ke samping wajah nilam ajian itu yang berfungsi membuat seseorang menjadi sangat mengantuk dan tidak sadarkan diri.


Saat Nilam mulai tidak sadarkan diri Barjo mengendongnya dan membawa ke rumahnya.


Sesampainya di rumah Barjo mengeletakkan tubuh Nilam di lantai dengan tangan, kaki, dan mulut yang di ikat.


Setelah itu Barjo mengambil perapian di taburkannya kemeyan di atas perapian dan ia mengelilingi tubuh Nilam, di tambah lagi di taburkannya bunga tujuh rupa di tubuh Nilam.


Barjo pun berhenti ia mengambil mangkok yang di dalamnya berisi darah seekor kera yang sudah diritualkan sebelumnya, darah itu di siramkan ke tubuh Nilam dari kepala hingga ujung kaki.


Sesudah semua ritual selesai Barjo meletakkan kembali mangkok itu di samping tubuh Nilam yang tidak sadarkan diri, lalu Barjo mulai mengambil pisau belati dan mangkok.


Pisau belati itu di arahkan Barjo ke leher Nilam, Nilam yang mulai tersadar mencoba berteriak dan melawan namun tidak mampu karena di ikat oleh Barjo, tangan, kaki, dan mulutnya


Saat Barjo ingin menyayat leher Nilam, Nilam menangis membuat ia tidak tega melakukan hal yang sangat kejam itu, Barjo terdiam sesaat melihat wajah Nilam.


Namun bisikan jahat itu muncul dari penguasa alam gaib.


"Bunuh dia Barjo, Bunuh dia, sebentar lagi ilmu mu akan sempurna, dan kau akan menjadi sakti tidak ada yang menandingi mu, bunuh dia Barjo, bunuh dia,” bisikan itu yang membaut hati Barjo seketika Berubah kejam kembali.


Barjo mulai menyayat leher Nilam darah segar mulai keluar dari leher Nilam lalu menampungnya di sebuah wadah. Tubuh Nilam seketika kejang dan lama-lama Nilam pun tidak bergerak lagi dengan mata yang terbuka.


Iblis itu mulai menampakkan wujudnya kepada Barjo lalu mengambil wadah yang berisi darah Nilam dan meminumnya.


Setelah selesai meminum darah Nilam, rupanya darah yang berisi di dalam wadah itu di sisakan iblis itu dan memberikannya kepada Barjo.


“Minum darah ini, habiskan,” perintah sang Iblis.


Barjo mulai meminum sisa darah di wadah itu menghabiskan tetes demi tetes. Setelah selesai meminum tubuh Barjo seketika merasakan hawa panas di dalam tubuhnya.

__ADS_1


Tanpa memperdulikan rasa yang ada di dalam tubuhnya Barjo mulai mengangkat tubuh Nilam, Ia ingin menguburkan jasad Nilam di tengah hutan.


 Barjo yang mengendong jasad Nilam menuju ke tengah hutan dengan membawa obor untuk menerangi jalan. Sesampainya di tengah hutan Barjo mulai menggali lubang untuk mengubur jasad Nilam. Beberapa menit kemudian di kira sudah cukup lubang yang Barjo gali, ia pun meletakan jasad Nilam di lubang itu lalu menguburnya dan meninggalkannya kembali ke rumah.


__ADS_2