
Burhan memacu mobil dengan kecepatan sedang menuju Desa Mawar, di perjalanan Tejo terus merasa khawatir dan was-was, ia takut jika dukun yang ia temui tidak lebih sakti dari Mbah Sirah.
Perjalanan menuju Desa Mawar memakan waktu sekitar tiga jam, karena mereka harus melewati beberapa desa agar bisa sampai ke sana.
“Den saya mau tanya,” ucap Burhan memecah lamunan Tejo.
“Tanya apa?” sahut Tejo.
“Den Tejo beneran mencuri tali pocong?” Burhan masih penasaran dengan ucapan Tejo.
“Iya, bahkan aku harus mengambil tali pocong itu sendiri dengan mulutku! Kamu bayangkan saja berapa busuknya bau mayat wanita itu bahkan ulat-ulat masuk ke dalam mulutku!” tutur Tejo.
“Hiiiii ... Kok Den Tejo mau sih melakukan hal itu?” Burhan bergidik.
“Apa pun akan aku lakukan demi memiliki jimat itu!” sahut Tejo.
Setelah mereka menempuh perjalanan yang tidak lama akhirnya mereka sampai di desa mawar tempat temannya Burhan.
Tok ... Tok ... ( Sura mengetuk pintu)
“Ya sebentar,” teriak seorang laki-laki dari dalam rumah.
__ADS_1
Pintu pun di buka oleh seorang laki-laki.
“Eh kau Burhan mari masuk! Bersama siapa kamu Burhan?” tanya seorang laki-laki itu.
“Ini sama bos ku raden Tejo! Den perkenalkan temanku namanya.”
“Edi Den,” ucap edi yang menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“Tejo,” balasnya.
“Ayo masuk Den Tejo dan Burhan biar enak ngobrolnya.”
“Sepengetahuanku di sini tidak ada dukun sakti, tapi aku pernah dulu di ajak bapak ku ke dukun sakti karena aku sakit tidak kunjung sembuh.”
“Apa kau masih ingat tempatnya Edi?” tanya Tejo.
“Iya aku masih ingat walaupun sudah belasan tahun aku tidak ke sana, tepatnya nama Desanya di sebut Desa Keramat dan ada seorang dukun sakti di sana bernama Ki Loreng,” Edi yang menjelaskan kepada mereka berdua.
“Bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga, semakin cepat semakin bagus,” sahut Tejo yang mulai cemas.
Mereka bertiga pun mulai bergegas keluar rumah dan memasuki mobil Tejo menuju Desa Keramat.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Tejo menceritakan apa yang ia alami kepada Edi.
“Den Tejo tidak perlu kuatir dan takut lagi saya jamin dukun ini yang paling sakti yang bisa membantu Den Tejo,” celetuk Edi meyakinkan Tejo.
“Baiklah sesudah semuanya beres aku akan memberi imbalan kepadamu sebagai ucapan terima kasihku,” sahut Tejo sembari memegang setir mobil.
“Terima kasih Den,” ucap Edi dengan senyum sumringahnya.
Sudah beberapa jam Tejo menyetir mobilnya namun tidak melihat sebuah desa yang mereka lihat hanya hutan-hutan karet di pinggir-pinggir jalan, Tejo yang mulai ragu mencoba bertanya kepada Edi apakah jalan yang ia tunjukan itu benar.
“Edi apakah jalan ini benar? Dari tadi aku perhatikan tidak ada Desa di sini hanya pohon-pohon karet saja rumah penduduk pun tidak ada di sini?” tanya Tejo yang ragu sembari memegangi setirnya.
“Benar ini jalannya Den, aku masih ingat dengan jelas,” Edi yang berusaha meyakinkan Tejo.
“Baiklah kita teruskan saja perjalanan ini, lagi pula aku sudah mulai lelah di teror hantu Barjo itu hidupku tidak tenang saat ini,” Tejo yang mengeluh kepada Edi dan Burhan.
“Tenang Den Ki Loreng ini sangat sakti aku berani menjaminnya,” celetuk Edi yang berusaha menenangkan Tejo.
“Baguslah jika begitu.”
Edi berusaha meyakinkan bahwa Ki Loreng adalah dukun yang paling sakti di Desa Keramat yang mampu mengusir hantu Barjo.
__ADS_1