
Melati yang berhasil keluar dari rumahnya dan ingin pergi ke kota ia menutupi wajahnya dengan selendang yang sebelumnya ia bawa.
“Ayo Melati cepat, nanti Bapak dan Ibumu pulang,” ucap Sri yang mulai khawatir.
“Iya Sri.
Mereka berdua pun berjalan keluar desa sambil berbincang-bincang.
“Sebenarnya kau ingin pergi ke mana Melati?” tanya Sri yang binggung.
“Entahlah Sri aku ingin pergi ke kota tapi aku bingung di sana aku dengan siapa aku tidak punya siapa-siapa di sana.
“Tenang Melati di sana ada keluargaku nanti kau bisa tinggal di sana dan aku yang akan menemanimu.”
“Terima kasih Sri kau adalah sahabatku yang terbaik. Ta-tapi tidak apa-apa aku tinggal di sana dan terus bagaimana jika mereka tahu tentang aku anak Ki Damar,” Melati yang cemas.
“Tenang saja Melati aku akan menutupi identitas mu dan aku akan bicara ke keluargaku bahwa kau temanku yang di tinggal meninggal suaminya, dan tenang saja keluarga pasti mengerti tentang keadaanmu.”
“Sekali lagi terima kasih Sri.
Selang beberapa Menit mereka pun sampai di jalan utama jalan yang menghubungkan kota dengan desa mereka. Melati dan Sri pun menumpang mobil angkutan yang berisi sayur-sayuran hasil panen dan akan di jual di kota.
Sementara di sisi lain Ki Damar dan Bu Lastri pulang setelah menghadiri pemakaman Barjo. Ki Damar yang duduk bersantai di teras.
“Bu bikin kan Bapak kopi,” pinta Ki Damar kepada Istrinya.
“Ya tunggu sebentar ibu buka pintu rumah dulu,” sahut Lastri yang membuka pintu rumah yang telah di kunci oleh Ki Damar.
Setelah membuka pintu Bu Lastri pun bergegas ke dapur membuatkan kopi untuk suaminya.
Tidak lama Lastri pergi ke dapur Tejo pun datang dengan menaiki motor besarnya.
“Asalam’muaikum Ki,” ucap Tejo yang memberi salam kepada Ki Damar yang sedang duduk di teras rumahnya.
“Waalaikumsalam Nak Tejo, masuk Nak duduk di sini.”
__ADS_1
“Iya pak terima kasih,” sahut Tejo mendatangi Ki Damar dan duduk di sampingnya.
“Bu, kopinya satu lagi ini Nak Tejo datang,” teriak Ki Damar kepada Lastri.
“Iya pak,” sahut Lastri.
Mereka berdua pun berbincang-bincang di teras itu.
“Jasad Barjo sangat mengerikan sekali wajahnya sampai tidak di kenali lagi,” Ki Damar bercerita kepada Tejo.
“Iya Pak warga desa berhasil di hasut oleh Burhan,” sahut Tejo dengan senyum bahagianya.
“Tejo harap Melati jangan sampai mengetahui hal ini Ki, sebelum dia menggugurkan kandungannya.”
“Baiklah Tejo, Bapak ikuti kemauan mu, bagaimana kau sudah ke rumah Bi Minah?” tanya Ki Damar.
“Sudah Ki, Bi Minah menyuruh untuk ke rumahnya malam ini.”
"Baguslah kalau begitu nanti malam kita pergi ke rumah Bi Minah.
“Ini kopinya di minum di minum Nak Tejo.”
“Iya Bu terima kasih.”
“Bu coba panggil Melati keluar seharian dia di dalam kamar terus dan bilang ini ada Nak Tejo calon suaminya!” perintah Ki Damar kepada Lastri istrinya.
“Baik Pak, Nak Tejo ibu tinggal dulu,” sapa Lastri kepada Tejo.
Lastri pun pergi ke dalam rumah untuk memanggil Melati, karena Tejo calon suaminya ingin bertemu dengannya. Sesampainya di depan pintu kamar Melati Lastri mulai mengetuk dan memanggilnya.
Tok ... Tok ...( Suara ketukan pintu dari Lastri).
__ADS_1
“Melati cah ayu, Tejo sudah datang mau bertemu denganmu,” ucap Lastri sembari mengetuk pintu kamar Melati.
Tidak ada jawaban dari Melati di kamarnya Lastri pun Mencoba memanggil Melati kembali.
“Nduk, ini loh Tejo sudah datang buka pintunya,” ucap kembali Lastri.
Namun tetap sama tidak ada jawaban dari Melati di kamarnya, akhirnya Lastri mencoba membuka pintu kamar Melati.
Ceklek (Suara pintu di buka).
Melihat kamar Melati yang kosong Lastri menjadi panik ia mulai memanggil-manggil Melati di kamarnya dan mencarinya namun tidak ada, Lastri pun mencoba mencari Melati di setiap ruangan rumah namun hasilnya sama saja Melati tidak ada. Lastri yang mulai panik keluar rumah dan memberitahukan kepada Ki Damar.
“Pa-pak, Melati pak, Melati,” ucap Lastri yang mulai panik.
“Ada apa toh Bu, coba bicara pelan-pelan,” sahut Ki Damar.
“Melati Pak, Melati tidak ada di kamarnya,” Lastri yang panik melihat Melati tidak ada di rumahnya.
“Apa sudah ibu cari, mungkin saja Melati berada di kamar Mandi,” Ki Damar yang mencoba menenangkan istrinya.
“Sudah Pak, sudah ibu cari di semua ruangan tapi Melati tetap tidak ada."
Ki Damar mulai menjadi panik ia dan Tejo mencoba mencari Melati kembali di rumahnya.
Beberapa menit kemudian mereka bertiga tetap saja tidak dapat menemukan Melati di rumahnya.
“Ki Damar apa Melati kabur dari rumah,” kata Tejo yang mulai curiga.
“Kabur dari mana dia bisa kabur pintu rumah Bapak kunci kecuali Melati kabur melalui jendela kamarnya, tapi Melati anak yang penurut tidak mungkin dia berani kabur dari rumah,” sahut Ki Damar.
“Coba saja Pak kita lihat jendela kamar Melati terkunci apa tidak, kalau tidak terkunci benar saja dugaan saya Melati kabur dari rumah,” Tejo yang memberi saran kepada Ki Damar.
__ADS_1