ILMU HITAM

ILMU HITAM
Barjo dan Mbah Sirah


__ADS_3

Mbah Sirah mencari tahu siapa yang telah menyerangnya, saat memejamkan matanya ia sudah merasakan energi yang begitu besar hingga membuatnya begitu tertekan. Rasa sesak begitu terasa akibat benturan energi suhu tubuhnya pun meningkat drastis hingga membuatnya berkeringat. Tekanan energi itu semakin kuat disaat Mbah Sirah berusaha mendatangi Barjo lewat sukmanya.


Namun karena Mbah Sirah juga bukan orang sembarangan ia berhasil menerobos tekanan energi yang kuat tersebut walau pun hal itu membuat tubuhnya gemetar.


“Siapa sebenarnya dia?” gumam Mbah Sirah dalam Hati.


Mbah Sirah melihat sebuah gubuk berada di tengah hutan yang tak lain adalah rumah Barjo. Mengetahui hal itu Barjo hanya tersenyum dan mengakui kesaktian Mbah Sirah karena ia bisa menerobos pagar energinya.


“Rupanya ada juga yang bisa menerobos tempatku,” ucap Barjo.


Barjo berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu untuk menyambut Mbah Sirah. Saat Barjo keluar Mbah Sirah langsung tersungkur karena merasakan kuatnya hantaman energi.


“Dia hanya menampakkan wujudnya tapi kenapa energinya begitu kuat!” ucap Mbah Sirah sembari meringis menahan tekanan dari Barjo.


“Aku salut denganmu karena kau bisa masuk ke sini,” ucap Barjo.


“Siapa kamu? Kenapa kamu tiba-tiba menyerangku?” tanya Mbah Sirah.


“Ha-ha-ha tidak perlu ketakutan seperti itu Sirah aku hanya ingin menyambutmu,” ucap Barjo.


Mbah Sirah berusaha berdiri sambil merogoh keris yang ia bawa di belakang tubuhnya, dengan tangan yang gemetar Mbah Sirah mengeluarkan keris tua yang dibungkus dengan kain hitam, ia meletakkan keris itu di dahinya sembari membaca mantra.


Keris Mbah Sirah tiba-tiba mengeluarkan cahaya berwarna merah, namun cahaya itu berangsur meredup Mbah Sirah terkejut.


“A-apa yang terjadi!” ucap Mbah Sirah.


Mbah Sirah menoleh ke belakang, terlihat sosok besar dengan tubuh berwarna merah, bertaring serta memiliki tanduk di dahinya. Mahluk itu membuka mututnya dengan lebar dan menyerap energi dari Mbah Sirah.


“Kamu! Bersekutu dengan iblis!” ucap Mbah Sirah dengan tubuh yang gemetar.


“Ha-ha-ha kebetulan kau datang di saat dia sedang kelaparan,” ucap Barjo.


“Akkhhhh!” leher Mbah Sirah dicekik oleh makhluk itu.


Lidahnya menjulur keluar dengan air liur menetes, seakan siap untuk menyantap sukma dari Mbah Sirah.


Merasa Barjo bukanlah tandingannya, Mbah Sirah berusaha melepaskan diri dengan sisa energi yang ia punya, ia menusukkan keris yang masih dipegangnya ke arah jantung makhluk itu.


Makhluk itu berteriak dan melepaskan cekikkannya, dengan cepat Mbah Sirah berlari dan pergi meninggalkan tempat itu hingga sukmanya kembali ke dalam raganya dengan selamat.


Saat tersadar tubuh Mbah Sirah tumbang, sekujur tubuhnya lemas, di lehernya terdapat tanda bekas cekikkan dari makhluk tersebut dengan tertatih ia berusaha bangun, sesekali Mbah Sirah mengerang karena rasa sakit dan sesak di dadanya.


Perlahan ia berjalan sambil berpegangan pada dinding rumahnya, ia berjalan menuju kamarnya lalu membaringkan tubuhnya di kasur.


“Tidak aku sangka dia bersekutu dengan iblis, jika tidak cepat pergi bisa-bisa aku mati,” ucapnya sambil meringis.

__ADS_1


“Apakah ini ada hubungannya dengan pemuda tempo hari?” gumam Mbah Sirah.


Di tempat lain, Barjo keluar dan berjalan menuju rumah Tejo. Ia berdiri di depan gerbang rumah tejo hingga bawahan Tejo yang bernama Firman melihat Barjo di balik gerbang yang terbuat dari jeruji besi.


“Hei kenapa berdiri di situ cepat pergi!” bentak Firman.


“Ada apa?” tanya Karim.


“Itu ada orang dari tadi berdiri di depan gerbang,” sahut Firman.


“Mana? Tidak ada siapa-siapa kamu salah lihat mungkin sebaiknya kamu istirahat biar aku yang berjaga,” sahut Karim.


“Masa kamu tidak melihat? jelas-jelas dia masih berdiri di sana!” Firman mengajak Karim mendekati gerbang.


“Mana? Kamu mungkin sedang mengantuk,” sahut Karim sambil membuka gerbang untuk memastikan.


“Loh? Tadi ada dia berdiri di sini bahkan saat kita mendatangi gerbang ini,” Firman bersikukuh.


“Sudahlah, sebaiknya kamu pergi tidur biar aku yang berjaga,” ucap Karim.


Dengan penuh kebingungan Firman berjalan masuk ke dalam rumah Tejo, baru beberapa detik Firman berjalan ia tiba-tiba berhenti hal itu membuat Karim kembali mendatanginya.


“Kenapa kalu berhenti?” tanya Karim.


“Firman? Firman kamu kenapa?” Karim menggoyangkan tubuh Firman.


Firman menoleh perlahan ke arah Karim dan langsung mencekik Karim.


Karim terjatuh ke tanah dan berteriak, namun anehnya tubuh Firman terasa sangat berat cekikannya pun sangat kuat membuat Karin tidak bisa bergerak, Firman mengambil belati yang terselip di pinggangnya dan menusukkannya ke mata Karim.


“Aaaaaa!” teriak Karim.


Teriakan itu didengar oleh para penjaga yang lain, mereka pun keluar dan mendapati Firman sedang menindihi tubuh Karim sambil memegang sebilah belati yang berlumuran darah.


Dengan cepat mereka menangkap tangan Firman, butuh beberapa orang untuk menarik Firman dari tubuh Karim.


“Astaga Firman kau sudah gila ya! Kalian cepat panggil ambulan!” perintah Surya salah satu bawahan Tejo.


Karim terus mengerang kesakitan, matanya terus mengeluarkan darah sedangkan Firman terus meronta dan berteriak sesekali ia tertawa terbahak melihat Karim.


“Apa yang sebenarnya terjadi kepada Firman?” tanya Surya.


“Sepertinya dia dirasuki makhluk halus!” sahut penjaga yang lain.


Firman terus berteriak dan meronta hingga Tejo mendengar hal tersebut.

__ADS_1


“Ada apa ribut-ribut?” tanya Tejo dari jendela kamarnya.


“Firman kesurupan Den,” sahut Surya.


Mendengar hal itu Tejo turun dari kamarnya dan mendatangi Firman. Tejo terkejut melihat kondisi Karim yang bersimbah darah.


“Karim kamu kenapa?” ucap Tejo terkejut.


“Di tusuk sama Firman Den, tadi saya sudah menyuruh yang lain untuk memanggil ambulan,” sahut Surya.


“Ha-ha-ha kau! Kau akan mati!” teriak Firman sambil menunjuk Tejo.


“Sialan!” ucap Tejo sambil menampar wajah Firman.


“Den sudah Den!” Surya menahan tubuh Tejo.


Karena sangat kesal Tejo juga menampar Surya, dan kembali mendatangi Firman ia memukul dan menginjak perut Firman hingga Firman pingsan.


Ambulan datang Karim yang terus mengeluarkan darah pun segera di bawa ke rumah sakit, beberapa warga yang melihat ambulan masuk ke dalam halaman rumah Tejo hal itu membuat mereka penasaran.


“Maaf tuan ini ada apa?” tanya seorang warga kepada salah satu penjaga.


“Firman kesurupan, lalu mata Karim ditusuk pakai pisau oleh Firman,” sahutnya.


“Astagfirullah,” ucap mereka serentak.


“Ngapain kalian berkumpul di situ? Bubar!” teriak Tejo kepada para warga.


Mereka pun membubarkan diri, Barjo yang berada di tengah kumpulan para warga pun terkekeh karena melihat ekspresi Tejo yang sebenarnya sedang ketakutan.


Tejo tidak sengaja melihat Barjo sedang tertawa sambil melihat ke arahnya.


“Hei kau pak tua sialan! Apa yang kamu tertawakan?” teriak Tejo sambil membuka gerbang untuk mendatangi Barjo.


Saat gerbang terbuka Barjo tiba-tiba menghilang.


“Sialan kemana si tua itu pergi!”


“Hei kau! Kemana pak tua itu pergi?” tanya Tejo kepada salah satu Warga.


“Pak tua? Saya tidak melihat siapapun lagi selain saya di sini Den,” sahutnya.


“Jangan bohong, kau menyembunyikannya bukan?” bentak Tejo.


“Sumpah Den, di sini tidak ada siapa-siapa saya tidak bohong,” sahutnya

__ADS_1


__ADS_2