
Beberapa bulan berlalu, Melati perlahan melupakan dan mengikhlaskan kekasihnya Barjo yang ia tahu Barjo telah tiada.
Ibu Ratna memiliki seorang anak laki-laki yang kini menetap di luar kota, Ibu Ratna sering bercerita tentang Melati kepada anaknya hingga membuatnya penasaran dengan sosok Melati.
Hingga suatu hari anak Ibu Ratna berkunjung ke rumahnya, karena kebetulan ia sudah lama tidak bertemu dengan ibunya.
Sebuah mobil BMW berwarna hitam berhenti di depan pagar, hanya dengan menyalakan klakson dua kali pagar langsung dibuka oleh penjaga.
Mobil itu langsung menuju ke dalam bagasi, terlihat seorang pria muda bertubuh tinggi mengenakan pakaian santai keluar dari mobil.
“Bu, sepertinya ada yang datang,” ucap Melati yang mengintip di balik gorden.
“Sepertinya Nathan sudah datang,” ucap Ibu Ratna dengan sumringah.
“Nathan?” tanya Melati.
“Iya Melati, Nathan anak Ibu yang tinggal di luar kota,”
“Assalamualaikum?” ucap Nathan.
“Walaikumsalam, ya ampun Ibu sudah lama nungguin kamu Nak,” Ibu Ratna memeluk erat Nathan.
“Maaf ya Bu, Nathan baru bisa ke sini sekarang,” ucapnya.
“Tidak apa-apa Nak, ayo masuk,”
“Ini siapa Bu?” ucap Nathan yang melihat Melati.
“Ini yang sering ibu ceritakan di telpon,” sahut ibu Ratna.
“Melati? Hai saya Nathan anak Ibu Ratna,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Saya Melati Mas, Ibu Ratna sangat baik karena sudah mau menolong saya,” ucap Melati dengan aksen khasnya.
“Panggil Nathan saja jangan Mas,” sahut Rama tersenyum ramah.
__ADS_1
"Baik Nathan," ucap Melati sedikit malu.
Mereka bertiga asyik berbincang, beberapa kali pandangan Nathan terus mengarah ke Melati.
“Kenapa kamu naksir ya?” bisik ibu Ratna.
“E-enggak kok Bu,” sahut Nathan.
“Mulut bisa berbohong tapi tidak dengan matamu,” ucap Ibu Ratna tersenyum.
Mendengar ucapan Ratna, Nathan hanya tersenyum malu.
“Ada apa to Bu kok bisik-bisik?” tanya Melati.
“Nggak ini si Nathan katanya besok mau ajak jalan-jalan,” ucap Ibu Ratna.
“Bu, aku nggak ada bilang mau ajak jalan,” bisik Nathan.
Ibu Ratna hanya tertawa melihat ekspresi Nathan yang sedikit canggung.
“Ayo kita makan siang dulu,” ajak Ibu Ratna.
“Melati kamu kok melamun?” tegur Nathan.
“Ohh ... tidak apa-apa,” sahut Melati sambil tersenyum.
“Apa kamu merasa tidak enak badan?” tanya Nathan sambil meletakkan tangannya ke dahi Melati.
“Tidak Nathan saya baik-baik saja, Cuma agak sedikit pusing.”
“Ya sudah kalau begitu kamu istirahat di kamar, jangan di paksakan,” ucap Ibu Ratna.
"Baik Bu, kalau begitu saya permisi ke kamar dulu," ucap Melati.
"Apa perlu aku antar?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Tidak perlu, saya masih bisa berjala," sahut Melati dengan lembut.
Melati berjalan menaiki anak tangga dengan perlahan, saat berjalan ia terus memikirkan orang tuanya.
Maafkan Melati Bu, Pak. Melati ingin anak ini tetap hidup. Gumam Melati dalam hati.
Melati membaringkan tubuhnya di kasur, sambil sesekali mengelus perutnya. Mata Melati mulai berkaca-kaca ketika ia merindukan orang tuanya, sesekali Melati tersenyum ketika teringat dengan kasih sayang dari Ibunya.
Di ruang tamu, Nathan dan ibunya tengah asyik berbincang hingga beberapa pertanyaan keluar dari mulut Nathan.
“Bu, apa ibu sudah cari tahu tentang keluarga Melati?” tanya Nathan.
“Ibu sudah sering bertanya, namun dia tidak mau menjawabnya,” sahut Ibu Ratna.
“Aku kasihan dengannya, untung saja Ibu yang menemukannya jika orang lain mungkin nasibnya akan berbeda,” tutur Nathan.
“Tapi Ibu senang dia di sini, jadi Ibu ada teman ngobrol, apa lagi dia sedang hamil nanti akan ada tambahan anggota keluarga baru lagi,” ucap Ibu Ratna penuh harap.
“Maaf ya Bu, Nathan tidak bisa temani Ibu setiap hari.”
“Tidak apa-apa yang terpenting sekarang adalah masa depan kamu, lagian kan ada Melati,” Ibu Ratna tersenyum.
“Lalu bagaimana dengan suami Melati Bu?” tanya Nathan.
“Suaminya meninggal, kenapa kamu mau jadi pengganti suaminya?” sahut Ibu Ratna sambil melirik Nathan.
“Ibu, Nathan kan cuma tanya saja,” sahut Nathan malu.
“Ibu sangat paham sikap anak ibu sendiri, jika kamu menginginkan sesuatu pasti kamu akan bertanya terus menerus,” tutur Ibu Ratna.
“Ibu menerima semua keputusanmu Nathan asalkan kamu bahagia, Ibu juga bahagia,” sambungnya lagi.
Nathan hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya karena malu kepada Ibunya.
“Terima kasih ya Bu, selama ini Ibu selalu mendukung apapun yang Nathan kerjakan,” ucap Nathan dengan tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama, sekarang kamu istirahat saja kamar kamu sudah Ibu bersihkan."
"Iya Bu Nathan ke atas dulu ya, mau taruh barang-barang yang ada di mobil," Nathan beranjak dari tempat duduknya.