ILMU HITAM

ILMU HITAM
Tali Pocong Wanita Hamil


__ADS_3

“Apa kau sudah mendapatkan apa yag aku minta Barjo?” Suara besar dan lantang terdengar jelas.


“Aku sudah mengambilnya, sesuai permintaanmu. Mengambil pada manusia yang masih hidup,” sahut Barjo.


“Ha-ha-ha,” dia tertawa senang.


“Tapi untuk apa kelopak mata? Bukankah hanya memerlukan kuku dan rambut?”


“Ketika matanya selalu terbuka saat dia mati maka jiwanya akan terperangkap saat itulah aku akan menariknya ke alamku untuk menjadi budakku,” tuturnya.


“Bungkus ketiga benda itu menggunakan kain hitam, gantungkan ke lehermu!” ucap Suara itu.


Suara itu pun menghilang, rumah Barjo kembali senyap hanya terdengar beberapa suara hewan malam yang menggema di area hutan.


Barjo berdiri dan mengambil sepotong kain hitam, ia membuat kantung kecil berbentuk kotak lalu menyelipkan ketiga benda itu di dalamnya dan menggantung benda itu di lehernya.


Saat mengenakan kalung hitam itu, Barjo merasakan sebuah energi besar mengalir ke tubuhnya. Barjo mengambil belati yang ada di sakunya dan menusukkan berulang kali ke perutnya. Ajaibnya belati itu sama sekali tidak melukainya.


Mengetahui hal itu Barjo tertawa senang, pikirnya dengan begitu ia akan semakin mudah mencelakai satu persatu warga desanya.


Lain halnya denga situasi di desa, berbagai kejadian terus terjadi akibat ulah Barjo yang sudah gelap mata dan hati semuanya di tutupi oleh dendam serta hasutan iblis. Para polisi kewalahan menangani kasus demi kasus yang ada di desa itu bahkan rumor desa itu telah dikutuk juga sudah menyebar, ke desa-desa lain.


Beberapa warga memilih pindah dari desa itu dan menetap di desa lain. Kini desa yang penduduknya ramai sekarang menjadi sepi, tidak ada yang berani keluar rumah saat malam hari bahkan ada yang menggantung berbagai jimat di depan pintu rumah mereka.


Sama seperti warga lain, Tejo yang semakin ketakutan memutuskan untuk pergi ke seorang dukun yang berada di desa sebelah yang bernama Mbah Sirah. Ia ingin meminta jimat agar bisa terhindar dari mara bahaya.


Ia mendapatkan informasi dari beberapa warga bahwa di desa sebelah terdapat dukun yang sakti.


Dengan mobilnya Tejo melaju menuju desa tempat Mbah Sirah berada.


Saat Tejo datang terlihat pria separuh baya dengan jenggot panjang duduk di depan rumahnya.

__ADS_1


Tejo pun turun dari mobil dan menyapa pria itu.


“Apa benar ini rumah Mbah Sirah?” tanya Tejo.


“Saya Mbah Sirah, mari masuk dulu,” sahutnya.


Tejo pun masuk ke dalam rumah Mbah Sirah, ia langsung duduk di sofa dan mengatakan niatnya untuk meminta jimat.


“Begini Mbah saya butuh jimat agar bisa terhindar dari mara bahaya, teluh dan lainnya,” ucap Tejo.


“Syaratnya cukup berat apa kamu sanggup?” tanya Mbah Sirah.


“Apa saja saya sanggup Mbah,” sahut Tejo.


“Kamu harus mencari tali pocong wanita hamil yang meninggal pada malam jumat kliwon dan ingat saat mengambil tali pocong itu jangan menggunakan tangan lalu bunga tujuh rupa, ayam cemani,” tutur Mbah Sirah.


“Kalau tidak pakai tangan lalu pakai apa Mbah?” Tejo sedikit bingung.


Mendengar syarat yang tidak masuk akal itu Tejo terdiam dan berpikir keras, karena Tejo sendiri termasuk pribadi yang takut dengan makhluk gaib dan sejenisnya.


“Bagaimana apa kamu sanggup?” Mbah Sirah bertanya kembali.


“Ba-baik Mbah akan saya coba,” sahut Tejo.


“Untuk bayarannya berapa Mbah?” tanya Tejo lagi.


“Kamu cari saja dulu syarat yang aku pinta, jika kamu bisa mendapatkannya akan aku beritahu tarifnya,” sahut Mbah Sirah.


“Dan satu lagi, aku tidak bertanggung jawab dengan apa yang akan terjadi nantinya terhadapmu!” sambung Mbah Sirah.


“Saya akan menanggung semua konsekuensinya apa pun itu,” ucap Tejo dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


“Bagus,” Mbah Sirah menganggukkan kepalanya.


Tejo pun berpamitan dengan Mbah Sirah, ia langsung masuk ke dalam mobil dan kembali pulang ke desanya.


Sesampainya di rumah Tejo memanggil semua bawahannya untuk berkumpul.


“Kalian semua cari informasi ke seluruh desa tentang wanita hamil yang meninggal pada jumat kliwon, jika ada yang mendapatkannya maka akan aku beri imbalan yang setimpal!”


Mendengar perintah dari Tejo para bawahannya pun bingung untuk apa informasi aneh tersebut, namun mereka tidak berani bertanya lagi kepada Tejo mereka hanya bisa mengiyakan perintah dari Tejo.


“Paham kalian semua?” Tejo meninggikan suaranya.


“Paham Den Tejo,” sahut mereka serentak.


“Sekarang kalian bubar!”


Para bawahan Tejo membubarkan diri saat melihat Tejo masuk ke dalam rumahnya mereka mulai salin bertanya satu sama lain.


“Untuk apa Den Tejo mencari wanita hamil yang sudah meninggal? Bukankah yang masih hidup banyak di desa ini, bening-bening pula,” ucap salah satu bawahan tejo.


“Kamu ini kalau urusan wanita nomor satu,” sahut yang lain.


“Aku rasa Den Tejo mau mengambil tali pocongnya, atau mungkin tanah kuburannya.”


“Tali pocong?” teriaknya.


“Ssssttttt! Jangan keras-keras!”


“Yang pernah aku dengar tali pocong wanita hamil yang meninggal tepat pada malam Jumat Kliwon itu sangat susah dicari dan biasanya digunakan sebagai jimat,” tutur salah satu bawahan Tejo.


“Tapi setahuku, si pengguna akan banyak tertimpa kesialan atau musibah,” sahut yang lain.

__ADS_1


Mereka semua tidak mengerti apa yang sedang direncanakan oleh Tejo, mereka pun mulai berpencar ke seluruh desa untuk mencari informasi.


__ADS_2