ILMU HITAM

ILMU HITAM
Cincin Pemberian Barjo


__ADS_3

“Kedatangan kami ke sini seperti yang Ki Damar telah mengetahuinya untuk melamar Melati!” ucap Pak Joko. 


“Baiklah Pak Joko, saya menerima lamaran dari Nak Tejo, dan saya pun sudah menghitung pasaran weton mereka Nak Tejo wetonnya Jumat legi sedangkan Melati itu Selasa pahing jadi jatuh satu bulan lagi tepatnya di Jumat pahing,” sahut Ki Damar yang menjelaskan kepada keluarga Tejo. 


“Kalau begitu kami selaku keluarga mengikut saja, Ki Damar yang paling mengerti tentang perhitungan pasaran ini,” ujar Pak Joko. 


“Kalau Nak Tejo sendiri bagaimana?” tanya Ki Damar.


“Saya mengikut saja Ki, asal dapat menikah dengan Melati.” 


“Baiklah kalau semua sudah setuju, Bu ... Bu ... Ini loh besan kita sudah datang,” Ki Damar yang memanggil istrinya. 


Ibu Lastri yang mendengar panggilan dari Ki Damar pun segera menghampiri sambil membawa minuman. 


“Silahkan diminum,” ucap Bu Lastri yang menyodorkan minuman ke keluarga Tejo. 


“Oya Pak Melati di mana?” tanya Lastri. 


“Di kamar Bu, coba ibu tenangkan anak itu dan suruh dia bertemu dengan calonnya!” perintah Ki Damar. 


Lastri pun meninggalkan percakapan mereka dan menuju ke kamar Melati yang telah di perintahkan oleh suaminya. 


“Nduk ... Nduk ....” Lastri yang memanggil anaknya sembari mengetok pintu kamar Melati. 


“Ya Bu masuk pintunya gak Melati kunci,” sahut melati. 


Lastri menghampiri Melati yang sedang menangis di atas tempat tidurnya, mengetahui hal tersebut Lastri pun menanyakan kepada Melati apa yang sebenarnya terjadi. 


“Ada apa sebenarnya Melati, sampai kamu menangis seperti ini?” tanya Lastri. 


“Bapak menolak lamaran Mas Barjo Bu.”


“Yah Bapakmu  tidak salah Melati semua penduduk desa telah mengetahui kalau kamu telah di jodohkan oleh Tejo, jika lamaran Barjo di terima Bapakmu akan sangat malu sekali kepada keluarga Tejo dan penduduk kampung di sini,” jelaskan Lastri kepada Melati. 


“Tapi Bu, melati tidak cinta Bu dari awal Melati menolak perjodohan ini tapi Bapak tidak pernah mendengarkan Melati. Bapak selalu mementingkan dirinya sendiri,” sahut Melati yang meluapkan semua isi hatinya. 


“Iya Nduk ibu tahu itu, tapi kamu tahu sendiri Bapakmu seperti apa. Apa yang dia mau harus dilaksanakan ibu sudah berusaha membantumu tapi semua sia-sia Nduk Bapakmu tidak mau mendengar ucapan ibu.” 


“Melati harus bagaimana Bu, Melati tidak cinta kepada Tejo.” 


“Ibu tidak bisa berbuat apa-apa Melati selain kamu mengikuti kemauan Bapakmu, dan semoga rasa cintamu kepada Tejo akan muncul seiring jalannya waktu.” 


Melati yang terdiam mendengar ucapan ibunya tidak bisa berkata apa-apa lagi hatinya sakit Ia harus menuruti kemauan orang tuanya menikah dengan orang yang ia tidak cintai. 

__ADS_1


“Ya sudah hapus air matamu, sambut besanmu nanti Bapakmu bisa marah kepadamu lagi.” 


“Iya Bu,” sahut Melati yang mengusap air matanya. 


Melati pun menuruti apa kata Ibunya ia keluar kamar dan mendatangi besannya dan juga Tejo calon suaminya.  


“Coba sini duduk Melati Bapak sudah menentukan pernikahanmu yang akan di adakan satu bulan lagi tepatnya di Jumat pahing,” kata Ki Damar yang menjelaskan kepada Melati. 


“Iya Pak,” sahut melati sambil menundukkan kepalanya menahan air matanya agar tidak jatuh. 


“Baiklah semua sudah setuju, Ki Damar kami pamit dahulu, nanti jangan segan-segan jika Ki Damar memerlukan sesuatu,” tutur Pak Joko sambil berpamitan. 


“Tenang saja Pak Joko,” sahut Ki Damar dengan tersenyum bahagia. 


Keluarga Tejo pun pergi meninggalkan rumah melati sembari berpamitan. Tejo yang mengulurkan tangannya di depan Melati. 


“Melati Tejo mau pamit, sebagai calon istri kamu harus patuh cium tangannya!” Perintah Ki Damar kepada Melati.


Dengan terpaksa Melati pun mengikuti perintah Bapaknya, dan dengan senang dan bangganya si Tejo.


“Tenang saja Melati aku akan menjadi suamimu  yang akan membahagiakanmu,” sahut Tejo dengan senyum menatap Melati. 


Setelah keluarga Tejo pergi Melati pun pergi ke kamarnya kembali menangis dan melepas kesedihannya. 


Malam mulai tiba sementara kondisi Barjo sendiri masih sangat sedih seharian Barjo tidak keluar rumah, Sugeng teman Barjo pun yang tidak melihat Barjo seharian ini berinisiatif untuk mendatanginya ke rumah. 


“Barjo ... Barjo ... Ini aku Sugeng!” 


Mendengar ada yang mengetuk rumahnya Barjo pun keluar untuk membukakannya. 


“Kenapa kau Barjo, seharian aku tidak melihatmu bagaimana lamaranmu apa di terima oleh Ki Damar?” tanya Sugeng yang penasaran. 


“Ayo masuk, kita cerita di dalam saja,” ujar Barjo yang mempersilahkan Sugeng untuk masuk.


“Aku di tolak Sugeng oleh Ki Damar, aku tidak pantas bersanding bersama Melati,” sahut Barjo yang menceritakan kepada Sugeng sahabatnya. 


“Sudahlah Barjo, aku tahu rasa lagi pula kita hanya golongan rakyat biasa sedangkan mereka keluarga terpandang mustahil untuk menerima.”


“Tapi aku mencintai Melati, dan aku berbuat hal yang tidak pantas aku harus bertanggung jawab Sugeng!”


“Jadi kau sempat melakukan itu, gila kau Barjo jika sampai Melati hamil bagaiman kasihan dia dan Ki Damar akan marah besar terhadapmu.”


“Yah aku tahu itu, maka dari itu aku ingin melamar Melati tapi di tolak aku bingung Sugeng apa yang harus aku lakukan sementara tadi keluarga Tejo sudah datang ke rumah Melati dan melamarnya.” 

__ADS_1


“Sudahlah Barjo, ikhlas kan Melati aku  tahu kalian berdua sama-sama mencintai tapi kalian tidak akan bisa bersama, semoga saja Melati dapat bahagia bersama pria pilihan Bapaknya itu,” ujar Sugeng yang menasihati Barjo. 


“Baiklah Sugeng aku akan mencoba, semoga Melati bahagia bersama Tejo. Bolehkah aku meninta tolong kepadamu Sugeng.” 


“Apa itu Barjo, aku kan sahabatmu aku akan membantumu sebisaku Barjo.”


“Di kotak perhiasan ini adalah peninggalan Almarhum ibuku, tolong berikan cincin ini kepada Melati dan sepucuk surat ini,” Barjo yang meminta tolong dan mengeluarkan cincin di dalam kotak perhiasan milik almarhum ibunya.


“Baik Barjo akan aku berikan cincin dan surat ini kepada Melati malam ini juga, aku akan mencoba mengetok jendela kamar Melati.”


“Jangan sampai Ki Damar tahu kau memberikan cincin ini kepada Melati.”


“Tenang semua beres percayakan kepada aku Barjo.”


Sugeng pun mengambil cincin yang  di berikan oleh Barjo lalu bergegas meninggalkan rumah Barjo. 


Kurang lebih 10 menit Barjo berjalan dan sampai di rumah Melati, ia mengendap-endap layaknya seorang maling agar tidak ketahuan oleh Ki Damar dan warga desa. 


Sugeng mulai menyelusuri pinggir rumah Ki Damar untuk mencari jendela kamar Melati, setelah menyelusuri akhirnya Sugeng menemukan jendela Melati. Sugeng pun mulai mengetok dan memanggil Melati dengan suara berbisik.


 


“Melati ... Melati, ini aku Sugeng,” ujar Sugeng yang memanggil Melati sembari celingak-celinguk agar tidak ketahuan oleh orang lain. 


Melati mulai mendengar suara Sugeng yang samar-samar berada di balik jendela. Tanpa pikir panjang Melati membuka jendela kamarnya yang kebetulan berada tepat di samping tempat tidurnya. 


Saat Melati membuka jendela ia pun terkejut ternyata itu Sugeng. 


“Ada apa Sugeng malam-malam kau kemari, jika sampai Bapakku tahu habis kau,” ujar Melati yang memperingatkan Sugeng.  


 “Aku di suruh Barjo memberikan ini kepadamu,” sahut Sugeng dengan nada berbisik agar tidak ketahuan Ki Damar. 


Melati pun menyambut cincin dan sepucuk surat yang di titipkan Barjo kepada Sugeng. 


“Terima kasih Sugeng dan sampaikan kepada Barjo bulan depan tepatnya Jumat pahing aku akan menikah oleh Tejo,” sahut Melati sambil meneteskan air mata.


 


“Bersabarlah melati jika Barjo adalah jodohmu kalian akan bersatu,” sahut Sugeng yang menenangkan Melati.


Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu kamar Melati. 


“Sugeng sudah kau pergi dari sini, Bapakku memanggil.” 

__ADS_1


Melati yang dengan cepat menutup jendela kamarnya lalu menyembunyikan surat dan cincin di tempat yang aman agar Bapak dan ibunya tidak tahu.


jangan lupa like, komen atau pun vote ya


__ADS_2