
Ki Damar terus saja memaksa Melati untuk menceritakan siapa sebenarnya Bapak dari anak yang ia kandung tersebut.
“Melati siapa Bapak dari anak yang kau kandung itu? kalau kau tidak menjawab kau akan tahu sendiri akibatnya!” ancam Ki Damar.
“Jawab Melati! jangan sampai Bapakmu naik pitam,” bujuk Lastri Ibu Melati.
Melati sangat bingung apa yang mesti ia katakan sementara Tejo sangat kecewa dengan keadaan Melati saat ini, Tejo hanya diam ingin mendengar pengakuan dari Melati.
“Melati kau dengar kata Bapak, siapa Bapak dari anak itu?” Bentak dan ancam Ki Damar kepada Melati.
Akhirnya dengan terpaksa Melati pun menjawab pertanyaan dari Bapaknya.
“Ayo Nduk jawab pertanyaan Bapakmu,” Bujuk Lastri.
“Mas Bar-Barjo Pak,” sahut Melati dengan nada yang pelan di sertai air mata yang menetes tak dapat di bendung lagi olehnya.
“Barjo!” Ki Damar yang terkejut mendengar nama itu.
“Biar Tejo saja yang selesaikan Ki, si Barjo itu!” kata Tejo menaruh benci terhadap Barjo.
“Ya kau uruslah si Barjo Tejo, bikin malu saja kau Melati kau bikin malu nama Bapakmu di hadapan Tejo dan keluarganya!”
Melati hanya menangis di pelukan ibunya ia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Sementara Tejo yang berusaha menenangkan keadaan ini.
“Begini Ki Damar, Tejo benar-benar mencintai Melati, Tejo akan menikahinya dan tidak akan memberitahukan orang tua Tejo tapi ada syarat yang harus dipenuhi. Gugurkan kandungan Melati Tejo tidak ingin menjadi Bapak dari anak itu!” Tejo yang memberi pilihan yang sangat sulit untuk di pilih.
“Tapi anak itu tidak salah apa-apa Nak Tejo,” sahut Ki Damar.
__ADS_1
“Terserah Ki Damar mau menanggung malu dari penduduk desa atau mengikuti saran dari Tejo,” Tejo menegaskan kembali ucapannya.
“Baiklah anak yang ada di perutmu itu harus di gugurkan Melati, Bapak tidak mau menanggung malu di desa ini karena ulahmu.”
“Pak sadar Melati itu anakmu dan anak yang di kandung Melati tidak salah, kalau Tejo tidak mau menikahi Melati terima lamaran Barjo,” Lastri yang tidak terima anaknya di perlakukan seperti ini.
“Bu kau tahu, undangan sudah Bapak sebar ke kerabat bapak dan seluruh penduduk desa di sini apa jadinya kalau yang menikahi Melati bukan Tejo. Bapak malu Bu malu! mau di taruh mana muka bapak ini dan apa kata orang nantinya,” sahut Ki Damar yang kesal.
“Pokoknya Bapak ikuti saran dari Tejo gugurkan anak yang dikandung Melati! Bapak tidak mau mendengar alasan apapun,” Ki Damar yang memaksa Melati untuk menggugurkan kandungannya.
Setelah mengucapkan hal itu Ki Damar keluar dari kamar melati dan duduk di ruang tamu, Tejo pun mengikuti Ki Damar ia ingin membicarakan sesuatu kepada Ki Damar.
“Ki Tejo akan ke rumah Bi Minah, meminta kepada Bi Minah dukun beranak itu untuk menggugurkan kandungan Melati,”
“Saya yakin Barjo yang memaksa Melati agar bisa menikahi Melati dan menjadi ahli waris dari keluarga Ki Damar.” Tejo yang memfitnah Barjo kepada Ki Damar membuat suasana tambah memanas.
“Seperti apa yang kau bilang itu benar Melati tidak akan mungkin melakukan hal yang memalukan ini,” Ki Damar yang terhasut dengan ucapan Tejo.
“Baik Ki, Tejo pamit dahulu.”
“Terima kasih Nak Tejo atas bantuannya.”
Tejo pun pergi meninggalkan Ki Damar. Sebenarnya Tejo sudah merencanakan sesuatu untuk Barjo tanpa mereka semua mengetahui niat jahat Tejo di balik semua itu.
Sebenarnya Tejo sudah menaruh rasa benci terhadap Barjo, karena Melati lebih memilih Barjo ketimbang dirinya. Kesempatan ini di gunakan sebaiknya oleh Tejo untuk menyingkirkan Barjo selamanya, menjadikan Melati istrinya dan menjadi pewaris tunggal dari harta Ki Damar.
__ADS_1
Sementara Melati yang berada di kamar tidak henti-hentinya ia menangis. Lastri ibunya merasa sangat kasihan terhadap nasib anaknya ia mencoba menenangkan Melati, Lastri pun tidak bisa berbuat apa-apa karena semau kendali yang memegang adalah Ki Damar.
“Sabar yah Nduk, maafkan Ibu tidak bisa membantumu, ibu sedih melihat kondisimu seperti ini namun ibu tidak bisa berbuat apa-apa Nduk,” Lastri yang merasa bersalah menjadi seorang ibu yang tidak berguna untuk Melati.
“Ibu tidak salah, ini salah Melati mengkhianati kepercayaan kalian berdua,” sahut Melati sambil memeluk Ibunya.
“Ibu hanya bisa berdoa semoga semua ini ada jalan yang terbaik untukmu,” Lastri yang menenangkan anaknya secara lembut sembari mengusap-usap rambut Melati.
Selang beberapa menit Ki Damar pun datang lagi ke kamar Melati.
“Sudahlah Bu tinggalkan Melati sendiri, biarkan dia meratapi kesalahannya,” Ki Damar yang menarik tangan istri untuk keluar kamar Melati.
“Pak! Melati ini anakmu Pak kenapa kau perlakukan dia seperti ini,” Lastri yang membela Melati.
“Dari dulu kau yang terlalu memanjakannya akhirnya jadinya seperti ini kan bikin malu orang tua atas perbuatannya.”
“Melati itu anakku Pak darah dagingku aku ibunya, wajar aku membela dan melindunginya.”
Mendengar perdebatan orang tuanya membaut Melati tambah bersalah.
“Bu, Pak maafkan Melati gara-gara Melati Bapak menanggung malu dengan Mas Tejo. Tapi di sisi lain anak ini darah daging Melati Pak, melati menyangyanginya dan lagi pula dia tidak bersalah Pak. Melati mohon biarkan anak ini tetap hidup,” sahut Melati yang memohon kepada Bapaknya.
“Tidak! Tejo sudah urus semuanya, ayo Bu keluar dari kamar Melati,” Ki Damar yang kembali menarik tangan Lastri dengan kencang berhasil membawa Lastri keluar dari kamar Melati.
Melati hanya bisa meluapkan kesedihannya di kamarnya. Paras ayu Melati terlahir dari keluarga terpandang dan kaya tidak sepenuhnya membuat ia bahagia. Aturan demi aturan yang harus Melati turuti agar tidak membuat malu nama keluarganya. Sementara Bapaknya Ki Damar hanya mementingkan ego dan hargadirinya, ia tidak ingin mengetahui perasaan anak semata wayangnya.
__ADS_1
Apakah ego dan harta yang akan mengalahkan cinta yang tulus??