
Hari dimana Melati melahirkan pun tiba, wajah cemas terpancar jelas dari Nathan dan juga Ibunya. Nathan terus mendampingi Melati, ia selalu berada di samping Melati dan terus menggenggam tangan Melati.
"Aduh Mas, perutku sakit sekali," eluh Melati.
"Tenang Melati, Mas ada di sini menemanimu," sahut Nathan sambil mengelus kening Melati.
Erangan kesakitan menggema di seluruh ruangan, Melati berjuang untuk melahirkan anaknya, Melati tak hentinya menggenggam erat tangan Nathan. Hingga terdengar suara tangisan seorang bayi.
Tangis haru serta bahagia terlihat dari wajah Nathan dan Melati. Nathan juga seakan takjub dengan perjuangan berat wanita untuk melahirkan seorang anak dari situ ia berpikir ia harus lebih memperhatikan dan membahagiakan Melati.
Melati telah melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik, parasnya begitu manis dan menggemaskan. Perawat langsung menaruh bayi tersebut di samping Melati usai di bersihkan.
Dokter dan perawat pun keluar ruangan sambil membawa semua peralatan yabg telah digunakan.
Melati tersenyum dam terus memandangi wajah putrinya itu, hal itu membuatnya teringat kembali kepada Barjo yang ia sangka telah meninggal.
“Mas Barjo, anak kita sudah lahir. Mata dan hidungnya sangat mirip denganmu, akhirnya perjuanganku selesai,” gumam Melati dalam hati.
“Dia sangat cantik, sama sepertimu Melati,” puji Nathan.
“Kamu ini Mas bisa saja,” sahut Melati.
__ADS_1
“Aku sangat beruntung memilikimu Melati,” Nathan mengecup kening Melati.
“Lalu bayi cantik ini akan kita beri nama siapa?” tanya Nathan.
“Kenanga dan aku ingin memberikan nama Bapak yaitu Damarekso di belakang namanya,” ucap Melati.
“Bagaimana jika Kenanga Widyaning Damarekso?” usul Nathan.
“Bagus, kita ambil nama itu saja,” sahut Melati.
Nathan sedikit cemas melihat wajah istrinya yang semakin lama semakin pucat.
“Tidak Mas aku hanya mengantuk dan ingin tidur, oh iya jika nanti aku pulang tolong simpan benda yang ada di laci kamarku, dan kelak jika Kenanga sudah besar berikanlah benda itu kepadanya,” ucap Melati dengan tubuh dan wajah pucatnya.
“Kamu ini bicaranya aneh sekali, kita pasti akan pulang setelah kamu pulih. Ya sudah kamu istirahat saja. Mas akan duduk di sofa agar kamu tidak terganggu,” ucap Nathan.
Perawat pun datang kembali untuk menaruh sang bayi ke ruang khusus, sedangkan Melati perlahan memejamkan matanya dan tertidur.
Sedangkan Nathan duduk di sofa, sambil terus memandangi Melati.
Tidak sampai lima menit Nathan kembali menghampiri Melati, Nathan merasa ada yang aneh. Wajah Melati semakin pucat namun dengan bibir yang tersenyum ia pun mencoba memegang tangan Melati.
__ADS_1
“Melati kenapa tanganmu dingin sekali?” tanya Nathan.
“Melati? Melati?” Nathan mencoba membangunkan Melati.
Karena merasa tidak tenang ia pun berlari keluar untuk memanggil dokter, ia juga menemui Ibunya yang berada di luar ruangan untuk menerima telepon dan memberi tahukan kondisi Melati.
"Bu, Melati Bu!" ucap Nathan panik.
"Melati kenapa?"
"Nathan panggil dokter dulu Bu!" ucapnya sambil berlari.
Dokter dan para perawat pun datang, dengan cepat Dokter memeriksa kondisi Melati.
Nathan sangat cemas menunggu di luar ruangan bersama Ibunya karena tidak diperbolehkan masuk.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Ibu Ratna terlihat cemas.
“Kita bedoa saja ya Bu semoga Melati baik-baik saja,” ucap Nathan dengan pasrah.
Mata Nathan sudah berkaca-kaca, sesekali ia menghapus air matanya yang tak kuasa terbendung beberapa kali ia menghela nafasnya rasa sesak di dadanya begitu terasa.
__ADS_1