
"Ahh iya, saya sudah mendengar kabar itu dari Jacob. Tuan bersabarlah sedikit lagi untuk bisa pulih 100%."
"Iya."
Panggilan berakhir.....
Setelah beberapa hari, tiba waktunya untuk Dhafin membuka perban dimatanya. Jacob datang secara langsung ke rumah Dhafin agar dia tidak perlu bersusah payah ketempatnya.
Tidak butuh waktu lama, Jacob langsung membuka perban yang menutupi mata Dhafin. "Bukalah matamu secara perlahan."
Dhafin membuka matanya dengan penuh hati-hati. "Ahhh, aku bisa melihat dengan sempurna lagi!. Benarkah ini berhasil?!."
Jacob bertanya "Sungguh?, apa penglihatanmu normal?. Bagaimana perasaanmu?."
"Iya penglihatanku seperti kembali ke setingan awal, sudah tidak sakit dan aku bisa menggerakkannya!."
Jacob tersenyum dan berkata "Syukurlah, untuk berjaga-jaga sementara waktu, kamu tidak boleh menyentuh matamu dengan kasar. Kalau kemasukan debu jangan dikucek, usahakan jangan keluar dulu agar terhindar dari debu."
Sambil mengeluarkan kacamata Jacob melanjutkan "Pakailah ini saat mandi agar air tidak masuk kedalam matamu."
Dhafin mengambilnya "Oke, aku akan memakainya."
Sambil membolak-balikkan kacamata itu Dhafin berkata "Kenapa ini terlihat seperti kacamata renang biasa?.”
Jacob menjawab dengan wajah datar "Itukan.. memang kacamata renang...."
"Uh...."
__ADS_1
______________________________________________
Dengan cepat 3 bulan telah usai, mata kiri Dhafin sudah bisa digunakan seutuhnya, hanya saja untuk beraktifitas diluar dia selalu menggunakan lensa mata hitam untuk menutupi mata kirinya yang aneh. Saat berjalan juga dia sudah tidak terlalu bergantung pada tongkat.
Rumah yang dia pesan pun sudah selesai, dan sudah ditinggali olehnya dan para pembantu. Rumah lamanya tidak dijual dan tetap dibiarkan berdiri, untuk lab juga sudah diisi dengan barang-barang yang diminta, Dhafin tinggal menggunakannya!.
Setiap sehabis mandi dan dia melihat kearah cermin, dia masih tidak percaya dengan tubuhnya yang utuh kembali walaupun tidak sama sepenuhnya. Dia sudah memiliki segalanya, hanya saja dia hanya bisa merasakan itu semua sendirian, tanpa adanya teman ataupun keluarga.
Dhafin merasa tangan dan kakinya sudah tidak butuh rehabilitas lagi, tapi jacob masih belum mengizinkannya untuk bersekolah dan tetap memaksa bahwa Dhafin hanya boleh masuk sekolah saat kelas 3. Jacob berkata demikian bukan tanpa alasan, dia hanya ingin Dhafin lebih terbiasa lagi dengan bagian tubuh baru yang diterimanya.
Untuk mengisi waktu luang, Dhafin selalu menghabiskan waktunya di lab untuk membuat sesuatu yang mungkin bermanfaat.
Dipercobaan pertamanya ini, dia mencoba untuk membuat peluru. Dia menamainya MUB (Messed Up Bullet/Peluru Kacau Balau), yaitu peluru yang bisa meledak setelah berhenti melaju. Itu peluru yang sangat berbahaya, saat peluru itu mendarat didalam tubuh makhluk hidup, dia akan langsung meledak didalamnya.
Dia mengerjakan itu secara rahasia, tentu saja lab itu sudah kedap suara. Saat sudah selesai, Dhafin menguji peluru itu pada ballistic gel yang berbentuk sedemikian rupa seperti manusia dilengkapi dengan replika organ dalam.
Pada percobaan pertama, Dhafin menembakan peluru itu tepat menuju jantung. Benar saja, jantungnya langsung hancur meledak.
Dhafin masih membutuhkan beberapa waktu tambahan untuk menyempurnakannya, saat sudah siap dia berusaha menghubungi pemerintah. Karna perusahaan miliknya sudah banyak terlibat dalam proyek pembangunan pemerintah, tak butuh waktu lama presiden langsung menyetujui untuk bertemu dengannya. Dhafin juga meminta agar menteri pertahanan turut dihadirkan nanti.
Keesokan harinya, semua sudah berkumpul di tempat yang tidak diketahui siapapun. Dhafin langsung mempresentasikan buatannya itu, dan langsung menunjukan cara kerjanya.
Semua yang melihat itu ketakutan sekaligus kagum kepada anak yang baru lulus jenjang sekolah menengah dan sudah bisa membuat hal rumit seperti itu, mereka takut karna cara kerja benda itu terkesan sadis. Tapi benda itu sangat bagus jika digunakan pihak pertahanan negara, sang presiden langsung berdiri dan mengulurkan tangannya "Dik Dhafin, saya akan mendanai semua keperluan penelitianmu. kami juga akan membayarnya dengan membeli, maukah kamu menerimanya?."
Dhafin sangat senang karna buatannya itu diterima oleh presiden dan menteri pertahanan negara "Benarkah?!, anda tidak berbohong kan?."
"Tidak, untuk kedepannya kami meminta jangan hanya membuat benda pada satu bidang. Buatlah sesuatu yang bermanfaat pada bidang lain seperti medis dan transportasi agar kejadian yang menimpamu dulu tidak terulang dimasa mendatang."
__ADS_1
Dhafin mengangguk perlahan dan membungkuk dengan rasa hormat, "Kalau begitu saya permisi dulu pak." Dhafin berjalan keluar meninggalkan ruangan dan segera pulang, sesampainya dirumah dia segera membuat peluru itu lagi dalam jumlah yang lumayan banyak. Dia akan membuat 10 kotak dulu, masing-masing berisi 50 butir peluru.
Dalam waktu 3 hari Dhafin menyelesaikan peluru-peluru itu dan langsung menyerahkannya ke badan pertahanan negara, saat itu presiden juga sedang ada disitu untuk melihat-lihat. "Apakah kamu membuat ini semua secara manual?."
"Iya pak, saya belum memiliki mesin yang bisa mengerjakannya secara otomatis."
"Hmm, buatlah sesuatu pada rumahmu agar bisa melakukannya, untuk dananya hubungi aku nanti."
"Tapi pak, sepertinya uang dari perusahaan sudah cu-" Perkataan Dhafin langsung dipotong oleh pak presiden sesaat sebelum selesai "Sudah kubilang, urusan dana itu ada padaku."
"Ahh, baik pak, saya pamit dulu.."
Begitu sampai dirumah Dhafin masih harus berfikir keras bagaimana cara agar dia bisa memproduksi secara otomatis, tidak mungkin dia mengandalkan alat yang sudah ada saat ini karena benda yang akan dibuatnya itu belum pernah ada dan akan sangat kompleks.
Berhari-hari Dhafin berfikir sampai akhirnya dia meminta kepada pak presiden untuk meminjam komputer dengan teknologi paling tinggi, tanpa dipinjamkan lagi, Dhafin langsung diberikan satu set komputer berkecepatan tinggi.
Dhafin menggunakan komputer itu untuk memprogram sebuah super A.I yang akan mengurus semua informasi dirumahnya nanti. Setelah jadi dan selesai, Dhafin menanamkan otak (A.I) itu dirumahnya dan memprogramnya untuk bekerja secara otomatis, Dhafin memberikannya nama zero. Dhafin juga langsung merombak sebagian besar rumahnya dengan berbagai gadjet terbaru Dhafin juga membuat suatu alat yang berbentuk seperti tabung sebesar tubuh orang dewasa lebih sedikit.
Alat itu bisa diprogram untuk menciptakan sesuatu secara otomatis dan cepat, asal program terperincinya sangat jelas, tapi Dhafin tidak khawatir karna tugas itu akan dibantu oleh asisten virtualnya nanti. Dhafin juga bisa dengan mudah membuat pemancar hologram, dan dia pasang di segala sudut ruangan laboratorium. Tidak lupa Dhafin juga menyerahkan itu ke pihak pemerintahan.
Setelah semua selesai, Dhafin bisa mudah mencetak peluru dengan jumlah yang dia mau.
"Zero..."
"Ya tuan?.”
"Aku ingin membuka projek baru, bisa kah kamu membantu mengamatinya?."
__ADS_1
Dhafin melanjutkan, "Aku ingin membuat sesuatu yang berguna untuk pengobatan para tentara, tampilkan semua tentang nano material yang kamu ketahui dilayar!."
"Baik tuan, ini semua adalah informasi tentang material nano yang diminta."