
Setelah itu Dhafin meminta mereka untuk mengundur jadwal belajar mereka, dia juga akhirnya mengajak Erina untuk pulang dengan berkata "Pulang yuk ah, aku gasuka pake baju yang basah kayak begini."
Dengan ekspresi heran Erina bertanya "Lagian kenapa bajumu bisa basah banget sih?, kayak orang yang habis kecebur di saluran pembuangan air."
"Jangan salahkan aku, memang tubuhku saja yang mudah berkeringat!."
***
Dhafin dan Erina sudah sampai dirumah, begitu mereka tiba didepan pintu Erina berbicara "Aku baru tau kalau kamu bisa main basket."
Dhafin tertawa kecil lalu menjelaskan "Ya... Gimana ya, aku memang sudah lama tidak bermain lagi jadi sangat wajar kalau kamu gak tau."
Wajah Erina berubah menjadi pancaran kagum kemudian berkata "Whoa, udah lama gak main tapi masih bisa gerak selincah itu?. Cita-cita kamu jadi atlet basket kah?, atau sejenisnya?."
Dhafin menggelengkan kepalanya dan menjawab "Enggak, aku hanya suka karna dulu sering memainkannya bersama Dafa. Gerakanku yang seperti itu hanya karna bakat, aku bisa meniru pergerakan seseorang hanya dengan beberapa kali lihat dan kecepatanku itu sudah bawaan dari lahir." dia melanjutkan "Bagiku yang sudah punya bisnis sendiri ini sudah tidak perlu cita-cita tau hahaha."
"Hmm gitu ya, eh yasudah sana cepat masuk dan ganti bajumu!. Mandi juga!, tubuhmu bau semua." Erina kemudian mendorongnya masuk kedalam, sedangkan Dhafin mengumpat pelan saat didorong "Dasar, padahal kamu yang mengajakku berbicara didepan pintu."
Erina membalas dengan menambah kekuatan pada dorongannya "Sudah sana cepat dasar bau!."
"Iya iya."
Dhafin teringat sesuatu didalam kepalanya 'Sial, harusnya aku pergi ke fasilitas sekarang!.' tapi dia tidak mempedulikannya dan masuk kedalam untuk membersihkan diri.
***
__ADS_1
Saat malam tiba, Dhafin berniat untuk mengajak Erina makan malam diluar. Dia mengumpulkan keberanian sampai akhirnya siap untuk mengajaknya, dia mencari Erina yang sekarang entah berada dimana. Dhafin menemukan Erina setelah berkeliling beberapa saat di atap rumah "Rin, kamu ngapain disini?. Bukan lagi mau nyoba cosplay superman kan dengan cara lompat dari sana?."
Erina terkejut mendengar suara Dhafin sampai akhirnya dia menoleh kebelakang lalu tertawa "Hahaha, enggak lah. Aku cuma liat bintang dari sini, kupikir rumahmu tempat yang bagus untuk melihat bintang. Disini gak terlalu terang, jadi masih banyak bintang yang terlihat."
Dhafin lupa!, dia lupa kalau Erina sangat menyukai bintang. Melihat Erna yang sedang asik menatapi langit Dhafin akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengajak Erina keluar, dia segera membuka ponselnya dan menghubungi Harold.
Setelah beberapa saat berbincang, Dhafin akhirnya kembali turun dan masuk kedalam. Erina tidak tau apa yang dipikirkannya, jadi dia tidak terlalu peduli.
Dhafin tiba-tiba kembali dengan memakai jaket sambil membawa snack dan minuman, dia menghampiri Erina lalu duduk disebelahnya dengan santai. Dia membawa jaket lain di bahunya dan memakaikannya ke tubuh Erina sambil berkata "Diatas sini dingin, lebih baik kamu memakainya."
Tentu saja Erina terkejut dengan perlakuan Dhafin yang tiba-tiba memakaikan jaket padanya, dia hanya bisa mengucapkan terimakasih dengan wajahnya yang tersipu malu.
Dhafin kemudian bertanya lagi setelah itu "Oh iya, bagaimana kamu bisa tau kalau ada tempat ini?. Seingatku aku belum pernah memberitahukannya padamu, aku benar kan?."
Erina lalu mengangguk "Iya, kamu memang belum pernah bilang. Aku tau karna gasengaja melihat tangga dipojokan itu, karna penasaran aku coba naik dan menemukan tempat ini."
Dhafin mengangguk dengan ekspresi wajah yang prihatin, biar bagaimanapun dia adalah wanita. Sudah kuat melalui itu semua adalah sesuatu hal yang sangat luar biasa bagi seorang wanita, Dhafin akhirnya memutuskan untuk menemani Erina diatap sampai dia puas. Dhafin mengeluarkan ponselnya untuk bermain game agar tidak bosan, setelah beberapa saat Erina mengajaknya untuk masuk kedalam karna waktu semakin malam.
***
Keesokan harinya mereka sekolah seperti biasa, jadwal belajar bersama mereka dimundurkan sangat jauh oleh Dhafin karna dia masih ada urusan setiap pulang sekolah, tapi syukurlah teman-temannya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
Dia bertanya kepada Erina saat jam istirahat "Rin, nanti malam mau ikut aku keluar?. Aku ingin menunjukan sesuatu padamu, bisa?."
Erina yang sedang duduk memakan camilan sambil menyempurnakan catatannya menjawab "Mau kemana?, tapi aku bisa aja sih, memangnya kamu ingin menunjukan apa?."
__ADS_1
Reno yang saat itu ada disana juga menyampuri "Wah-wah, kalian mau kencan nih?." sedangkan ekspresi Desi datar pada saat itu. Dhafin menjawab dengan nada membantah "Enggak lah!, cuma ada hal yang ingin kutunjukan aja kok."
Dhafin berpaling lagi kearah Erina dan bertanya untuk memastikan "Bagaimana?.". Erina kemudian mengangguk "Iya bisa kok, tapi jangan pulang terlalu larut, besok ada ujian praktik. Dhafin terkejut dengan ucapan Erina "Maksudmu ujian praktik?."
"Kamu beneran lupa?." Dhafin mengangguk, kemudian Erina menghela nafas panjang dan menjelaskan "Kan guru seni kita memberikan instruksi untuk membuat sesuatu yang berbentuk tiga dimensi, bahannya bebas dan diminta untuk membawanya dari rumah tergantung apa yang akan dibuat."
"Gitu ya, kamu mau buat apa?. Terus kamu juga no?." dia melanjutkan dengan menoleh kearah Desi.
Erina menjawab "Tentu saja rahasia, kalian akan tau besok."
Reno menjawab acuh tak acuh "Aku mungkin hanya akan membuat pesawat terbang dari kertas, itukan sudah termasuk tiga dimensi."
Sedangkan Desi terdiam melihat kearah atas seperti orang yang berfikir sangat dalam, lalu dia berkata "Eng... Aku belum kepikiran mau buat apa, mungkin besok aku akan... Entahlah."
"Kenapa kalian pada gajelas sih?, huft. Aku jadi semakin bingung mau buat apa."
Dhafin diam sejenak dan melanjutkan "Sudahlah, yang esok biarlah terjadi besok."
***
Dhafin dan Erina sudah dalam perjalanan pulang sampai akhirnya Dhafin berhenti melangkah dan berkata "Rin, aku mau menghubungi seseorang sebentar. Bisakah kamu menunggu?." Erina mengangguk kemudian Dhafin agak menjauh. Dhafin menghubungi Harold untuk menanyakan tentang persiapannya apakah sudah selesai, atau belum.
Suara terdengar sangat jelas diujung telfon, Harold menjawab dengan penuh rasa hormat, dia berkata bahwa semua persiapan sudah selesai tanpa ada cacat sedikitpun.
Dhafin mengangguk dan menjawab dengan puas "Baiklah, aku akan kesana pukul 7.30 malam nanti."
__ADS_1
"Siap tuan, hubungi saya saat anda akan berangkat."
Dhafin menutup telfonnya dan Erina mendekati sambil bertanya "Sudah?, ayo pulang." Dhafin mengangguk patuh dan mulai kembali melangkah.