IMPIANKU

IMPIANKU
ch.27 (Kerja Apa?)


__ADS_3

Dhafin mengemudikan mobil dengan cepat saat itu, sampai-sampai Reno berteriak ketakutan.


"Woy-woy, pelan-pelan!. Aku masih mau ngerasain jadi ayah, jangan ngajak mati dulu Dhafiiinnnn!.)


Dalam waktu kurang dari 30 menit mereka sampai dirumah Reno "Sudah sampai, yey!."


"Hah apa?!, sampai mana?, akhirat?."


Reno masih mual pusing karna cara Dhafin membawa mobil yang terkesan menantang maut "Kamu ini ada apa sih sampe ngebut gitu?." *Hik(cegukan).


"Adadeh, sudah ya aku pergi dulu."


*Ngeenggggg, suara terdengar sangat keras dari mobilnya saat bergerak dengan cepat.


"Anak itu... Cita-citanya jadi pembalap apa?."*ceritanya suara dalam hati, anggep aja gitu.


Dhafin juga langsung berkendara dengan cepat kerumah aslinya, dalam waktu 15 menit dia sampai dirumah yang terletak di distrik 10 itu.


Sampai disana, dia langsung kedalam dan menuju labnya.


"Selamat datang tuan, sudah lama semenjak terakhir kali anda disini." Sambut Zero dengan suara programnya.


"Ah iya, dari pada itu... Lebih baik kau buka projek baru sekarang, aku ingin ini selesai dalam waktu singkat!."


"Baik tuan, apa yang ingin anda kerjakan kali ini?. Ingin ditaruh dimana data projek ini?."


"Untuk sementara simpan saja di drive pribadiku, baiklah, ayo mulai."


"Pertama-tama, apa kamu bisa memperkecil skala barang elektronik?."


"Bisa, saya bisa membuat program untuk melakukannya, hanya saja itu memerlukan mesin tambahan. Dengan semua robot-robot otomatis ini saya bisa membuatnya dengan mudah dengan persetujuan anda."


"Buatlah."


Dhafin melanjutkan, "Kamu itu komputer, pasti kamu bisa mengerjakan beberapa hal dalam satu waktu. Untuk sekarang buatlah desain berbentuk gelang... balblabla....."


Dhafin berhenti saat sudah tengah malam, dan projek itu baru setengah jadi. Dia juga segera pulang karna akan sekolah nanti, untungnya jarang antara rumahnya dan rumah lainnya dekat, jadi Dhafin tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai dan tidur.


Keesokan harinya, dia dibangunkan oleh suara alarm yang keras. Saat baru turun kebawah dan ingin mandi, Erina datang menghampirinya. "Dhafin, aku menemukan ini di jajaran kotak belanjaan ku yang waktu itu tadi. Aku tidak ingat membeli sepatu mahal ini, apa kita tidak sengaja membawanya?." dia menambahkan "Kalau iya kita harus mengembalikannya!."


Kondisi Dhafin saat ini adalah hanya masih setengah sadar dan nyawanya belum terkumpul sepenuhnya, dia hanya diam sambil mengolah perkataan Erina "Ahhh sepatu itu, iya aku ingat. Aku memang membelinya, aku membeli benda itu diam-diam. Kupikir kamu menyukainya jadi aku beli." ucap Dhafin dengan wajah masih lesu, saat ini dia hanya berdiri lemas sambil mengumpulkan nyawanya "Kamu suka iyakan? kalau begitu simpan saja, jangan pedulikan harganya, aku mau mandi dulu nanti terlambat."


Erina hanya tersenyum dan mengucap terimakasih secara lembut sampai akhirnya Dhafin melanjutkan jalannya menuju kamar mandi.


Akhirnya mereka berdua telah selesai bersiap-siap dan berangkat, sesampainya distasiun wajah Dhafin terlihat sangat lesu dan pucat.


"Dhaf, kamu tidur jam berapa tadi malam?."


Ucap Erina sambil memberikan minuman isotonik.

__ADS_1


"Entahlah aku juga tidak ingat, mungkin aku akan tidur dikelas nanti. Bangunkan aku saat jam istirahat ya nanti."


"Ah iya." (Aih anak ini, padahal hampir setiap hari kerjaannya hanya tidur dikelas.)


***


Mereka sudah sampai distasiun sunway didekat sekolah, saat mereka jalan, Dhafin melihat geng peninggalan Daniel yang kelihatannya bertambah banyak sedang membuat masalah dengan anak kelas sebelah. Tapi Dhafin lebih memilih untuk mengacuhkannya, tapi tiba-tiba dia ditatap oleh salah satu dari mereka. Tapi sikap Dhafin hanya cuek dan menolehkan mukanya kearah lain lagi "Buang-buang waktu saja."


Mereka sampai sekolah dan bel masuk sudah berbunyi, benar saja sejak awal datang dan duduk di kursi Dhafin sudah tertidur sangat lelap.


***


Saat jam istirahat tiba, Erina menghampiri Dhafin untuk membangunkannya.


"Hei raja tidur, bangunlah."


Disamping itu seisi kelas membicarakan mereka yang sudah terlihat semakin dekat saja, tapi Erina acuh terhadap omongan mereka.


"Hah? sudah pulang?, ayoo."


*plukk, Erina memukul kepala Dhafin dengan niat menyadarkannya.


"Aduh, sakit tau.."


"Kamu malah kayak orang sakit jiwa."


"Oh iya, yaudah ayok kekantin. Aku lapar."


Saat sampai, ponsel Dhafin berdering secara tiba-tiba. Terlihat itu adalah panggilan telfon, dan itu dipanggil dari nomor yang tidak dikenal.


"Rina, sebentar ya.. Aku angkat ini dulu."


Erina hanya mengangguk dan Dhafin meninggalkannya mencari tempat sepi.


"Halo ini siapa?."


"Tuan, ini saya Zero."


Dhafin heran "Zero? kamu bisa melakukan panggilan?, seingatku aku tidak pernah memprogram mu seperti itu."


"Benar tuan, sejak awal program ku hanyalah perintah berkembang karna saya adalah (AI). Jadi panggilan ini saya pelajari sendiri dengan menciptakan informasi sosial media secara virtual."


"Benar juga ya, jadi ada apa?."


"Saya hanya ingin mengingatkan tentang pekerjaan yang anda minta kemarin, saja sudah berhasil membuatnya."


Dhafin menjawabnya dengan nada heran "Ha? kerja apa?."


Tiba-tiba Dhafin ingat kalau dia sedang mengerjakan projek baru untuk badan perlindungan negara "Ahh itu, iya aku ingat. Jadi kami sudah berhasil membuat simulasinya?, bagaimana hasilnya apa berjalan dengan baik?."

__ADS_1


"Iya tuan, perkiraan anda sangat tepat. Alat ini bekerja secara sempurna, tinggal memberi beberapa penyempurnaan desain saja."


"Baiklah, aku akan kesana sepulang sekolah nanti."


Dhafin kembali ketempat Erina "Ayo kita makaaann, aku traktir."


"Kamu emang yang neraktir setiap hari."


Dhafin seharian ini tidak melihat Reno, mungkin karna dia hanya tidur, akhirnya Dhafin memutuskan untuk bertanya "Rin, Reno mana kok dari awal dateng gak kelihatan?."


"Ayo duduk dulu, ngobrolnya dimeja jangan kayak anak kecil."


"Ah iya, pesan makanan dulu saja**."


Mereka akhirnya duduk dan Erina memberi tahu kepada Dhafin kalau Reno tidak masuk, dari keterangan yang diberikan oleh guru dia sakit perut karna semalam.


Dhafin langsung menyemburkan minumannya 'lagi'


*Reno sakit karna cara membawa mobil Dhafin yang tidak sopan*


(Sial, jangan-jangan...) ucap Dhafin dalam hati.


"Oh iya Rin, nanti pas pulang aku ada urusan lagi sama jacob."


"Terus aku harus apa?."


Dhafin hanya tertawa malu "Hehe aku hanya memberi tahu."


Erina menjawab dengan nada penasaran "Sebenarnya ada apa kamu sama dia?."


"Cuma ada bisnis."


"Bisnis apa?."


Dhafin menjawab dengan enteng "Bisnis is bisnis."


"Terserah kamu aja deh." ucap Erina yang langsung mengacuhkan Dhafin


"Yah.. marah pasti."


"G."


"Ah gitu:(."


***


Akhirnya mereka sudah tiba dirumah, dan Dhafin langsung ganti baju serta mengambil kunci mobilnya. Kali ini dia pergi menggunakan BMW seri 7 miliknya yang pasti kecepatannya itu..... sudahlah.


Dhafin tentunya akan membawanya dengan sangat cepat, Dhafin langsung pergi setelah ganti baju tanpa memberi tahu siapapun lagi.

__ADS_1


Dia sampai dalam waktu yang lebih cepat lagi dari pada semalam, sudah wajar sih.


__ADS_2