
Dhafin diam sejenak untuk berfikir, dia harus memberi jawaban seperti apa?. Akhirnya dia membuka mulut dan berbicara "Um.... Nganu, mau ke itu..."
Erina lalu mengangkat sebelah alisnya dan bertanya lagi "Hah?, kemana?."
Jacob tiba-tiba terlintas dikepala Dhafin "Ah iya!, aku ada jadwal ketemu sama Jacob nanti."
Erina lalu melambaikan tangannya "Iya deh iya, kamu pasti ada urusan kerjaan lagi kan?. Ngomong-ngomong, katamu bu siti dan pak eno pulang hari ini?, apa itu benar?."
Dhafin mengangguk "Iya, mereka kembali sekitar jam 2 nanti."
*Beberapa jam kemudian.
Suara ketukan pintu terdengar, Erina berlari kedepan untuk membukakan pintu. Saat pintu dibuka, terlihat itu adalah bu Siti dan pak Eno.
Erina langsung memeluk bu Siti dengan pancaran wajah rindu di wajahnya, Dhafin hanya melihat dari jauh dan dia menyambut pak Eno.
Beberapa lama kemudian Dhafin kembali menghampiri bu Siti dan berkata "Bi, aku akan pergi keluar nanti. Mungkin agak berlebihan karna anda baru saja kembali, tapi apa bibi bisa menjaga rumah selama aku pergi?."
Bu Siti lalu tersenyum dan berkata "Tentu saja tidak masalah, apa kamu pernah melihatku kelelahan?."
Dhafin juga ikut tersenyum "Baiklah kalau begitu, aku akan siap-siap terlebih dahulu. Bisakah Bibi meminta pak Eno untuk menyiapkan mobil untukku?, tolong yang BMW ya."
"Baik dik Dhafin."
***
Setelah persiapan selesai, Dhafin pergi keluar dan dia sempat berhenti sebentar "Aku pikir harus membelikan sesuatu saat pulang nanti."
Tiba-tiba bu Siti lewat dan terkejut "Wah lihatlah Remaja kecil ini, dia berpakaian sangat rapih dan formal, apakah ada acara penting?."
__ADS_1
"Ah iya bi, ada acara penting yang harus aku hadiri. Aku pamit dulu ya.",
"Iya hati-hati dijalan, jangan terlalu ngebut."
Didalam hatinya dia merasa ada yang aneh, tapi dia tidak mempedulikannya dan lanjut pergi.
Dhafin akhirnya masuk kedalam mobil dan mulai pergi meninggalkan rumah, dia ingin berkendara kencang, tapi dia mengingat ucapan bu Siti yang barusan. Dhafin hanya bisa berkendara santai sepanjang jalan, dia sudah berada sangat jauh dalam beberapa menit dari rumah dan hampir sampai kerumahnya yang satu lagi, sampai tiba-tiba sebuah mobil van tua menabraknya dari samping dengan keras.
Telinga Dhafin berdengung setelah tabrakan yang cukup keras, untungnya airbag didalam mobilnya sudah ditambahkan sedemikian rupa yang membuatnya semakin aman dari depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah.
Kayak rumah balon saja....
Setelah airbag mengempis secara perlahan, dia segera keluar untuk mengamati sekitar serta keadaan. Mobil yang menabraknya hanya mobil tua tanpa supir, ini sudah jelas adalah jebakan.
Dia terus mengamati sekitar untuk mencari orang yang mencurigakan, area jalan itu sepi karna letaknya didalam hutan sebelum mencapai distrik lain.
Lalu terdengar suara helikopter mendekat dengan sangat cepat, suaranya begitu keras yang menandakan heli itu sedang terbang rendah. Benar saja, helikopter tiba-tiba ada diatas Dhafin dan 4 orang berbadan kekar melompat turun kebawah. Dhafin hanya menghela nafas panjang "Huhfft... Beberapa hari yang damai ternyata untuk ini, ternyata firasat ku benar, kalau begitu pasti bosnya adalah...".
Lalu Dhafin berteriak "Hey payah, aku tidak merindukanmu!, apa kamu tau, mobil ini adalah mobil kesayanganku brengs*k!."
Nevan lalu tertawa keras "Hahaha, memangnya kenapa?, sudah sewajarnya karna anak dibawah umur kan dilarang mengendarai mobil."
Dhafin menggertakan giginya dan berkata "Terserah lah, lalu kamu mau apa lagi?, mau aku buat mampus sekalian kali ini?, kamu gak pernah kapok ya?."
Nevan hanya menyeringai dan berkata "Dhafin-Dhafin, apa kamu tidak mengerti keadaanmu sekarang?. Lihatlah mereka, 4 orang seperti mereka sudah cukup untuk melumpuhkan mu, mereka semua adalah pensiunan tentara, kamu tidak akan bisa mengalahkannya seperti yang lalu."
Nevan melanjutkan "Tubuhmu juga sudah terkena gebrakan yang lumayan kuat, apa kamu masih bisa menyombongkan diri sekarang?."
Dhafin lalu meludahkan darah dari mulutnya dan berkata "Yang sombong sejak awal adalah dirimu, ternyata kamu itu memang orang bodoh ya."
__ADS_1
Dhafin lalu menyeringai dan melanjutkan "Persetan dengan pensiunan tentara." dia mengeluarkan 2 benda dari saku jasnya sebelum melempar jas itu ketanah lalu melanjutkan "Kalian terlatih ya?, tahan walau dipukul sekuat pukulan palu?. Tapi, apakah kalian bisa menahan tusukan benda runcing?, haha kebetulan sekali aku baru membeli sesuatu dan ingin mencobanya setelah melihat kalian!."
Dhafin lalu memakai benda itu dikedua tangannya dan menunjukannya lalu berkata " Kenapa kaget?, aku tadinya tidak ingin menggunakan senjata karna idealismeku, tapi aku sengaja membeli ini untuk keadaan darurat. Siapa sangka keadaan darurat itu datang lebih cepat dari dugaan ku, sekarang, ayo kita berpesta."
Salah satu dari prajurit itu kemudian berbicara "Apakah itu.... kamu memakai knuckel berujung lancip?."
Mendengar itu, Nevan berteriak dari belakang "Kenapa paman, apakah kalian takut?, kan tinggal menghindarinya saja, iyakan?."
Prajurit yang mendengar itu langsung mengangguk "Dia benar." lalu dia menatapi semua rekannya "Kita hanya perlu menghindarinya, biar bagaimana pun dia tetap anak kecil dan kita sudah lebih terlatih."
Lalu mereka semua mengangguk, sementara itu Dhafin menyeringai dan berkata dengan nada meremehkan "Benarkah paman?, kalau begitu aku akan menggeser opinimu itu."
Dhafin kemudian memanfaatkan kondisi lawan yang sedang lengah dengan melesat cepat ke salah satu musuh, lalu dia memukul dadanya dengan keras. Walaupun tidak sekeras palu, tapi karna knuckel itu tajam Dhafin dapat dengan mudah menembusnya. Dhafin langsung menariknya kembali dan mundur kebelakang, lawan yang terkena tinjunya Dhafin langsung mengeluarkan darah dari dadanya.
Memang tidak terkena jantung, karna tubuh mreka dilapisi otot yang tebal. Tapi tetap saja itu akan menyakitkan, dia langsung berteriak kencang dan tersungkur ke tanah.
"Aarghhh, anak kecil sialan!. Kalian semua!, cepat habisi dia!."
Mereka bertiga langsung berlari kearah Dhafin dengan niat membunuh yang terpancar dari mata mereka, Dhafin agak kesulitan menghindari setiap serangan dari mereka. Bahkan dia tidak bisa memukul mereka karna kondisinya mereka sedang serius dan tidak memperlihatkan celah sedikitpun.
Tapi biar bagaimanapun, Dhafin melakukan ini hanya untuk mengulur waktu. Seandainya Dhafin tidak membawa knuckel itu, mungkin dia sudah kalah sejak awal pertarungan.
Dhafin bukanlah orang yang buta keadaan, jadi dia menahan serangan dengan amat sangat serius. Pikirnya, jika dia terkena satu pukulan saja, satu tulangnya mungkin akan patah!."
Jengkel melihat pertarungan yang semakin tidak masuk akal, Nevan akhirnya kesal dan berteriak "Kalian semua payah!, cepat habisi anak itu atau kalian akan berada dalam masalah!."
Ketiga orang yang mendengar itu semakin menyerang dengan membabi buta, disisi lain, Dhafin sudah mulai kehabisan staminanya karna terus-terusan bergerak menghindari serangan.
Sampai akhirnya beberapa detik kemudian datang angin kencang dari arah timur, lalu terdengar suara yang sangat bising.
__ADS_1
*Wush wush wush.....