IMPIANKU

IMPIANKU
ch.50 (Terlalu Sedih Itu Gabaik)


__ADS_3

Dua orang siswa ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa oleh para guru di tempat kejadian, mereka langsung menghubungi polisi dan menceritakan kejadiannya. Tidak lama kemudian polisi dan ambulan datang ke sekolah itu, semua siswa langsung berbondong-bondong keluar kelas tidak terkecuali Dhafin. Dia keluar melalui jendela agar lebih cepat, dia melompat ke pohon dari lantai 3 dan meraih dahan lalu langsung melompat kebawah, dengan cara itu dia bisa memotong jalan menuju gedung utama.


Dia terkejut, dia melihat ada dua orang korban disana. Para guru sudah menutupi jalur dari dalam gedung sehingga tidak ada siswa lain yang melihat kejadian itu, ketika mereka melihat Dhafin, para guru langsung menutupi pandangan Dhafin dan memintanya untuk pergi.


Dhafin mundur beberapa langkah dan kembali ke kelasnya, dia benar-benar terkejut kali ini. Dua orang yang dilihatnya itu....


Tidak lain dan tidak bukan adalah Gavin dan Jasmin... Dhafin benar-benar terkejut, saat dia berjalan pelan tiba-tiba polisi menariknya untuk menenangkan mentalnya. Remaja manapun pasti akan syok melihat kejadian itu, jadi pihak yang berwajib berusaha menenangkan Dhafin yang saat ini masih terdiam kaku.


Para guru juga ikut turun tangan menenangkan Dhafin, sementara siswa dari area dalam berhasil ditahan agar tidak mendekati gedung utama. Sementara Dhafin hanya bergumam saat diberi minum dan berusaha ditenangkan oleh pihak guru, dia hanya berkata "Padahal kami baru saja bertemu satu pekan yang lalu."


Dia mengatakan hal itu berulang-ulang sampai akhirnya jatuh dan tidak sadarkan diri.


Saat dia tersadar, dirinya mendapati bahwa dia sedang berada di ruang kesehatan. Dhafin tersadar saat jam pulang tiba, Desi, Reno dan Erina ada diruangan itu saat Dhafin terbangun.


Para guru memberi taukan kepada mereka bertiga kalau Dhafin melihat kejadiannya secara langsung, guru-guru itu juga memberi tau siapa yang menjadi korban dan mereka bertiga sangat terkejut sampai lemas. Wajar saja Dhafin sampai seperti itu, biar bagaimanapun Gavin adalah teman lamanya dan mereka baru saja bertemu belum lama ini.


Sementara kekacauan sudah mulai dibereskan, mayat Gavin dan Jasmin sudah dibawa pergi dan mobil kontainer sudah diderek menjauh.


Dhafin bangun dari tidurnya dan duduk lemas tak berbicara sedikitpun, wajahnya sangat datar dan pandangannya sangat kosong. Desi dan Reno tidak tau harus berbuat apa sedangkan para guru mempercayai mereka untuk menenangkan Dhafin, akhirnya Erina dengan cepat memeluk tubuh Dhafin yang terasa panas saat itu.


Pelukan yang hangat itu mampu membuat Dhafin tersadar sampai dia meneteskan beberapa air mata, Erina dengan sigap memberi ketenangan untuknya dengan cara mengelus-elus Dhafin dengan lembut. Dia lalu berkata "Sabar Fin, gak masalah kok nangis, itu hal yang wajar. Yang gak wajar itu kalau kamu gak nangis sama sekali saat melihat temanmu pergi."


Air mata Dhafin semakin banyak keluar, dia menangis, walau tangisannya itu tanpa suara, tapi seisi ruangan tetap dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Dhafin. Terlebih lagi Erina yang sudah tau bahwa Dhafin telah ditinggal orang tua dan saudaranya dulu, dia sangat sedih atas apa yang menimpa Dhafin.


***

__ADS_1


Keesokan harinya Dhafin bersama teman-temannya menghadiri upacara pemakaman Gavin, keluarga dari mendiang Gavin sendiri benar-benar sangat terpukul. Dhafin sudah berbicara kepada ayahnya dan meminta maaf karna tidak bisa menjaga anaknya dengan baik, tentu saja ayah Gavin tidak bisa menyalahkan Dhafin juga. Biar bagaimanapun bukan kewajiban bagi Dhafin untuk melindungi anaknya, dia hanya berkata "Ini adalah takdirnya, terimakasih kamu sudah menemaninya dengan baik dan sekarang dia akan bahagia di alam sana."


Dhafin hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkannya, dia pergi kearah makam Gavin dan berdoa untuknya.


Setelah beberapa lama berdiri akhirnya Erina dan yang lain menghampiri Dhafin yang masih mematung disana, mereka lalu mengajak Dhafin untuk pergi "Dhaf, ayo.... Tidak baik merenung terlalu lama untuknya."


Lalu Dhafin berbicara sendiri "Pertemanan itu adalah hubungan yang menyenangkan dan sangat membahagiakan, tapi sayang sekali karna semua kebahagiaan itu tidaklah abadi."


Erina akhirnya meraih tangan Dhafin dan mengajaknya pergi "Ayo fin, kita juga harus menghadiri upacara pemakaman Jasmin. Biar bagaimanapun dia sudah menjadi teman kita."


Dhafin mengangguk kemudian mengikuti mereka pergi dari tempat itu, sebelum itu dia meletakan kunci motor BMW M4P Race yang ditunggangi oleh Gavin kemarin di batu nisan miliknya. Hari ini adalah hari yang sangat menyakitkan bagi Dhafin, hari ini adalah hari yang gelap bagi Dhafin. Saat mereka hendak pergi ke pemakaman Jasmin langit yang sudah gelap dari awal tiba-tiba menurunkan tetesan air hujan.


Mereka berempat sampai di upacara pemakaman Jasmin dengan menggunakan taksi, upacaranya dilakukan di tempat pemakaman yang berbeda. Saat Dhafin sampai disana, dia terkejut karna melihat Gilbert sedang ada di aula pemakaman. Dia terlihat sedang menangis dihadapan foto, itu adalah foto Jasmin!.


Beberapa saat kemudian ketika dia sudah tenang, Gilbert akhirnya menceritakan kebenaran tentang Jasmin.


"Jasmin adalah anakku."


Dhafin langsung terpaku dan tidak bisa mengucapkan apapun, Gilbert akhirnya melanjutkan "Dia memintaku untuk dipindahkan kesekolah itu karna dia sangat mengidolakan mu, dia memintaku untuk tidak mengatakan apapun karna dia ingin mendekatimu dengan usahanya sendiri. Karna dia tau kalau kamu mengetahui bahwa Jasmin adalah anakku. pasti kamu akan langsung berbuat baik padanya"


Perasaan Gilbert semakin terlarut, sementara Dhafin juga ikut sedih. Kalau saja dia tau Jasmin adalah anak dari Gilbert... Dia tidak akan sedingin itu terhadapnya.


Gilbert kembali menangis dan berseru "Kenapa kamu pergi secepat ini nak."


Dhafin hanya bisa diam sambil berusaha menenangkan hati Gilbert, dia tidak bisa apapun selain berusaha.

__ADS_1


Dia kemudian berkata "Pak, Jasmin pasti akan sedih kalau tau bapak sampai seperti ini. Jadi bapak tenangkan lah dirimu, jangan terlalu hanyut dalam kesedihan, itu gak baik."


Gilbert mengangguk lalu menyeka air matanya dengan tissue dan berkata "Iya."


Dhafin lalu melanjutkan perkataannya "Bapak boleh mengambil cuti dari kerja bapak dulu sampai bapak tenang, bahaya kalau kerja dengan beban fikiran yang menumpuk. Kalau begitu saya pergi dulu."


"Iya, hati-hati dijalan."


Akhirnya Dhafin keluar dari aula dan menghampiri ketiga temannya, cuaca masih mendung dan hujan masih belum berhenti. Mereka berempat memutuskan untuk pergi makan bersama guna membuat Dhafin agar melepas stresnya, Dhafin setuju dan mengikuti apa kata mereka.


Dhafin masih sulit menerima kejadian ini, dia bahkan sampai teringat tragedi keluarganya dulu dan membuatnya sangat sedih, meskipun begitu dia tetap berusaha mengubur kesedihannya itu seorang diri.


Desi akhirnya menghubungi supirnya dan memintanya untuk mengantar mereka ke sebuah tempat yang sangat bagus.


***


Saat ini, Dhafin dan semua orang sudah kembali kerumahnya masing-masing. Dhafin duduk di balkon ruang tengah dilantai 2 sambil merenung, Erina yang melihat itu lekas menghampiri Dhafin. Dia menyentuh bahu Dhafin lalu berkata "Aku tadi mendengar ucapanmu, kamu bilang jangan terlalu larut dalam kesedihan bukan?, kamu juga mengatakan bahwa itu tidaklah baik. Jadi kamu tenanglah dan buang semua beban itu dari kepalamu, kalau masih belum bisa sampai besok kita bolos dulu aja. Aku akan menemanimu kemanapun yang kamu mau."


Dhafin menoleh kearahnya "Sungguh?."


Erina tersenyum lalu mengangguk dan mengatakan "Untuk apa aku berbohong."


Dhafin kembali menatapi langit "Terimakasih..."


Lalu dia bangkit dari duduknya dan berjalan kedalam....

__ADS_1


__ADS_2