IMPIANKU

IMPIANKU
ch.31 (Kepindahan Siswa Baru)


__ADS_3

Seminggu setelah itu, ada dua anak yang menggantikan 2 siswa yang keluar. Masing-masing laki-laki dan perempuan, dengan begini kelas itu sudah penuh.


Mereka berdua dipanggil masuk kedalam oleh guru sebelum jam pelajaran dimulai, anak laki-laki itu bernama Nevan sedangkan yang perempuan bernama Desi.


Dhafin sedikit merasa tidak nyaman kepada Desi, karna dia sudah menatapinya sejak masuk tadi, sungguh sangat tidak nyaman.


Dhafin akhirnya mengacuhkannya dan menatap keluar jendela, dia tanpa sengaja melihat ke arah Nevan. Anak itu entah mengapa terlihat sombong, sepertinya dia akan menjadi pengganggu gelombang kedua!.


Tapi lagi-lagi Dhafin mengacuhkannya sambil sesekali menatapnya, saat Nevan berjalan kearah tempat duduknya Dhafin mendapati bahwa dia juga menatap dengan tatapan tajam kearahnya. "Apa-apaan anak ini?." seru Dhafin didalam hati.


***


Jam istirahat sudah tiba, seperti biasa Dhafin berdua dengan Erina ke kantin, tidak, sekarang mereka tidak berdua lagi, sudah ada Reno yang bergabung dengan mereka saat ini. Dhafin menganggap hal itu keuntungan sekaligus kerugian. Saat mereka duduk, Dhafin mengirimkan pesan kepada Harold untuk menyelidiki siswa laki-laki yang baru saja pindah itu.


Saat mereka sedang asik makan dan berbicara, tiba-tiba Desi menghampiri mereka dan duduk di kursi kosong yang terletak disamping Dhafin, "Aku boleh ikut disini? kursi didalam penuh nih... Boleh ya?." ucap Desi dengan suara yang dilebih-lebihkan. Dhafin melirik ke arah dalam dan melihat masih ada beberapa kursi kosong, dia lalu kembali melirik Desi "Itu dida-." tiba-tiba ucapannya di potong oleh Reno "Boleh kok boleh, masih lega lagian disini."


Desi lalu menengok ke arah Reno dengan ekspresi senyum riang "Ah makasih ya, siapa namamu?."


Dhafin lalu menyahutinya "Di setiap almamater ada papan namanya, kenapa gak kamu baca aja?."


Ekspresi Desi berubah menjadi agak panik dan malu "Ah iya aku lupa." dia lalu melanjutkan perkataannya kepada Reno "Jadi nama mu Reno ya, terimakasih ya udah ngebolehin aku duduk disini."


Dhafin hanya menatapi wanita itu dengan tatapan sinis dan risih, disaat perasaannya masih terganggu tiba-tiba Desi menanyakan hal sensitif "Kamu Dhafin kan?, kamu udah punya pacar?."

__ADS_1


Dhafin tersedak sebentar sebelum menjawabnya "Belum tuh, emangnya kenapa?."


Desi melambaikan tangannya "Ah enggak kok, cuma tanya aja. Kamu Reno? Erina juga?."


Perasaan Dhafin semakin tidak enak dengan lontaran pertanyaan yang mengusik itu, dia akhirnya bangkit dari duduknya "Aku mau ke toilet dulu, Reno kamu jaga Erina."


Reno mengacungkan jempolnya "Oke boss."


Dhafin akhirnya pergi meninggalkan tempat itu, saat dia pergi, Desi bertanya lebih banyak hal lagi "Kenapa Dhafin itu?." Reno langsung menjawab "Ah anak itu memang seperti itu terhadap orang baru, mungkin kamu sedikit mengusiknya dengan bom pertanyaanmu. Buat ikatan dulu baru banyak tanya, kira-kira begitu peraturan untuknya."


"Hm, begitu ya.. Sepertinya aku melakukan kesalahan besar, aku harus meminta maaf nanti." Reno lalu tertawa keras "Tidak usah difikirkan, dia akan membaik dengan sendirinya iyakan Rin?." Erina kemudian mengangguk.


Disisi lain, Dhafin yang berjalan ke toilet kembali mengirim pesan kepada Harold untuk menyelidiki anak perempuan yang bernama Desi juga.


"Baik tuan muda, saya sudah mendapat data tentang Nevan. Dia adalah anak dari direktur perusahaan kecil yang bergantung kepada investasi kita, walaupun kecil tapi pengaruhnya sudah cukup di lingkungan sosial biasa."


"Baik tuan."


Dhafin lalu melanjutkan pergi ke toilet dan cuci muka, sampai akhirnya dia kembali ke meja kantin. Sesaat sebelum duduk tiba-tiba bel masuk berbunyi "Duh gak beruntung banget sih."


Dhafin kembali ke kelas bersama yang lainnya, bedanya disaat yang lain belajar dia akan melanjutkan tidurnya seperti biasa. Satu detik sebelum tidur, mejanya dipukul oleh pak guru "Dhafin jangan tidur mulu, jam pelajaran kali ini ada ulangan harian. Habis selesai baru boleh tidur." Dia memberi selembar kertas sebelum berbalik dan melanjutkan "Anak jaman sekarang kalau sudah pintar santai sekali ckck."


***

__ADS_1


Akhirnya waktu pulang tiba, hari ini adalah jadwal piket Dhafin, Erina, Reno dan beberapa yang lainnya. Nevan langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun, tapi Desi lebih memilih membantu dari pada langsung pulang.


Dia membantu membersihkan kaca, saking bersihnya sampai kalau dilihat dari jauh seperti tidak ada kaca. Saat semuanya selesai akhirnya dia juga pulang bersama yang lain, saat berjalan ke gerbang, dia meninggalkan sesuatu di kelas dan kembali untuk mengambilnya. Tiba-tiba saja 3 mobil Rolls-Royce datang dan terlihat beberapa pria kekar keluar dari mobil di depan dan belakang untuk menjaga mobil yang berada di tengah, Dhafin, Reno dan Erina tentu saja orang yang ada disana terkejut semuanya. Sebenarnya Dhafin tidak terlalu terkejut karna dia bisa saja membawa 100 unit mobil seperti itu kalau mau saat ini juga.


Tapi yang membuatnya terkejut, siapa orang ditunggu para pengawal itu?. Tidak lama kemudian Desi kembali dengan berlari kearah para pengawal itu dengan wajah marah "Kalian sudah ku bilang tidak perlu menjemput dengan heboh!."


"Maaf nona, ini perintah Ayahmu jadi kami tidak bisa menolaknya."


Rasa penasaran Dhafin akhirnya terjawab kan, ternyata Desi orang kaya itu. Seketika orang-orang yang melihat kejadian itu langsung terkagum, mereka juga adalah orang-orang yang mampu, tapi tidak sekaya itu untuk membeli 3 mobil rolls-royce sekaligus!.


"Huhft, yasudah kalau begitu. Aku yang akan berbicara dengannya nanti, ayo pulang." para pengawal itu langsung masuk kedalam mobil dan ada yang membukakan pintu untuk Desi. Sebelum masuk dia menoleh ke arah Dhafin dan teman-temannya, dia menawarkan agar mereka pulang bersama diantar olehnya, dia fikir ini juga kesempatan yang bagus untuk minta maaf kepada Dhafin.


Tapi Dhafin dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya, Desi langsung mengerti "Begitu ya, kalau begitu aku pulang dulu ya. Sampai jumpa besok teman-teman."


Lalu ibu Reno datang menjemput dengan mobil sedan biasa, sementara Dhafin dan Erina berjalan ke stasiun kereta untuk pulang.


Saat perjalanan pulang, akhirnya setelah sekian lama dia berani bertanya kepada Dhafin tentang sesuatu yang dari dulu mengganjal fikirannya.


"Dhafin, apa kamu mau bercerita apa yang terjadi dengan orang tuamu? tubuhmu juga, aku pernah sekali tidak sengaja melihat. Tubuhmu itu..."


Dhafin yang berjalan didepannya berhenti dan menoleh kearahnya "Jadi... Kamu udah liat ya?."


Erina lalu mengangguk pelan sambil menjawab "Iya aku melihatnya."

__ADS_1


Dhafin lalu menghadap kedepan lagi sambil menghela nafas "Ayo kita pulang terlebih dahulu dan aku akan menceritakannya saat sampai rumah nanti." Dhafin menggandeng tangan Erina dan menariknya sedikit lebih cepat.


Sampai akhirnya mereka tiba dirumah, ganti pakaian, makan, dan sudah saatnya untuk Dhafin bercerita!.


__ADS_2