IMPIANKU

IMPIANKU
ch.44 (Terpojok)


__ADS_3

Dhafin terfikir akan sesuatu yang mengganjal dibenaknya 'Sial!, aku kan harus merahasiakan identitasku!. Bagaimana aku akan menjawab kalau mereka bertanya soal bagaimana aku memiliki nomor manager tempat ini.'


Ya, itu adalah anak perusahaan dari GWC milik Dhafin, dia ingat nama tempat itu ada di daftar kepemilikan yang diberikan oleh Harold. Akhirnya saat telfon diangkat, Dhafin melangkah menjauh dari mereka semua agar tidak mendengan percakapannya.


Suara diujung panggilan memulai pembicaraan terlebih dahulu "Apakah ini tuan Dhafin?."


Dhafin menjawab sedikit ragu "I-iya, kenapa anda bisa tau?. Saya baru kali ini menghubungi anda, benar kan?." lalu Dhafin melanjutkan dengan nada sopannya "Apa benar ini pak Herman?, manager kiyoyuki BBQ?."


"Benar sekali tuan, apa ada yang bisa saya bantu?. Anda sedang disana?, kalau iya saya akan kesana dengan beberapa pegawai khusus."


Dhafin segera menjawab dengan cepat "Gak.. Gak perlu, kamu tau kan aku sedang merahasiakan identitasku?."


Herman teringat dengan perkataan Harold, lalu dia berkata "Maaf tuan, saya baru ingat. Jadi apa yang bisa saya bantu dihari yang cerah ini?."


"Begini, aku kan sedang mentraktir temanku. Salah satu dari mereka membawaku kesini, dan tepat ini penuh. Adakah ruang privat yang bisa kamu amankan untukku dan teman-temanku?."


Herman langsung menjawab "Tentu saja itu mudah tuan, resto kita sudah terkenal sejak dulu dan baru saja meningkat pesat lagi dengan datangnya resep baru kita. Jadi untuk ruang sendiri terbagi menjadi banyak, orang-orang bisa makan didalam bersama-sama layaknya tempat makan biasa, tapi juga kami menyediakan ruangan privat untuk para tamu yang tidak ingin terganggu. Ruang itu terbagi menjadi 5 kelas, yang pertama silver, gold, diamond, VIP gold dan super diamond VIP. Akan saya siapkan yang paling baik dan bagus untuk anda."


"Ah, aku pikir tidak perlu yang terlihat mahal, mereka bisa curiga nanti." Dhafin melanjutkan "Bagaimana kalau ruangan silver saja?, terjangkau bukan?."


"Benar tuan, akan terlihat sangat masuk akal kalau anda memesan ruangan itu. Baiklah, saya akan menghubungi pegawai disana. Dia akan menghampiri anda dan menuntun masuk kedalam."


Dhafin lalu mengangguk dan berkata" Baiklah, kerja bagus."

__ADS_1


Tidak lama kemudian, ada satu orang menghampiri mereka semua lalu menunduk dan berkata "Silahkan ikuti saya ke tempat yang anda pesan."


Dhafin mengalihkan pandangannya kepada teman-teman lalu mengatakan "Ayo, ruangan kita sudah siap!."


Masih dalam keadaan bingung, mereka bertiga akhirnya mulai mengikuti langkah Dhafin, mereka melangkah dengan perasaan curiga masih menyelimuti fikiran mereka. Sedangkan disisi lain, Dhafin sedang memikirkan suatu alasan untuk menjawab pertanyaan mereka nanti. Dhafin tau kalau mereka bertiga sedikit curiga 'Sial, aku sangat gegabah!' batin Dhafin.


Akhirnya mereka sampai didepan ruangan dengan papan tulisan diatas pintu yang bertuliskan 'Silver Class' nomor sekian.


Lalu orang tadi berkata dengan sopan "Inilah ruangan kalian, silahkan masuk dan pesan apapun saat kalian siap."


Dhafin mengangguk, kemudian pekerja itu bangkit dan pergi meninggalkan mereka. Dhafin membukakan pintu untuk teman-temannya lalu berkata dengan lembut "Silahkan masuk kalian."


Dhafin merasa merinding karna terus saja ditatapi oleh teman-temannya, lalu Reno tidak kuat menahan rasa penasarannya dan bertanya "Fin, gimana cara kamu punya nomor manager tempat ini?." dia melanjutkan "Apalagi setelah menelfon kita langsung disiapkan ruangan silver yang sudah hebat ini?."


Erina lalu mengangguk "Benar juga ya, sudahlah kalian. jangan terlalu mengintimidasinya, takutnya gantung diri nanti hahaha."


Dhafin menghela nafas lega lalu berkata "Baiklah, kalian silahkan pesan apapun yang kalian mau. Aku mendapat diskon 15% sebagai sesama pebisnis, jadi jangan sungkan."


Mereka semua langsung memesan menu utama sekaligus andalan tempat itu, serta beberapa makanan tambahan lainnya dan juga minuman.


***


Mereka akhirnya keluar dari restoran dalam keadaan kenyang, Dhafin lega karna mereka bertiga tidak melanjutkan kecurigaan mereka.

__ADS_1


Mereka semua mulai berjalan kearah stasiun, hari ini Reno dan Desi lebih memilih ikut menggunakan kereta, rumah Reno dan Desi berada dirute yang sama, jadi mereka ada teman saat menaiki kereta.


Disaat mereka sudah agak jauh dan melewati gang sempit, tiba-tiba Dhafin teringat kalau ponselnya tertinggal direstoran. Dia langsung memberi tau teman-temannya "Kalian, apa bisa menungguku sebentar disini?, ponselku tertinggal dan aku ingin mengambilnya."


"Baiklah."


Dhafin langsung melesat dengan kencang, dia berlari layaknya atlet yang sangat cepat. Tidak membutuhkan waktu lama, Dhafin saat ini sudah sampai di restoran. Dia melihat orang yang sama melayani mereka tadi menunggu didepan restoran, dia lalu memberikan ponsel Dhafin saat melihat pemiliknya tiba mengambil ponselnya.


"Tuan, ini ponsel anda. Saya pikir akan mengantarkannya kerumah tadi, tapi sepertinya anda kembali untuk mengambilnya."


Dhafin mengambil ponselnya dan mengangguk, kemudian dia berkata "Terimakasih, kalau begitu aku pergi lagi."


Orang itu hanya membungkuk hormat, sampai akhirnya Dhafin kembali berlari ke tempat teman-temannya. Dia terkejut saat sampai disana, entah apa yang terjadi, ada lima berandal SMA mengganggu teman-temannya.


Dia tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan, sampai akhirnya salah satu berandal itu mengangkat tangannya dan bersiap untuk menampar Erina.


Dhafin merasa marah dan langsung berlari sekuat tenaga, dan akhirnya dia menangkis serangan yang ditujukan kepada Erina. Karna posisi idealnya saat ini yang dekat dengan rahang pelaku, Dhafin langsung menyikut rahangnya dengan sangat keras. Bahkan saking kerasnya, langsung terdengar suara retakan di rahang orang itu.


Dhafin langsung kembali berdiri dan menjauh menyeret Erina, sedangkan berandal itu langsung terjatuh kesakitan. Keempat teman berandal itu terkejut dan melihat Dhafin yang sudah tiba-tiba ada disana, salah satu dari mereka langsung bertanya "Siapa kau?."


"Aku teman mereka, kalian akan mati karna mengganggu teman-temanku." Disaat itu juga Dhafin melihat Reno yang sudah terkapar didekat tong sampah, sepertinya Reno sudah berusaha melindungi Erina dan Desi.


Mereka berempat lalu tertawa terbahak-bahak, memang tubuh mereka lebih besar dari Dhafin, tapi tinggi mereka sama dan bahkan sedikit lebih tinggi Dhafin. Mereka langsung menyeret temannya yang terluka, dan mengambil beberapa pipa besi di dekat tong sampah yang lain. Dhafin hanya bisa menggertakan giginya karna kesal dan membatin 'Sial!, kenapa pipa besi itu ada disana sih, menyusahkan saja!."

__ADS_1


Posisi Dhafin saat ini adalah sedikit terpojok, karna hanya dia yang bisa bertarung sedangkan keempat musuhnya membawa pipa besi yang cukup panjang. Tentu saja tidak mudah untuk mendekati mereka, apalagi, sangat terlihat kalau mereka sudah sering melakukan tindak kriminal seperti ini. Jadi ada kemungkinan mereka mahir menggunakan senjata liar seperti pipa-pipa itu, tentu saja ini akan terasa sulit bagi Dhafin untuk mendekati mereka!.


__ADS_2