
Mereka semua seketika melihat pahatan patung kepala naga di atas meja Dhafin serta sampa-sampah rontokan dari kayu yang dipahat itu, yang tadinya berbentuk sebuah kubus, sekarang berubah menjadi patung yang sangat indah dan menawan.
Siapa yang tidak akan terkejut melihat itu?, seniman profesional pun akan takjub kalau melihatnya secara langsung. Bukan takjub karna bentuknya, tidak ada yang istimewa dari bentuk kepala naga itu, hanya saja waktu pengerjaannya serta siapa yang mengerjakannya itu yang akan membuat para seniman takjub.
Ditambah lagi detail yang sangat luar biasa dari pahatan itu terlihat sangat jelas, dan sangat.... entahlah, tidak bisa dijabarkan lagi.
Pak Donald, yang tadinya meremehkan Dhafin langsung menghampiri mejanya dan mengangkat patung itu ketangannya. Dia mengamati dengan seksama dan mendapati bahwa karya ini memiliki nilai seni yang cukup tinggi. seumur hidupnya dia menjadi guru, belum pernah mendapati hasil siswa yang seperti itu.
Dia merasa canggung saat mengetahui seluruh siswa menatapinya, tadi, dia sangat meremehkan Dhafin dan sekarang terlihat sangat menikmati karyanya.
Dia menelan ludahnya lalu menaruh kembali pahatan itu ke meja Dhafin sambil mengatakan dengan pelan "Baiklah, aku mengakuimu. Aku akan memberikan nilai sempurna untuk benda ini."
Semua siswa langsung berdecak kagum atas Dhafin, tapi Donald segera menegur dan menyuruh mereka untuk tetap tenang karna takut mengganggu para guru yang ruangannya berada tidak jauh dari sana.
"Dhafin, kamu boleh kembali ke kelas kalau mau." ucap Donald sembari membenarkan kacamatanya.
Dhafin mengangguk kemudian berdiri dan pergi meninggalkan ruangan itu, sementara hasil karyanya tetap dibiarkan disana untuk dikumpulkan dan dipajang disekolah selama 1 pekan sebelum akhirnya bisa dibawa pulang.
Dhafin tidak masalah akan hal itu, malahan kalau dia mau bisa saja dia membuat seluruh bagian atau full memahat sebuah naga.
Sesampainya dikelas, dia melihat Reno yang sedang bermain game konsol miliknya.
Reno tersadar kalau Dhafin sudah masuk kelas "Oh, kamu sudah selesai?." dia melanjutkan setelah meletakan konsolnya "Kamu buat apa dengan kubus yang kamu bawa tadi?, apa kamu pukulkan ke pak Donald agar dia memberimu nilai sempurna?."
"Aku bukan memukulkannya, tapi menusuk matanya dengan itu." jawab Dhafin.
Reno mengeluarkan ponselnya sambil berkata "Wah bener nih, harus telfon polisi..."
Dhafin menabok kepalanya sambil berkata "Ndasmu!." dia melanjutkan "Bukan menusuk yang seperti itu, aku memahat sebuah patung dan dia tertusuk oleh keindahan yang disajikan oleh pahatanku." dia mengakhiri ucapannya dengan tertawa jahat plankton.
__ADS_1
"Oh begitu ya." Reno menjawab dengan penasaran "Boleh aku melihatnya?."
Dhafin hanya mengangguk.
Setelah itu Reno keluar dari kelas dan berlari menuju gedung utama untuk melihat hasil Dhafin di ruang kesenian, seluruh siswa disana sudah melupakan kejadian malang yang terjadi disekolah itu. Cuma selalu saja ada rangkaian bunga yang diletakan dikoridor oleh orang tua siswa yang anaknya tertimpa kemalangan itu.
Saat Reno sudah sampai, dia melihat bahwa banyak orang yang mengelilingi meja bekas Dhafin tadi termasuk pak Donald yang malah terlihat dengan serius sedang mengamati karya Dhafin, dia bahkan menggunakan kaca pembesar untuk mengamatinya!.
Reno akhirnya berkata agar orang-orang itu menyingkir "Misi-misi, saya sudah mendapatkan izin dari sang pemahat serta sang pencipta untuk melihatnya dari dekat~."
Orang-orang itu langsung menyingkir dan memberikan jalan kepada Reno, Reno melihat sekeliling dan mendapati bahwa orang yang sedang berkumpul itu belum menyelesaikan karyanya sedangkan Erina dan Desi masih duduk dimeja untuk menyelesaikannya. Reno akhirnya berkata "Kenapa kalian tidak cepat-cepat menyelesaikan karya kalian?, nanti gak dapat nilai lho." dia menoleh kearah pak Donald "Iya kan pak?."
"Ah.." pak Donald sedikit gugup dan akhirnya mengangguk "I...Iya, kalian semua harus segera menyelesaikannya karna waktu terus berjalan!."
"Iya benar, ayo kita kembali."
Dia seketika takjub dengan pahatan yang terletak diatas meja saat itu, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sebuah maha karya yang indah, apakah ini benar-benar dibuat oleh siswa SMA?. Hanya bermodalkan sekotak kayu berukuran 30 centimeter kubik, dia bisa membuat hal yang semenakjubkan ini?.
Dia langsung memotretnya dan mengangkat pahatan itu sejenak untuk memperhatikannya dari dekat, mau dilihat berapa kali pun itu tetap sangat menakjubkan. Dia segera berlari lagi ke gedung sebelah yaitu menuju kelasnya, sesampai disana dia langsung menghampiri Dhafin yang sedang tertidur dimejanya.
*Brakkk!
Dia langsung memukul meja Dhafin dengan kedua tangan, Dhafin tentu saja terkejut dan langsung mengarahkan tinjunya kewajah Reno.
Pukulan itu sangat cepat, beruntung, Dhafin langsung menyadari kalau itu hanyalah Reno. Dia langsung menghentikan gerak tangannya sesaat sebelum mengenai objek sasaran, jarak yang tersisa kurang lebih hanya 1 centimeter dari kepalan tangan Dhafin ke wajah Reno.
Reno merasakan hembusan angin yang cukup kuat untuk menghempaskan beberapa helai rambutnya, dia hanya berfikir 'Kalau barusan kena, kemungkinan paling ringan adalah aku masuk UGD 1 hari.'
__ADS_1
"Oh ternyata kamu No, hampir aja kamu kena tinju." dia menggosok-gosok matanya lalu melanjutkan "Lagian kamu ngapain sih ngagetin aja, kalau kena beneran kan aku yang repot."
Reno membatin 'Enggak, aku dan orang tuaku yang repot kalau kena nanti.' setelah diam karna membatin akhirnya dia menjawab dengan menunjukan gambar yang dia ambil tadi "Bolehkah aku menguploadnya di internet?."
"Oh itu ya, terserah kamu. Upload saja tapi jangan tag akunku dan bilang kalau aku yang buat, nanti aku repot."
"Ashiap, aku post pasti jadi topik trending besok!."
Dhafin mengangguk "Sudahkan?, kalau begitu sana aku mau lanjut tidur, aku ngusir."
"Iya iya bawel, dasar tukang tidur." setelah mengucapkan itu Reno langsung menyingkir dan Dhafin melanjutkan tidurnya, saat itu juga Reno sudah selesai memposting gambar dari karya Dhafin yang ia jepret tadi.
Dia menaruh ponselnya disaku setelah itu dan mengambil camilan dari tasnya, tentu saja camilan itu ingin dimakan olehnya, emang apa lagi?.
Ponselnya ditinggal selama beberapa menit oleh Reno disaku celana, dia juga pergi ke toilet setelah memakan camilan itu.
Awalnya ponsel miliknya hanya bergetar beberapa kali, dia tidak menghiraukan getaran itu dan mengira hanya grup chat teman-temannya yang sedang bosan juga.
Setelah dari toilet Reno memutuskan untuk pergi ke kantin untuk membeli minuman karna dia haus, meskipun sebenarnya tidak boleh karna pak Donald menginstruksikan-nya untuk tetap didalam kelas, tapi dia tetap memaksakan pergi ke kantin, jujur saja kalian juga pasti pernah dan bahkan sering melakukannya saat sebelum pandemi.
Reno sudah selesai membeli minuman dan kembali ke kelas secara diam-diam, kalau ada yang melihatnya dikantin akan bahaya nantinya, untung saja bibi kantin bukan orang yang suka membocorkan informasi rahasia.
Sepanjang perjalanan Reno merasakan getaran duniawi dari saku celananya, ya, ponselnya terus saja bergetar dan bergetar seperti mengajaknya untuk nge-Dj.
Dia sangat penasaran apa yang sedang terjadi di alam ponsel miliknya, tapi sebelum itu dia harus segera kembali terlebih dahulu karna ditakutkan saat dia membuka ponsel dijalan ada guru yang lewat.
Akhirnya Reno berhasil kembali ke kelas dengan selamat, setelah sampai dia langsung membuka ponselnya dan terkejut. Reno dibuat terkejut oleh postingannya di Facebook yang sudah mendapatkan lebih dari 1 juta tanggapan....
[Bismillah sering upload lagi]
__ADS_1