
Lima helikopter tempur bersenjata sampai diatas mereka semua, sepertinya itu angkatan udara!.
Lalu lima prajurit keluar dari setiap helikopter, disusul dengan satu orang yang terlihat sudah agak tua. Sepertinya dialah yang memimpin, ada apa ini sebenarnya?!.
Tiba-tiba saja orang itu menjulurkan tangannya kearah Dhafin dan mengucapkan sesuatu, sayangnya ucapan apa itu tidak bisa terdengar oleh orang lain karna mesin helikopter yang masih menyala, sampai akhirnya helikopter mendarat dan mematikan mesinnya.
Nevan dan anak buahnya itu langsung gemetar ketakutan setelah melihat angkatan udara datang, walaupun para prajurit yang turun tidak membawa senjata mereka, tetap saja itu membuat Nevan takut sampai-sampai rasanya ingin mengompol di celana saat ini juga.
Lalu ucapan hormat terdengar dari sang jendral "Maaf Tuan, saya terlambat."
Dhafin lalu melambaikan tangannya "Ah tidak masalah, dari pada itu.... Bukankah ini terlalu berlebihan?."
"Uh... Ya aku pikir juga begitu, tapi setelah mendengar suara keras tadi saya dengan sigap membawa mereka semua. Saya fikir sesuatu yang buruk telah terjadi."
Nevan berasa ingin segera melarikan diri dari sana, tapi salah satu dari mereka sudah mengambil alih helinya. Dia hanya membayangkan betapa takutnya dirinya kalau dia harus mati hari ini, dia dengan spontan langsung mengucapkan sebuah kalimat "S-Siapa kamu sebenarnya."
Sang jendral segera maju untuk menjawab pertanyaan itu mewakili Dhafin "Anak ini adalah orang penting milik negara, sebuah kesalahan besar bagimu karna mengganggunya."
Perasaan Nevan semakin dibuat terguncang oleh jawaban itu, kenapa orang yang selama ini dianggap olehnya sebagai sampah bisa menjadi berlian bagi negara?.
Dia dengan segera langsung berlutut dan menangis memohon ampun, akan tetapi, sepertinya jendral itu sangat marah dan dia langsung memberi kode dengan tangannya untuk menghabisi mereka semua.
Tepat sebelum bertindak Dhafin langsung menyela "Etetetett, tunggu sebentar. Kalian bereskan saja para orang berbadan besar itu, biar aku yang mengurus bocah itu."
Nevan langsung terdiam, dia hanya membayangkan penyiksaan yang akan diberikan untuknya. Dia mulai merasa menyesal karna telah mengganggu Dhafin, tapi mungkin dia tidak akan bisa berbuat apapun. Karna sebelumnya Dhafin memberinya kesempatan karna ada Erina disisinya, sekarang orang itu tidak ada, jadi tidak mungkin ada yang menahan Dhafin lagi.
Salah satu dari prajurit memberikan Dhafin minuman isotonik untuk memulihkan staminanya sambil menunggu yang lainnya menyelesaikan anak buah Nevan, setelah selesai semuanya, Dhafin meminta untuk menyeret Nevan dan membawanya ke hadapannya.
Nevan diseret langsung oleh sang jendral, Dhafin juga mulai mengambil nafas panjang dan bangkit dari duduknya. Jendral itu melemparkan Nevan tepat kedepan Dhafin "Bagus, kita baru saja bertemu secara langsung. Jadi aku belum mengingat siapa namamu?."
__ADS_1
Jendral itu menjawab dengan sigap "Gilbert tuan!."
Dhafin lalu menggelengkan kepalanya "Tidak-tidak, jangan panggil aku tuan. Panggil saja komandan hehe."
"Baik komandan."
***
Dhafin akhirnya menghampiri Nevan yang tergeletak pasrah di tanah, lalu dia berbisik ditelinganya "Hei Nevan, aku sudah memberimu kesempatan beberapa waktu yang lalu. Kenapa kamu tidak bisa memanfaatkannya dengan baik?, aku sangat kecewa."
Lalu Dhafin mengangkatnya serta melemparnya kearah tumpukan para anak buahnya seakan-akan tenaga didalam dirinya sudah kembali penuh, Dhafin kemudian berlari kearah Nevan dan menendangnya dengan keras "Jawab aku!, kenapa kamu tidak menggunakan kesempatan yang aku berikan dengan baik kepar*t sia*an!."
Nevan tiba-tiba merintih dan berbicara dengan suara lemas "Ma-maafkan a-aku.. aku salah, tolong lepaskan aku sekali lagi maka aku tidak aka-."
Dhafin langsung meninju wajah Nevan sebelum dia menyelesaikan perkataannya, lalu dia berbicara "Omong kosong!, aku sudah memberimu kesempatan sebelumnya. Lalu kamu meminta lagi saat kamu berbuat hal yang keterlaluan seakan-akan kamu hanya menjatuhkan es krim milikku?."
Dhafin menatap Gilbert dan bertanya "Hei pak, apakah ada pemukul bola di dalam helikopter mu itu?."
Beberapa saat kemudian satu prajurit kembali dengan membawa pipa besi "Maaf pak, hanya ada ini."
Gilbert kesal karna tidak dapat mengabulkan permintaan Dhafin dan dia mulai berteriak "Kamu bodoh ya?!, aku bilang tongkat pemukul bola!."
Dhafin kemudian melerai mereka "Sudah-sudah, itu juga tidak masalah kok. Sini kemarikan, lempar saja."
Akhirnya prajurit itu melemparkan pipa besinya kearah Dhafin, sesaat setelah Dhafin menangkapnya...
*Buaakkk!
Dhafin langsung memukulkan pipa itu kearah tulang rusuk Nevan, suara patahan tulang terdengar sangat keras.
__ADS_1
Dhafin juga tiba-tiba bertanya sesuatu yang agak melenceng "Oh iya pak, jalan ini terlihat sepi sejak awal. Apa yang sebenarnya terjadi?."
"Tadi saya lihat dari atas, setiap ujung jalan ini ditutup agar tidak ada siapapun yang bisa melintasinya. Mereka sudah benar-benar merencanakan ini!."
"Begitu ya..." Dhafin kembali menoleh ke arah Nevan dengan tatapan kutubnya, lalu dia melanjutkan dengan memukul tulang rusuk nevan yang berada disisi lain. Tulangnya akan benar-benar hancur seperti debu kalau terus begini!, itulah yang ada didalam fikiran Nevan saat ini. Dhafin berbicara saat sedang memukul tulangnya itu "Kalau begitu, tidak akan ada yang melihat ku seperti inikan haha."
Dia melanjutkan saat berhenti memukul "Ayo, teriak saja kalau mau. Gak akan ada yang denger kok, teriak lah sampai-sampai isi tenggorokanmu keluar!."
Dhafin kembali memukul tulang rusuk Nevan yang sudah hancur, Nevan sudah tidak dapat menahan lagi dan teriak sekeras-kerasnya. Dhafin menendang kepalanya saat dia berteriak lalu berkata "Hei, berisik bodoh."
Lalu Nevan berbicara dengan sangat pelan "Tapi-tapi tadi kau yang-."
*bUak!
Dhafin menendang wajahnya kali ini, lalu merendahkan tubuhnya dan berbisik lagi "Tidak ada yang mengizinkanmu berbicara dasar busuk!."
Nevan hanya semakin pasrah akan keadaan, sambil berharap kalau dewa akan menolongnya. Tapi tentu saja itu tidak akan terjadi untuk orang seperti dirinya, orang yang selalu berbuat jahat dan menindas orang yang ada dibawahnya!.
Dhafin membuat Nevan membungkuk ditanah, lalu dia memukul punggungnya dengan keras. Sudah dipastikan kalau Nevan akan lumpuh kali ini, Dhafin benar-benar menjadikan perkataannya sebuah kenyataan!. Nevan hanya akan terbaring di tempat tidur selamanya!.
Lalu Dhafin kembali berdiri tegak dan menghembuskan nafas puas, dia merasa sudah bersenang-senang hari ini "Sepertinya cukup sampai disini, berikutnya tinggal ayahmu."
Wajah Nevan menjadi sangat terkejut, lalu dia berbicara pelan "Kenapa harus-.. ayahku?."
Dhafin menyeringai dingin kearahnya dan berkata "Tentu saja ini adalah karma dari anaknya, aku akan membuatnya bangkrut dan hidup sebagai gelandangan disisa hidupnya!. Oh iya, aku bisa mudah melakukan itu karna... gimana ya bilangnya, toh aku pemilik GWC."
Nevan hanya bisa mematung dan tak berbicara sepatah katapun, disaat Dhafin akan masuk kedalam helikopter untuk menghampiri ayah nevan. Tiba-tiba datang mobil sedan putih dan pria setengah paruh baya keluar dari mobil itu, itu adalah ayah Nevan.
Dia sangat syok melihat apa yang ada didepannya "Apa ini, apa yang terjadi."
__ADS_1
Dhafin mendengarnya lalu berbalik lagi kearah ayah nevan dan berkata dengan senyuman polos "Wahh, tepat sekali saya ingin bertemu dengan anda."