
Erina akhirnya bangkit dari kursinya dan menghampiri Dhafin untuk menenangkannya "Dhafin, sudahlah jangan dilanjutkan lagi. Sebentar lagi bel berbunyi, lagi pula kasihan dia."
Dhafin sedikit menjadi tenang, tapi dia tetap melanjutkan perkataannya "Lihatlah, orang yang kamu rendahkan selama ini bahkan masih bisa mengasihani mu." Dhafin akhirnya berbalik arah dan kembali duduk.
Daniel kemudian bertanya dengan ragu "Siapa kamu sebenarnya?." Dhafin hanya membalas dengan menatapnya secara tajam, karna tidak mau lebih mempermalukan dirinya lagi Daniel hanya terdiam dan perlahan jalan kearah kursinya.
***
Ketika Dhafin dan Erina sedang makan di jam istirahat, tiba-tiba Reno datang menghampirinya. "Mau apa?." Dhafin bertanya dengan nada dingin, dia melanjutkan "Apa kamu mau berbuat hal seperti temanmu kemarin?."
"Tidak, aku.... Bagaimana kamu melakukannya?."
Dhafin mengangkat sebelah alisnya "Melakukan apa?."
"Kemarin kamu mengatakan seolah-olah Daniel akan merasakan kemiskinan, dan itu langsung terjadi, apa yang kamu perbuat?."
"Apa katamu?, tentu saja itu hanya kebetulan." Dhafin melanjutkan sambil melambai-lambaikan tangannya "Lagi pula sudah seharusnya dia merasakan itu."
"Tapi itu tidak masuk akal."
"Sudahlah, itu hanya kebetulan, kita tidak tau apa yang akan terjadi sekarang ataupun esok didunia ini." Dhafin melanjutkan sambil mengamati wajah Reno "Kamu kenapa terlihat bahagia?."
"Kupikir aku harus berterimakasih kalau itu kamu yang melakukannya."
Dhafin heran lantas bertanya "Maksudmu apa?."
"Izinkan aku bercerita." Dhafin mengangguk, kemudian Reno melanjutkan "Sebenarnya dalang utama yang menyebabkan dibulinya Erina adalah Daniel, ada beberapa orang yang tidak masalah dengan kehadirannya. Hanya saja saat Daniel melihat Erina yang selalu dipuji guru karna nilai bagusnya, dia mulai menghasut orang-orang dikelas. Semuanya memang terhasut, tapi aku tidak dan sepertinya masih ada beberapa lagi."
Dhafin membalas "Jadi waktu itu kamu..."
"Iya, aku menjelek-jelekan Erina didepan mu waktu itu karna Daniel mengancam akan menghajar ku kalau ketahuan berkata yang baik tentangnya."
__ADS_1
Dhafin tiba-tiba menyeringai "Hehe, bukankah berarti sudah waktunya untukmu meminta maaf?, tuh orangnya disampingku."
"Ah.. i..iyaa."
Reno langsung menghampiri Erina dan membungkuk "Maaf... Selama ini telah membantu mereka menyusahkan mu."
Erina tersenyum kemudian menjawab "Sudahlah, jangan terlalu difikirkan."
"Haha, lihatlah, anak ini memang selalu bersikap baik. Heran kenapa semua orang membencinya." ucap Dhafin sambil tertawa lebar, dia melanjutkan "Berhubung kami sudah ada disini, kenapa tidak ikut makan?. Aku yang traktir, menu kantin kita enak-enak lho."
Erina menyahuti perkataan Dhafin "Hei, dia lebih lama sekolah disini, jadi dia lebih tau."
"Ah iya..."
Akhirnya mereka mendapatkan teman baru yang kelihatannya dia adalah anak baik..
Saat mereka sedang makan tiba-tiba Reno bertanya "Rumah kalian memang dekat ya? tadi datang disaat yang bersamaan, atau kebetulan saja?." ucap Reno dan langsung minum setelahnya.
"Apa katamu?, aku tidak salah dengar?."
"Ehhh, tidak kok, tanya saja ke Erina kalau tidak percaya." Reno kemudian menatap Erina, lalu Erina mengangguk, dia melanjutkan "Itukan gak boleh!."
Dhafin memasukan bakso kesukaannya kemulutnya, sebelum memasukan dia berkata "Nggak boleh apanya, aku kan sudah dapat izin. Bahkan kamar kami berjauhan untuk memenuhi izin itu, jadi sepertinya tidak masalah." Dhafin akhirnya memakan baksonya *Hap.
"Begitu ya, apa kalian tau kedai kopi yang baru buka di distrik 9?. Banyak yang bilang enak, apa kalian mau pergi bersamaku?."
Dhafin menatap Erina, dia mengangguk "Boleh saja, kita akan ikut tapi kau yang traktir haha."
Dhafin melanjutkan "Tapi sebelum itu aku permisi sebentar."
"Hei sekarang belum jam pulang sekolah." ucap Reno yang langsung berdiri. "Tidak apa, aku akan menunggu kalian di depan gerbang sepulang sekolah nanti. Aku ada urusan, jaga anak itu ya, kalau ditanya guru bilang saja diare akunya pulang gasuka wc sekolah." ucap Dhafin sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Dhafin pergi untuk mencari geng Daniel, menurut info yang dia dapat, Daniel memiliki rekan yang setia padanya. Dhafin langsung datang ke markas mereka saat mereka hendak pergi untuk mencarinya "Hei kalian, nyari aku? ngapain jauh-jauh aku disini kok hehe."
Daniel langsung berteriak "Itu dia anaknya, dia yang membuat ayahku bangkrut!, habisi dia!!."
Dhafin menepuk jidatnya sebelum berkata "Huhh.... Apa maksudmu, mana mungkin aku bisa melakukan itu." Dhafin melanjutkannya dengan mengangkat bahu "Lagi pula aku tidak tahu ayahmu bekerja dimana, tidak mungkin aku bisa membuatnya dipecat ckck."
Saat Dhafin selesai bicara, salah satu teman Daniel sudah sampai didepannya dan bersiap memukulnya.....
*Buakkk
Dhafin melayangkan pukulan keras secara tiba-tiba tanpa berpindah tempat sambil berkata "Serius kalian tetap ingin menghajarku?, tujuanku cuma anak itu, kalau kalian masih nekat kalian juga akan babak belur lho."
"Serang dia secara bersamaan!." Daniel berteriak dan semua langsung bergerak secara bersamaan.
Dhafin hanya menyeringai "Haha, menarik."
Dhafin kemudian mengambil tongkat kayu yang dibawa orang pertama tadi, lalu melemparkannya.
*tukkk, lemparan tongkat itu mengenai kepala orang yang berlari didepan, Dhafin lalu berlari dan melompat langsung melayangkan tendangan untuk menyerang musuh yang berada dibelakang orang yang terkena tongkat.
*Buakkk... Tendangannya sangat keras sampai membuatnya terpental jauh kebelakang, sesaat setelah mendarat dari gerakan tendangannya itu dia langsung memukul dua orang disampingnya dan menendang orang yang baru sampai. Mereka semua langsung terkapar dan tidak bangun lagi. "Serius nih 6 orang langsung jatuh hanya karna ini? buang-buang waktu saja, nah sisanya tinggal kamu Daniel." Ucap Dhafin sambil tersenyum kearahnya, Dhafin lalu menarik rambutnya dan menyeretnya "Ayo cari tempat yang lebih enak untuk berbicara, yang ga-a-da-o-rang, hehe."
Saat ditarik, Daniel berteriak karna kesakitan "Mau apa kau brengs*k!."
*Plakkk
Dhafin langsung menamparnya dengan sangat keras sampai keluar darah dari bibirnya "Kamu diamlah dulu dan tidur dengan nyenyak."
Daniel langsung pingsan karena tamparan yang sangat keras itu.
Beberapa menit kemudian Daniel terbangun dan melihat Dhafin sedang membersihkan tangannya dari bekas darah, dia tidak mengeluarkan suara apapun karna wajahnya masih terasa sangat panas.
__ADS_1
"Oh kamu sudah bangun? cepat juga." Dhafin lalu menghampiri Daniel dan mengangkat wajahnya "Kamu tau gak sih seberapa berharganya anak yang kamu ganggu bagiku?, kamu sama saja menggali kuburan mu sendiri karna mengganggunya dihadapan ku. Ngomong-ngomong.... Apa kamu tau kenapa ayahmu bisa dipecat?." Dhafin melanjutkan dengan berbisik ditelinganya "Itu memang benar karna aku bodoh, akulah pemilik tunggal perusahaan tempat dimana ayahmu bekerja. Bagiku, kalian semua disekolah hanyalah teri yang tak ada apa-apanya."