IMPIANKU

IMPIANKU
ch.18 (Mengisi waktu luang 3 END)


__ADS_3

"Apa?!." Jacob dengan jengkel melanjutkan "kamu!.... Ayo kita buktikan!."


Dhafin menyeringai sambil berseru didalam hati "Hehe masih bisa terpancing rupanya, padahal sudah tua."


Dhafin melanjutkan dengan menjelaskan aturannya, sama seperti di taman bermain roseline, senjata yang digunakan adalah airsoft gun berpeluru karet. Pelurunya sudah dilumuri warna cat masing-masing tim, boleh juga menggunakan pisau karet yang sudah dilumuri cat serupa. Setiap orang memiliki 3 nyawa tembakan, serta 1 nyawa jika terkena pisau dan 1 nyawa terkena geranat.


"Batas waktunya adalah sampai besok, barang siapa yang tidak sanggup bisa mundur saja, bawa perbekalan seakan-akan kalian berperang sungguhan, sanggup gak?." Semuanya mengangguk termasuk Jacob, dia juga melanjutkan "Jangan lupa pakai peralatan kemanan kalian. sekarang pilih senjata, masing-masing orang dapat memilih 3 senjata, untuk peluru ambil sebanyak-banyaknya!. Ambil juga geranat cat untuk serangan kejutan."


Dalam beberapa menit, semua orang sudah bersiap dengan perbekalan yang lengkap, seakan-akan mereka hendak pergi berperang sungguhan.


102 orang itu langsung bubar dengan tim masing-masing, Jacob dan Dhafin berada di tim yang berbeda. Mereka segera berkumpul di


camp masing-masing sampai akhirnya terdengar suara ledakan yang menandakan perang dimulai.


_____________________________________________


Beberapa jam telah berlalu...


Kini permainan selama 2 hari 1 malam itu hanya menyisakan Dhafin dari timnya, berbeda dengan Jacob yang masih bersama 6 orang lainnya.


Dhafin mengambil radio yang dibawa oleh tim Jacob di pertarungannya untuk mendengar pergerakan musuh, tiba-tiba terdengar suara Jacob di radio itu "Sudahlah, kamu gak mungkin bisa menang dari orang yang menekuni wajib militer."


Dhafin menjawab dengan nada sedikit meremehkan "Ehhh, benarkah itu?, coba saja kalau bisa."


Dhafin segera bergerak secara individu untuk menyerang kelompok, Dhafin terdiam sejenak untuk memikirkan dimana lokasi mereka. Sebelum permainan dimulai, Dhafin sudah terlebih dahulu melihat kondisi hutan, dia sadar ada satu titik lokasi yang cocok untuk dijadikan persembunyian. Dia langsung pergi ke sana dengan membawa senjata laras panjang untuk menyerang secara diam-diam.


Benar saja, sesampainya disana Dhafin melihat Jacob yang sedang beristirahat serta anggota timnya yang berjaga. Tanpa lama-lama Dhafin menyeringai sambil mengeluarkan senjatanya "Sasaran empuk nih~"


Sebelum menembak, Dhafin terlebih dahulu membersihkan area sekitar untuk mempermudahkan pergerakannya. Rencana Dhafin adalah berpindah posisi setelah menembak ke segala arah mata angin untuk mengecoh Jacob dan tim nya, tidak lupa dia juga menggunakan peredam suara untuk senapannya.

__ADS_1


*Pciu pciu pciu...


Dalam waktu singkat, tiga peluru berhasil mengenai 1 anggota jacob dengan tepat dan akurat.


Serangan itu diikuti oleh serangan selanjutnya dari arah yang berbeda, dan berhasil melumpuhkan 2 orang sekaligus. Tidak lama kemudian, datang lemparan pisau dari arah yang berbeda lagi dan hampir mengenai Jacob. Walaupun tidak mengenainya, tapi pisau itu mengenai pengikutnya yang sedang berdiri dibelakangnya saat itu.


Sesuai peraturan permainan, orang yang 3 kali terkena tembakan dan 1 kali pisau akan dinyatakan diskualifikasi dan tidak boleh mencampuri permainan lagi.


Terdengar suara di radio yang terletak di saku Jacob "4 orang sudah tumbang hehe."


Jacob sedikit gugup dan segera merapat bersama 2 anggota lain yang tersisa dengan posisi saling memunggungi.


Tiba-tiba... *tuk tuk tukkk.... Sebuah geranat cat terjatuh tepat di tengah-tengah mereka...


*Duarrr....


Dhafin menghampiri Jacob yang sedang minum saat itu, Dhafin menyeringai sebelum berbicara "Jadi bagaimana nih?, wamil kalah sama anak kecil." dilanjutkan dengan tawa Dhafin.


"Diamlah, kamu hanya kebetulan kali ini."


"Kenapa kamu marah? kamu bilang ini hanya permainan haha." Dhafin menambahkan "Yasudah ayo pulang."


Dhafin juga menyampaikan kepada para pegawainya sebelum beranjak pergi "Kalian semua beristirahatlah terlebih dahulu sebelum kembali bekerja, kalau ada yang sakit segera pergi kerumah sakitku dengan helikopter yang tersedia di pulau ini, kalian akan selalu diberi pengobatan gratis disana."


Akhirnya Dhafin dan Jacob memasuki pesawat untuk segera pulang, saat pesawat mereka sudah pergi, para karyawan tidak habis-habis membicarakan Dhafin "Lihatlah bos kita, dia masih muda dan tidak berhenti berbuat baik."


"Iya, bahkan umurnya tidak jauh berbeda dengan anak ku."


"Benar ya blablabla."

__ADS_1


Para karyawan tidak berhenti membicarakan kebaikan Dhafin yang telah dilakukannya selama ini.


Sampai akhirnya tibalah saatnya untuk Dhafin kembali bersekolah, dia tetap memerintahkan semua pekerjanya merahasiakan identitasnya sampai saat ini.


Dhafin sudah lama tidak merasakan suasana disekolah, disekolah itu setiap kelasnya seimbang antara siswa laki-laki dan perempuan.


Untuk sampai kesekolah, Dhafin lebih memilih pergi menggunakan kereta bawah tanah dari pada harus diantar oleh pak kemal.


Dhafin pergi ke ruang guru untuk melaporkan kehadirannya disekolah dan siap untuk memulai kelas, Dhafin akhirnya di tuntun oleh guru laki-laki berumur sekitar 31 tahun yang berjalan didepannya, namanya adalah pak Toni. Setelah sampai dikelas, Dhafin diminta untuk menunggu diluar selagi pak Toni akan mengumumkan kepindahannya dan menyuruhnya masuk.


Saat Dhafin masuk, dia melihat bahwa kursi disana tertata rapih secara bergantian antara laki-laki dan perempuan, terlihat ada satu kursi lagi yang kosong di baris perempuan. Akhirnya dia memperkenalkan diri dan duduk. Selama jam pelajaran berlangsung, Dhafin menghabiskan waktunya untuk mengamati seisi kelas. Jam istirahat akhirnya tiba, pak guru meminta Reno untuk menemani Dhafin berkeliling. Dhafin acuh tak acuh dengannya, karna dia tidak terlalu perduli dengan sekitar.


Tapi lama kelamaan Reno makin sering berbicara yang menandakan dia ingin berteman, merasa aneh, akhirnya Dhafin mulai menanggapi omongannya dan bertanya "Hey, aku melihat ada 1 kursi lagi yang kosong, milik siapa itu?."


"Ah itu...." Wajah Reno tidak terlalu senang saat membahas kursi itu "Itu milik seorang anak perempuan, tidak usah dipikirkan siapa dia. Dia cuma orang yang akan mengganggu pemandangan dengan penampilannya."


Mendengar hal yang seperti mengintimidasi Dhafin segera menjawab "Apa maksudmu?..."


"Ah tidak, ayo kita lanjutkan saja berkelilingnya, sekolah ini cukup luas."


Dhafin mengangguk sambil memikirkan sesuatu dalam benaknya "Apa maksud perkataannya tadi?."


Selama disekolah, sifat Dhafin menjadi sangat dingin karna dia memang tidak terlalu suka mudah berbaur dengan sekitar dikarenakan masa lalunya yang buruk tentang lingkungan sosial. Dia hanya akan membuka celah sosialnya ketika dia mau seperti kasus Dafa dulu.


Dhafin masih memikirkan maksud dari perkataan Reno tadi, tapi dia mulai melupakannya karna tidak mau dibuat pusing.


Saat pulang sekolah, Dhafin merasa lega karna tidak mendapatkan tatapan yang merendahkannya lagi. Ya memang wajar karna Dhafin sudah tidak memakai barang-barang yang lusuh seperti dulu, dia sekarang memakai barang kelas menengah karna dia tidak ingin terlihat mencolok. Sebenarnya bisa saja Dhafin memakai barang yang lebih mahal lagi, bahkan dia bisa membeli perusahaan yang memproduksinya!.


Tapi bagi dia itu saja sudah cukup, walaupun banyak orang memakai barang yang lebih bagus selain dia, toh wajar itu adalah sma bergengsi.

__ADS_1


__ADS_2