IMPIANKU

IMPIANKU
ch.61 (Penculikan)


__ADS_3

*


*


*


2 pekan telah berlalu, klub basket sekolahnya saat ini sedang berjuang pada pertandingan mereka. Mereka semua baru memasuki babak pertama, dibabak pertama ini semuanya berlalu dengan mudah tanpa ada kesulitan.


Dhafin sedang duduk dikelas sambil menyeruput teh yang dia beli dikantin, Masao tidak ada dikelas karna dia sedang mengikuti pertandingan ditempat lain.


Dhafin juga sudah beberapa kali belajar bersama teman-temannya, bahkan nilai mereka sudah jauh lebih baik semenjak dibantu oleh Dhafin. Sudah agak lama semenjak suasana kelas benar-benar berubah, dari yang tadinya sangat mencekam seperti kandang singa, sekarang sudah sangat terkendali dan terkadang beberapa anak mengajak Erina dan Dhafin berbicara tanpa ragu lagi.


Erina sangat bahagia akan hal itu, dia tidak pernah bermimpi bahwa masa penindasannya akan berakhir sebelum lulus. Tentu saja dia merasa ini semua berkat Dhafin, jika bukan karnanya mungkin dia akan menyerah secara perlahan.


***


Beberapa hari sudah berlalu, saat ini turnamen basket nasional antar sekolah sudah mencapai puncaknya!. Tim dari sekolah Dhafin berhasil mencapai babak final yang akan dilaksanakan hari ini, tentu saja Dhafin akan menepati janjinya dengan turun dilapangan sebagai pemain.


Sebenarnya butuh perjuangan yang keras bagi sekolahnya untuk sampai dititik ini, mereka beberapa kali hampir mengalami kegagalan, beruntung anggota tim selalu dapat membantu membalikan keadaan dengan kerja sama yang bagus. Terakhir saat babak semi final, mereka hampir saja kalah dengan skor 46-44. Mereka diselamatkan oleh three-point yang dibuat oleh anak kelas 2 yang berhasil membalikkan kedudukan menjadi 46-47, seandainya mereka telat selangkah saja sudah dipastikan mereka akan gagal.


Sudah pukul 12.40, pertandingan akan dimulai 20 menit lagi. Setiap anggota dari masing-masing tim sedang melakukan pemanasan dilapangan.


Setelah semuanya selesai, mereka semua kembali berkumpul dilapangan dan mulai mengucap salam hormat untuk sesama tim. Mereka bersiap diposisi masing-masing setelahnya dengan kapten yang menempati posisi jump ball, Masao tidak melakukannya karna dia dicadangkan agar Dhafin bisa bermain.


Peluit dibunyikan dan waktu sudah mulai berjalan!, bola didapatkan oleh tim Dhafin dan langsung diberikan kepadanya karna mereka tau, dialah yang terkuat saat ini dilapangan.


Dhafin tidak ingin langsung bermain heboh, oleh karna itu dia hanya mengeluarkan sepertiga dari kemampuannya. Angka pertama diambil oleh timnya dan pertandingan terus berlanjut.

__ADS_1


***


Setelah 40 menit bertanding, permainan berakhir dengan skor mengejutkan. Sekolah Dhafin mendapatkan poin sebesar 143 dan mendominasi tanpa ampun, sedangkan tim lawan hanya mendapat poin sebanyak 29.


Mereka tertinggal sejauh itu bukan tanpa alasan, Dhafin yang tadinya bermain dengan hanya sepertiga kemampuannya terpancing untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya karna pemain dari tim lawan sangat gigih. Mereka tidak menyerah meskipun sudah tertinggal lumayan banyak pada quarter kedua, oleh sebab itu Dhafin terpancing dan menunjukan jati dirinya.


Tentu saja semua penonton dibuat terkejut, entah itu terkejut oleh kemampuan Dhafin dan juga kegigihan lawan dari tim Dhafin. Erina, Reno, dan Desi yang saat itu sedang menonton juga dibuat sangat terkejut terutama Reno dan Desi sementara Erina tidak terlalu.


Dhafin segera kembali keruang ganti setelah semua selesai, dia langsung mendinginkan tubuhnya serta berganti pakaian.


Dia pergi tanpa mengucapkan apapun, dia juga langsung pergi untuk menghindari pertanyaan dari perusahaan majalah olahraga.


Dhafin bersama ketiga temannya berada di kedai ramen saat ini, tujuan mereka sebenarnya untuk mengucapkan selamat kepada Dhafin, tapi Dhafin tidak merasa perlu karna tadi hanya hiburan untuknya dan dia berkata "Kalau mau mengucapkan selamat, ucapkan saja kepada tim basket kita, aku tidak butuh."


Akhirnya tujuan mereka berubah menjadi makan-makan biasa, kedai itu sangat besar malah lebih pantas untuk disebut restoran, tapi apa boleh buat karna nama yang dipakai oleh mereka sendiri bertuliskan 'kedai'. Karna mereka semua baru sampai dan belum memesan apapun, Dhafin berdiri dan ingin langsung menghampiri meja pemesanan karna pelayanan yang sangat lambat. Karna tidak mau ditinggal dan menjadi 1 pria diantara 2 perempuan, Reno ikut berdiri dan mengikuti Dhafin dari belakang.


Erina dan Desi sedang asik berbincang saat ditinggal pergi oleh Reno dan Dhafin, saat Dhafin berjalan kembali dia terkejut karna melihat dengan samar kearah luar, dia melihat beberapa orang membawa Erina dan Desi kedalam mobil putih.


Dhafin dengan panik langsung melempar makanan yang dia bawa tampa mempedulikan sekitar dan berlari keluar sekuat tenaga, benar saja, saat dia sampai diluar meja yang tadinya ditempati oleh kedua temannya sudah kosong.


Dia melihat mobil tadi baru saja berbelok diujung jalan, 'sial!'. Reno yang tidak tau apapun merasa sangat heran, akhirnya Dhafin kembali kedalam dan menghampiri pemilik motor yang baru datang juga tadi.


"Kamu pemilik motor biru diluar sana?." pria itu heran, tapi dia hanya mengangguk kemudian Dhafin kembali bertanya "Berapa cc motormu itu?."


"600" jawab pria itu.


Dhafin dengan tegas berkata "Kemarikan kunci motormu!." pria itu langsung marah karna perkataan Dhafin yang terkesan ngelantur, Dhafin tau kalau sepertinya pria itu kebingungan, oleh sebab itu dia mengeluarkan kartu berwarna silver dari dompetnya dan membantingnya ke meja "Isinya 1 milyar dan tanpa kata sandi, cepat serahkan motormu sialan!."

__ADS_1


Pria itu semakin bingung, tapi dia tidak dapat menolak tawaran Dhafin. Dia bisa membeli motor 1000cc dengan uang itu!, tanpa ragu dia menyerahkan kuncinya kepada Dhafin.


Dhafin langsung berlari keluar setelah menerimanya, sedangkan Reno yang masih kebingungan bertanya "Sebenarnya ada apa?, dan aku harus apa?."


"Apakah kamu masih belum mengerti?, Erina dak Desi baru saja diculik!." setelah mendengar itu Reno langsung melihat kearah meja mereka, dia baru saja sadar dan berkata "Sialan!, kenapa aku baru sadar!. Kalau begitu apa yang harus aku lakukan?."


Saat ini Dhafin sudah berada diatas motor dan menyalakannya, sebelum dia pergi dia berkata "Hubungi keluarga Desi dan minta kirim bantuan untuk membantuku dengan cara melacak nomor ponselku!."


"Baiklah."


*Wushhhhh, Dhafin pergi dengan cepat menggunakan motor itu, dia tidak bodoh, beruntung dia pernah memasukan pelacak kedalam tali tas Erina untuk mengantisipasi hal buruk yang akan datang.


Dia tidak langsung pergi mendatangi Erina, dia pergi untuk mengambil senjata api terlebih dahulu. Dia merasa ingin menghubungi Harold untuk meminta bantuan, tapi dia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada teman-temannya nanti, oleh karna itu dia hanya bisa mengandalkan kemampuannya sambil menunggu bantuan dari keluarga Allens tiba!.


***


Setelah beberapa saat berkendara dan sudah sampai rumah, dia dengan gesit masuk untuk mengambil senjata miliknya diloteng, sebenarnya itu adalah peninggalan ayahnya untuk membela diri dulu.


Kebetulan saat itu bi Siti sepertinya sedang berbelanja bersama pak Eno, dia langsung kembali keluar dan menaiki motornya setelah mengambil 1 pistol dengan beberapa megazine penuh peluru. Dia meletakan megazine itu dipergelangan tangannya menggunakan semacam gelang, setelah itu dia mulai pergi untuk menghampiri lokasi Erina yang ditampilkan dilayar ponselnya oleh Zero.


[*zero hampir saja dilupakan, huft]


Posisinya saat ini sudah berada cukup jauh, dilihat dari layar ponsel, sepertinya mereka berada di bandara yang sudah tidak terpakai di daerah wethelson.


Dhafin merasa aneh, sudah lama semenjak dia meminta Reno untuk menghubungi keluarga Desi, tapi masih belum ada 1 pun bantuan yang datang.


Dia mulai tidak peduli dengan hal itu, yang dia fokuskan kali ini adalah Erina!.

__ADS_1


__ADS_2