IMPIANKU

IMPIANKU
ch.41 (Lebih Rendah Dari Seekor Anjing)


__ADS_3

Ayah Nevan kembali menatapi sekitar dengan perasaan terkejut, dia melihat orang-orang yang dibayarnya sudah jatuh terkapar dan banyak sekali tentara berbaris dibelakang anak yang mengajaknya bicara.


Lalu dia bertanya dengan gugup "Apa...Apa kau Dhafin?".


Dhafin lalu tersenyum polos dan lembut lalu menjawab "Wah senang sekali aku dikenal oleh orang yang tidak kukenal, iya aku Dhafin yang sepertinya musuh besar anak anda." Dhafin melirik kearah Nevan saat mengakhiri perkataannya, itu adalah trik psikologis sederhana yang membuat lawan bicaramu akan mengikuti arah pandanganmu.


Dia semakin dibuat panik oleh keadaan anaknya, Nevan sendiri sudah terbaring lemas sampai-sampai tidak bisa mengucapkan sepatah katapun!.


Dia langsung berlari menghampiri Nevan, dia membalikan tubuh anaknya itu tanpa tau apa-apa. Ya walaupun sebenarnya tubuhnya sudah mati rasa, jadi tidak masalah kalaupun dia digulingkan dijurang.


"Nak kamu kenapa!, bicaralah pada ayah!."


Lalu dia menghampiri Dhafin dan menamparnya.


*Plaakkk.


Suaranya terdengar sangat nyaring, lalu dia berkata "Apa kesalahan anaku sampai kamu berbuat seperti ini sia*an?!."


Dhafin diam sejenak lalu membalas tamparannya itu dengan tamparan yang lebih keras, darah langsung keluar dari hidung pria tua itu. Pria itu lantas terjatuh dan menatap Dhafin dengan takut, dia hanya ditampar, kenapa rasanya seperti dipukul pria bertubuh kekar?.


Lalu Dhafin menatapinya yang duduk ditanah dengan tatapan sinis "Gini ya pak, aku udah berbaik hati menyambutmu tadi. Tapi anda memperlakukanku seperti ini tanpa tau apa yang sebenarnya dilakukan oleh putra bapak?."


Dhafin melanjutkan dengan menggaruk-garuk kepala serta menghembuskan nafas panjang "Aduh pak, anda ini payah sekali dalam mengurus anak ya."


Dhafin kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukan beberapa video yang didapatkan olehnya kalau-kalau Nevan berulah lagi, tak dia sangka bahwa video itu akan berguna.


"Lihat dengan seksama ya pak, jangan sampai anda melewatkan detail sedikit pun walaupun itu hanya seukuran semut."


Pria tua itu beranjak emosi setelah beberapa saat menonton video yang ditunjukan oleh Dhafin, itu adalah video gabungan yang menunjukan kegiatan kekerasan Nevan, dia langsung berdiri dan bertanya kepada nevan. Tapi dia sempat diam sebelumnya "Van, apa itu benar?.”

__ADS_1


Lalu Dhafin berbicara dengan nada menindas "Haha, seperti yang sudah anda lihat. Anak anda sebenarnya itu... Bahkan lebih buruk dari seekor anjing liar."


Dia lalu berjalan kembali kearah Nevan dan menginjak perutnya, lalu bertanya lagi dengan nada marah "Jawab anak bodoh!."


Nevan hanya menahan sakit dan tidak mampu mengeluarkan suara, dia diinjak kencang sekali sampai kembali merasakan sakit.


Dhafin langsung menyeringai "Wah pak..." dia menghampiri Nevan juga dan mengangkat tubuhnya dengan cara menarik tangannya keatas, lalu dia melanjutkan "Anak ini... Tulangnya sudah hancur semua lho, bapak jangan dibutakan oleh amarah dong. Harusnya aku yang melakukan itu, kalau boleh dibilang bapak juga mengambil peran orang bersalah disini."


Dia langsung menoleh panik kearah Dhafin "Apa, apa maksudmu?. Aku bahkan tidak tau apa-apa tentang anak ini, kenapa aku harus terseret?."


Dhafin lalu menunjuknya dan mengatakan "Tepat sekali, disitulah kesalahan anda. Sebagai orang tua, seharusnya anda mendidik, memperhatikan, dan mengawasi anaknya dengan baik, bukannya hanya memanjakannya dan menyanjungnya seperti raja, inilah akibat dari perbuatanmu."


Dhafin memiringkan kepalanya dan lanjut bertanya "Lagi pula, istrimu tidak jauh berbeda denganmu. Dia hanya sibuk mengurusi harta, benar kan? haha."


Dhafin kemudian menyeringai "Aku tidak perlu membalas sesuatu kepada istri anda, karna saat aku melakukan sesuatu terhadapmu, dia akan terkena imbasnya kok."


Dhafin akhirnya duduk santai diatas tubuh Nevan tanpa mempedulikannya "Nah, sekarang saatnya membocorkan tentang identitasku padamu."


Dhafin sangat dibuat kesal oleh pertanyaan itu, dia lalu menendang pria tua itu dengan sedikit keras dan berkata "Anda ini ternyata bodoh ya, bahkan sampai tidak mengerti ucapan yang sudah aku buat menjadi lebih simpel. Aku heran kenapa kamu bisa sukses sedangkan otakmu sangat payah."


Dhafin akhirnya menghampiri Gilbert dan bertanya "Apa kamu membawa barang yang aku minta?."


"Ah." Gilbert mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan melanjutkan "Ini tuan, um maksudku komandan."


Dhafin terus tertawa "Sudah-sudah, aku sendiri jadi terganggu dipanggil seperti itu. Kamu tidak perlu bersikap terlalu formal, santai saja."


Gilbert membalas "Baik, tapi apa tidak berbahaya membeberkan fasilitas yang anda sendiri meminta kami untuk merahasiakannya dari publik?."


"Gak masalah kok, kalaupun terbongkar juga aku bukannya tidak bisa melakukan sesuatu." Dhafin akhirnya mengambil benda itu dari tangan Gilbert dan kembali menghampiri ayah Nevan.

__ADS_1


Saat sampai dihadapannya yang masih duduk kesakitan setelah ditendang oleh Dhafin, Dhafin melemparkan benda yang didapatnya dari gilbert. Pria tua itu keheranan dan langsung bertanya "Apa ini, fasilitas besar ini... Apa maksudmu?."


Dhafin kembali duduk diatas tubuh putranya,lalu tersenyum lagi "Itu adalah foto fasilitas pabrik senjata nomor satu didunia, luas pulaunya 50 hektar. Bahkan tempat itu sudah menjadi langganan negara-negara besar, apa anda tau siapa pemiliknya?."


Dia menggeleng dan bertanya "Memangnya siapa?."


"Aku."


Pria tua itu langsung mematung tidak percaya, Dhafin langsung melanjutkan dengan mendekatkan dirinya ke telinga orang itu dan berbisik "Dan kamu tau GWC yang terkenal itu?, aku dengar kerja sama kalian cukup banyak. Akulah pemiliknya dan bisa memutuskan semua kontrak saat ini juga, nah kira-kira berapa persen kemungkinan bagiku untuk membuatmu bangkrut?."


Dhafin langsung tertawa keras dan berkata "Tentu saja 100%!."


Perasaan Dhafin tiba-tiba saja menjadi bosan, dia tidak punya alasan untuk menghajar ayah Nevan seperti anaknya. Dia juga sedikit tidak tega untuk membuat pria tua yang tak tau apa-apa itu bangkrut, akhirnya dia menghela nafas dan berkata sebelum orang itu mengucapkan sesuatu juga "Sudahlah, tidak perlu meminta maaf. Aku memberimu kesempatan kali ini, hanya saja jika anakmu sembuh dan sampai melakukan hal seperti ini lagi... Aku akan membunuhnya saat itu juga."


Dia melanjutkan "Aku sudah tidak berminat lagi berurusan dengan kalian, author kita bahkan sampai bosan menulis tentang kalian."


Dia berjalan kearah rombongan tentara dibelakangnya dan mengatakan sesuatu sebelum jauh "Hiduplah dengan bahagia di kesempatan kali ini."


Dhafin akhirnya sampai di hadapan Gilbert tanpa menoleh lagi kearah mereka, lalu dia bertanya sambil menunjukan lokasi di ponselnya yang sedikit pecah "Bisakah kamu mengantarkan ku ke tempat ini?."


"Tentu saja bisa."


Dhafin mengangguk "Bagus, kalau begitu tolong urusi area ini dan buka kembali untuk umum. Oh iya, tolong belikan mobil seperti itu dan taruh dirumahku yang ini ya."


Dia melanjutkan sambil mengeluarkan kartu hitam miliknya "Bayar pakai ini, jangan lupa dikembalikan. Untuk upahmu dan kalian semua, beli lah satu barang menggunakan itu, apapun yang kalian mau."


"Baik, terimakasih atas kebaikan anda. Kalau begitu mari saya antar kerumah anda, kalau tidak salah anda hendak menuju ke fasilitas bukan?. Kenapa tidak sekalian saja menggunakan helikopter?."


Dhafin menggelengkan kepalanya dan berujar "Enggak ah, helimu lambat."

__ADS_1


"Benar juga ya, kabarnya anda memiliki pesawat berkecepatan max mach 15."


Para prajurit yang mendengar itu terkejut semua, pada akhirnya Dhafin masuk kedalam helikopter dan pergi meninggalkan Nevan serta para pengikutnya dan ayahnya. Dia berharap tidak bertemu dengan mereka lagi seumur hidupnya...


__ADS_2