IMPIANKU

IMPIANKU
ch.46 (Nostalgia)


__ADS_3

Gavin dengan sigap langsung mengerti dan menarik nafas, lalu dia menyingkirkan gulungan tisue itu dan mengatakan "Ahaha, apaan sih."


Erina dan yang lain hanya bingung menatapi kelakuan mereka, sedangkan Reno yang sudah frustasi karna berusaha mengingat akhirnya mencela mereka dan bertanya "Apa yang sebenarnya terjadi sih?, aku berusaha mengingat tapi tidak kunjung dapat ingatan itu... arrghh"


Desi dan Erina saling menukar pandangan karna ragu apakah harus memberi tahunya atau tidak, setelah beberapa kali bertukar pandang. akhirnya Desi mengangguk dan mulai menceritakan kejadiannya.


Reno kemudian mengangguk setelah mendengar cerita itu "Ohh, jadi orang ini membantu Dhafin?. Haha, ternyata orang seperti Dhafin aja masih memerlukan bantuan."


Dhafin menggeram agak kesal lalu berkata "Diam kau, kamu sekali pukul pingsan cih."


Reno langsung berhenti tertawa dan menggaruk kepalanya, dia lalu menoleh kearah Gavin "Kamu itu, anak pengusaha terkenal kan?. Apa gak masalah gabung sama kita?, nanti beredar rumor jelek lho."


Gavin menggelengkan kepalanya, dan saat itu juga tepat bell masuk berbunyi. Semua orang berdiri, Dhafin mendahului Gavin sambil menaruh kartu namanya diam-diam di saku baju miliknya. Bahkan mungkin Gavin sendiri tidak sadar.


Seisi sekolah dengan cepat langsung membicarakan kedatangan Gavin, apalagi orang yang melihat secara langsung cara Gavin terjun kedalam kelas. Ditambah, wajah Gavin yang dapat bersaing dengan Dhafin, dan semua orang disana berfikir dialah yang paling kaya saat ini disekolah itu selain Desi.


Semua orang disana langsung mengenalinya setelah melihat wajahnya itu, dia selalu muncul di tv, Herannya Dhafin, Desi, dan Erina tidak mengenalinya.


Dia selalu muncul bersama ayahnya di tv, sifatnya itu agak sembrono dan terkadang membuat masalah saat siaran langsung. Tapi masalah itu malah dinilai menghibur karna lucu bagi sebagian besar orang. Bahkan dengan kekuasaannya itu, dia bisa mendapatkan izin berkendara lebih cepat, saat ini dia pergi sekolah menggunakan motornya.


Exterway Group sendiri sudah lama menjalin kerja sama dengan GWC, bahkan sebelum GWC pindah kepemilikan. Dhafin pernah bertemu dengannya saat GWC pindah ke tangan ayahnya, dia datang bersama ayahnya yaitu Steven Murad untuk membahas pembaruan kontrak kerja sama. Kebetulan Dhafin ada disana untuk melihat-lihat, Gavin sendiri dari dulu adalah anak yang ceria dan sedikit ceroboh serta agak bodoh orangnya.

__ADS_1


Dia melihat Dhafin disana sedang berkeliling dengan tatapan datar, dia sangat terganggu dengan orang seperti itu sampai akhirnya memutuskan untuk mengajak Dhafin berbicara.


Dari situlah mereka berdua saling mengenal dan terkadang main sesekali, tapi semenjak kemalangan menimpa keluarga Dhafin dan dia ditunjuk sebagai pewaris sah, GWC jadi sangat tertutup. Bahkan Dhafin tidak pernah menghubungi Gavin lagi, Gavin juga mendengar kabar itu dan sangat sedih. Bertahun-tahun tidak ada kabar tentang Dhafin, ditambah Dhafin yang tidak pernah mengekspos dirinya adalah anak pemilik GWC dulu. Sampai akhirnya dia mendengar bahwa Dhafin sudah kembali sekolah dari ayahnya, ayahnya bisa tau karna bertemu langsung dengan Dhafin, saat itu juga Dhafin hanya mengingat wajahnya tanpa mengingat anaknya yaitu Gavin.


Mendengar hal itu, Gavin langsung mencari tempat dimana Dhafin bersekolah, dia juga sudah berniat untuk tidak membocorkan identitasnya karna dia merasa bahwa Dhafin sengaja merahasiakannya. Dengan kepribadiannya yang seperti itu, tidak mungkin bagi Dhafin untuk menyukai keramaian, tapi hampir saja dia kelepasan hari ini.


Saat jam pulang telah tiba, dia memeriksa saku bajunya karna dari tadi seperti ada yang mengganjal. Dia melihat kartu nama sudah ada di sakunya dan segera menghubungi Dhafin,


Tapi sebelum dia menghubungi Dhafin, sudah ada pesan yang masuk duluan dari nomor itu. Dhafin memberitahunya untuk datang ke lokasi yang diminta pada malam hari, Dhafin sendiri saat ini akan ada urusan lain selama satu bulan kedepan setiap pulang sekolah.


***


Saat hampir sampai di lokasi yang dituju, terlihat sepanjang jalan hanya ada dinding yang sangat tinggi dan terdapat tembok yang baru dibangun.


Dia hanya terheran-heran dan berfikir 'Daerah apa sih itu? luas banget, aku gak pernah denger ada tanah seluas ini. Apa perumahan baru ya?.' batin Gavin. Sampai akhirnya dia sampai didepan gerbang yang sangat besar, dia melihat kedalam dan hanya melihat hamparan rumput yang ditumbuhi bunga-bunga serta pohon yang lebat. Tidak lama kemudian, gerbang itu terbuka dengan sendirinya dan terdengar suara seseorang memintanya masuk.


Gavin menelusuri jalan yang ada disana, hanya ada satu jalan sampai beberapa saat kemudian Gavin melihat ada 2 bangunan ditengah tanah yang luas itu. 'Apa ini hanya halaman?, gila ini sih bisa dipakai main bola untuk beberapa tim sekaligus.' Gavin membatin.


Sepanjang jalan hanya ada lampu-lampu disamping jalan, Gavin sudah sampai di salah satu bangunan rumah dengan disain modern yang sangat elegan. Tidak lama kemudian Dhafin keluar dan menyapanya "Masuklah."


"Ah, oke." Gavin lalu memarkirkan motornya kemudian mengikuti Dhafin masuk kedalam. Dia bertanya saat berjalan kedalam "Ini semua tanahmu?.”

__ADS_1


Dhafin menjawab "Iya, luasnya 4 hektare, baru aku tambah. Tadinya cuma 2 hektare."


"Gila sih, kenapa di tanah yang luas ini hanya sebesar ini rumah yang kamu bangun?."


Mereka sampai diruang tengah, Dhafin duduk kemudian menjawab "Aku membeli tanah seluas ini hanya untuk menghindari keramaian dan bising jalanan, bukan untuk membangun istana."


Gavin menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian dia bertanya "Mana perempuan yang tinggal bersamamu?."


Seorang pembantu datang membawakan minuman dan beberapa snack, kemudian Dhafin menatapnya dan menjawab "Oh kamu tau?."


Gavin mengangguk dan membalas "Iya, banyak rumor yang membahas itu. Namanya Erina kan?, bukankah itu anak yang kamu ceritakan dulu?. Katanya dia teman pertamamu."


"Iya, dia anaknya. Dia berada dirumahku yang lain, aku menyembunyikan identitasku dari yang lain. Jadi dia dan aku tinggal dirumah yang lebih sederhana dengan luas tanah yang masuk akal, oh iya, bagaimana kabar ayahmu? sudah lama dia tidak datang ke kantor pusat."


Gavin melambaikan tangannya dan menjawab "Orang tua itu hanya sibuk bekerja dan tidak sempat berinteraksi denganku, tapi kabarnya sih baik-baik aja. Dia sedang mengerjakan banyak proyek peluasan jaringan keretanya, tidak lama lagi juga dia akan mengajukan kontrak kerja konstruksi dengan perusahaanmu."


"Begitu ya, maaf aku sempat lupa denganmu. Sudah sangat lama semenjak hari itu, tapi dari yang kulihat kamu masih sehat-sehat saja dan masih terlihat bodoh."


Gavin menjawabnya dengan tawa lalu berkata "Ahaha, ya beginilah aku. Oh iya, aku turut berduka dengan musibah yang menimpamu beberapa tahun yang lalau." Gavin melanjutkan dengan melihat tangan serta kaki Dhafin "Kenapa tanganmu diperban dari tadi?, sepertinya kakimu juga."


Dhafin menunjukan tangannya lalu menjawab "Ah ini ya..."

__ADS_1


__ADS_2