IMPIANKU

IMPIANKU
ch.29 (Kerja Part Time)


__ADS_3

*Keesokan harinya


Erina membawa Dhafin ke minimarket tempatnya bekerja, tak disangka ternyata minimarket itu adalah tempat yang kemarin didatangi oleh Dhafin.


"Wah Dek Rin, sudah lama. Kamu sudah siap kembali bekerja?."


Erina mengangguk dengan sopan "Iya sudah, aku juga membawa orang untuk menggantikan kasir yang akan keluar."


Paman itu tersenyum riang, terlihat mereka sangat dekat "Wah siapa yang kamu bawa-."


Saat melihat Dhafin, paman pemilik seakan-akan ingin bersuara tentang kejadian kemarin. Dhafin langsung berinisiatif memberi tanda kepada paman itu untuk bungkam dengan mengedipkan matanya, Erina melihat tingkah laku Dhafin itu "Fin kamu gapapa?."


Dhafin menjawabnya dengan panik "Ah enggak, anu aku kelilipan..... Aduhduh.." kemudian dia kembali berkedip sekali untuk yang terakhir. Paman pemilik yang melihat itu langsung mengerti dan mengangguk, dia juga langsung bertanya seperti biasa "Jadi kamu mau bekerja disini?, temannya Erina ya?. Dia bekerja sangat baik disini, ku harap kamu bisa mencontohnya."


Erina juga langsung menyahut "Iya paman, dia temanku namanya Dhafin dan akan bekerja mulai dari sekarang bersamaku." Erina menginjak kaki Dhafin dan melanjutkan "Iyakan Fin?."


Dhafin merasakan rasa sakit yang menjalar dan segera mengangguk, lalu paman itu menyambutnya dan langsung membawanya masuk untuk memberi seragam "Kalau begitu ayo masuk, seragam kasir lama sepertinya cocok untukmu."


Dhafin menggaruk kepalanya dan segera mengikuti mereka masuk, saat mulai bertugas paman pemilik meminta Dhafin untuk berbicara sebentar dan mempersilahkan Erina untuk mulai bekerja duluan.


***


"Jadi, kamu ingin aku merahasiakannya?." tanya paman itu tanpa basa-basi.


"I..iya, sebagai gantinya aku akan membayarkan kerusakan mobil kemarin dan paman boleh mengambilnya." Dhafin melanjutkan "Tapi jangan sampai dia tau."


Paman itu lalu tertawa dan melambaikan tangannya "Ah tidak perlu, mobil itu aku berikan ke orang lain lagi. Aku tidak terlalu membutuhkannya."


Dhafin terdiam... lalu berbicara "Paman serius? harganya mahal lho, mungkin bisa saja ditukar dengan minimarket ini."


Paman itu lalu batuk kemudian mengatakan "Ah, aku sudah cukup dengan penghasilanku dari ini. Kamu jangan menakut-nakutiku seolah-olah kamu akan menggulung bisnisku ini nanti."


Dia melanjutkan "Aku tetap bosmu disini, jadi kamu mulai lah bekerja. Aku tidak akan memberitahukan kejadian kemarin kepadanya, jadi kamu tidak perlu khawatir. Sana mulai bekerja, minta dik Rin menjelaskan semua peraturan disini."


"Baik."


***


Dhafin berjalan perlahan ke kasir dan dia sudah ditunggu Erina disana, dia sampai disebelahnya dan bertanya "Rin, aku harus bagaimana?. Aku belum pernah memegang komputer kasir, jadi tidak tau cara menggunakannya."


"Sini ku bantu, blablabla...." (note*aku sendiri gak tau caranya hehe)

__ADS_1


Setelah mengajarkan cara oprasional kepada Dhafin, Erina melanjutkan dengan berbicara "Nah fin, untuk peraturan yang pertama... Kamu harus ramah meskipun kepada orang yang tak kamu kenal, jangan samakan sikapmu disekolah dan disini, kamu mengerti."


Dhafin hanya mengangguk patuh, Erina melanjutkan "Udah si sebenernya itu aja. Selama gak ada pengunjung kita dibebaskan melakukan apapun, asal tidak merugikan bisnis."


"Okke deh."


Tiba-tiba pengunjung mendadak ramai, mereka semua adalah perempuan. Suasana jadi sangat ramai dan semua pelanggan mengantri di kasir Dhafin, setelah semua beres Dhafin langsung lemas sehabis melayani mereka semua. "Duh, kenapa ke aku semua sih. Apalagi tatapan mereka sangat menyebalkan."


Erina lalu tertawa "Haha, terimakasih ya tugasku jadi ringan." Dia melanjutkan "Mereka begitu karna parasmu, andai mereka tau sikap aslimu disekolah." Erina lalu terkekeh.


Dhafin lalu bertanya "Kamu kalau ramai selalu seperti ini?."


Erina hanya mengangguk, lalu Dhafin melanjutkan "Kamu gak mau kerja di restoran ku saja?."


Erina hanya menjawab datar dan tegas "Enggak."


"Geh?, kenapa?."


"Karna kamu akan melebih-lebihkan gaji ku nanti, 10 juta perbulan misalnya."


"Eh, enggak lah, mana mungking."


"1 milyar perbulan." jawab Dhafin sambil menyeringai dan mengacungkan jempol, kepala Dhafin langsung dipukul oleh Erina.


"Sudah kuduga, aku juga sudah nyaman bekerja disini kamu faham?."


Dhafin hanya mengangguk sambil memegangi kepalanya, akhirnya jatah kerja mereka sudah habis di hari minggu ini, yaitu setengah hari.


Mereka akhirnya berjalan keluar dan memanggil taksi, sambil menunggu Dhafin bertanya "Siapa yang akan menggantikan kita?."


"Entahlah, aku tidak pernah bertanya. Setau ku ada orang yang kerja paruh waktu selain kita, kalau tidak ada biasanya pak kepala langsung yang berjaga."


Dhafin mengingat saat dia membeli camilan disana memang pak kepala yang menjanganya langsung "Ah iya benar juga, mungkin begitu."


Akhirnya taksi online mereka tiba untuk menjemput dan mengantarkan pulang~


Diperjalanan Dhafin melihat Erina tampak lesu "Rin, mau main?."


Erina terkejut dengan ajakannya "Hm?, kemana?."


"Kamu ingat taman roseline yang dulu kita pernah bertemu?." Erina mengangguk lalu Dhafin melanjutkan "Aku masih heran kenapa kamu ada disana saat itu."

__ADS_1


"Waktu itu aku bekerja disana sebelum bertemu paman kepala."


Dhafin mengangguk "Oh begitu, yaudah kita pulang dulu dan kesana saat sore nanti. Sekarang terlalu panas untuk bermain."


"Ah, baiklah kalau begitu."


Akhirnya mereka sampai rumah dan beristirahat untuk main nanti.


***


Akhirnya sore tiba, Dhafin bersiap-siap dan meminta Erina untuk bersiap juga. Dia meminta pak Eno untuk menyiapkan mobilnya, kali ini dia memakai mobil sedan hitam biasa agar tidak mencolok.


Dhafin bertanya kepada Erina saat berjalan keluar "Gak masalah kan pake mobil biasa?."


Erina menggelengkan kepalanya "Enggak kok, aku malah terganggu kalau menjadi pusat perhatian misal kamu membawa yang bagus nanti."


Dhafin kemudian mengangguk "Baiklah, ayo jalan."


*Bremmmm, dalam 15 menit mereka sampai, taman roseline masih terletak di distrik 9 hanya saja di bagian ujung, jadi agak jauh.


Dhafin memarkirkan mobilnya, lalu keluar dan membukakan pintu untuk Erina layaknya sang putri.


"Ayo keluar, kita akan bersenang-senang hari ini." Dhafin mengulurkan tangannya, sementara Erina menggapai tangannya dan keluar.


Mereka akhirnya masuk kedalam sampai tiba-tiba terdengar suara memanggil Dhafin "Finnn!."


Suara itu terdengar keras dari belakang "Duh perasaanku gak enak." yang ada didalam pikiran Dhafin.


Akhirnya mereka membalikan badan dan mendapati Reno berlari kearah mereka, Dhafin terkejut kesal "Benar kan aku bilang juga, anak ini kenapa muncul disaat yang tidak tepat sih." ucap Dhafin emosi didalam hati.


Tapi yang bisa dia lakukan diluar hanya tersenyum dan bertanya "Oh.. Reno, sedang apa?."


Reno masih terengah-engah karna habis berlari "Haha aku tidak menyangka akan bertemu kalian disini."


Lalu Dhafin memikirkan sebaliknya di otaknya "Rumah kami disini jadi wajar, justru aku yang heran kenapa kau bisa sampai sini bodoh!."


Lalu reno melanjutkan "Tentu saja aku kesini untuk bermain, aku kemari bersama adik ku."


Dia melanjutkan dengan ekspresi menggoda Dhafin "Hei-hei, kami boleh ikut main bareng kan?."


Lalu Reno memanggil adiknya "Ini adik perempuan ku, dia masih kelas 2 SMP.", dia menatap Dhafin dan kembali bertanya "Gimana boleh kan?."

__ADS_1


__ADS_2