
Esoknya Dhafin terbangun dengan isi kepala yang masih mengingat hari kemarin, bahkan sampai terbawa ke alam mimpi. Dia segera bersiap untuk berangkat sekolah, Dhafin dan Erina sampai disekolah pukul tujuh tigapuluh pagi. Lobi depan sekolah itu sudah selesai diperbaiki dalam waktu satu hari, bahkan tidak terlihat seperti ada bekas kecelakaan disana, hanya saja terdapat 2 rangkaian bunga dilantai.
Erina beserta Dhafin segera menuju ke kelas mereka, karna masih terlalu pagi seluruh kelas juga masih terlihat sepi. Tidak lama kemudian Desi datang memasuki kelas dan segera menghampiri Dhafin lalu bertanya "Kamu udah mendingan Fin?."
Dhafin mengacungkan jempolnya lalu berkata "Tentu saja!, orang sepertiku tidak butuh waktu lama untuk merenung. Oh iya, sepulang sekolah mau belajar bareng lagi gak? ajak Reno sekalian."
Desi terkejut sama halnya seperti Erina kemarin dan langsung berkata "Dhafin, kamu semalam mimpi apa?." Dhafin mengingat lalu menjawab "Aku?, semalam hanya gelap dan hitam. Sepertinya aku tidak memimpikan sesuatu. memangnya ada apa?."
Dengan wajah yang masih keheranan Desi membalas "Enggak. aneh aja gitu..." disaat itu juga Reno memasuki kelas dan langsung dipanggil oleh Desi "Reno-reno, sini deh... Dhafin hari ini mengajak kita duluan untuk belajar, bukankah sangat aneh?."
"Whoa, iya... Ini sih dimensi ultramen aja pasti kaget dan dibuat sakit jantung."
Dhafin dengan kesal membalas mereka berdua "Jadi kalian mau gak sialan?, kalau enggak tinggal bilang ck."
Mereka berdua tertawa dan Erina pun ikut tertawa, wajah Dhafin memerah karna malu terus berkata lagi "Gimana?, mau gak?."
Desi membalas dengan tenang "Tentu saja mau, siapa sih yang akan menolak kalau dia akan dibuat menjadi pintar?. Lagi pula cara mengajarmu terkesan lebih mudah dimengerti dari pada pak Anton!, tentu saja kami mau."
Dhafin mengangguk "Oke kalau begitu, hari ini kita belajar di perpustakaan sekolah aja."
Tidak lama kemudian bell masuk berbunyi dan pak Anton sudah ada didepan pintu kelas, seluruh siswa tentu saja langsung duduk di tempatnya masing-masing dengan tertib tidak seperti kalian!.
__ADS_1
Pak Anton berjalan masuk seperti biasa, hanya saja kali ini ada seorang remaja yang mengikutinya dari belakang. Orang itu terlihat seperti orang asing dengan tinggi 170 centimeter, rata-rata siswa disana memiliki tinggi 175 centimeter yang membuatnya tergolong menjadi orang paling pendek.
Walaupun pendek fisiknya cukup baik, pak Anton tidak lama kemudian menerangkan tentang dirinya dan siapa dia serta mau apa dia. "Anak-anak, dia adalah siswa asing yang datang melalui program pertukaran pelajar. Dia berasal dari Negri sakura yaitu jepang dan dia sudah fasih menguasai bahasa kita, mulai hari ini dia akan menjadi bagian dari kelas 3-1, oleh karna itu berteman lah dengan baik!." pak Anton menoleh kearah siswa asing itu lalu berkata "Baiklah, kamu perkenalkan dirimu."
Dia terlihat mengangguk dan langsung menghadap kearah seluruh siswa disana kemudian membungkuk sedikit dan tegap kembali sebelum berbicara "Nama saya Masao Mitsuya, dan mulai hari ini aku akan menjadi bagian dari kelas ini." dia kembali membungkuk sambil berkata "Mohon bimbingannya!."
Semua siswa didalam kelas langsung membicarakannya dengan berbagai macam topik dan salah satunya ada yang heran, karna sangat jarang ada pertukaran pelajar disaat seperti ini. Selain itu ada yang memujinya atas sikap dan tata kramanya, sedangkan Dhafin kembali menundukkan tubuhnya untuk kembali tidur.
Di suasana yang agak gaduh itu pak Anton angkat bicara "Baiklah, kalian semua diam dan untuk Masao silahkan duduk di kursi kosong disamping anak yang sedang tertidur itu."
Dhafin tidak peduli dan tetap melanjutkan tidurnya, setelah sampai disana Masao malah menyapa Dhafin karna dia lihat Dhafin baru saja menundukkan kepalanya dan pasti belum tertidur.
Masao berkata dengan wajah tersenyum "Mohon bantuannya untuk tahun terakhir ini."
Saat pelajaran hendak dimulai tiba-tiba seseorang datang dan mengetuk pintu kelas, dia adalah ketua klub basket. Disekolah itu anak kelas 3 tidak dilarang untuk mengikuti kegiatan klub, hanya saja sifatnya tidak wajib juga untuk diikuti dan hanya sekedar untuk hiburan. Bisa saja kalau mau serius dan mengikuti lomba di klub yang dipilih, hanya saja pihak sekolah tidak bertanggung jawab atas nilai mereka kalau-kalau menurun nantinya.
Dhafin heran untuk apa dia di kelas 3-1, karna setau Dhafin hanya dia yang bergabung didalam klub basket dan itupun jarang terlihat hadir di lapangan ataupun diruang klub.
Dia menyapa pak Anton terlebih dahulu sebelum meminta izin untuk memanggil Masao, Dhafin mengerti, sepertinya Masao tertarik dengan basket dan berniat untuk bergabung kedalam klub basket disekolah.
Dhafin hanya membatin didalam hati 'Wah, percaya diri sekali dia dengan nilainya sampai masuk ke dalam sebuah klub.' dia berucap seperti itu karna sejauh ini hanya dirinyalah siswa dari kelas tiga yang ikut dalam sebuah klub dan tidak khawatir dengan nilai.
__ADS_1
Masao kemudian berdiri dan pergi mengikuti ketua klub basket yang bahkan Dhafin sendiri tidak mengetahui namanya, termasuk saya.
Pak Anton berucap saat mereka berdua sudah pergi "Baiklah anak-anak, mari kita mulai pelajarannya. Keluarkan buku catatan kalian dan blablabla....."
***
Sepulang sekolah Dhafin pergi berjalan menuju perpustakaan bersama yang lain dan melewati gedung olahraga untuk klub basket, dia melihat Masao sedang ada disana. Ketua yang saat itu juga sedang ada disana melihat Dhafin dan langsung menghampirinya kemudian memberikan selembar kertas sebelum berkata "Senior, kaka bilang kan kalau ada perlombaan aku harus memberi tahukan kepadamu. Ini adalah jadwal turnamen daerah yang akan digelar bulan depan!, Sepertinya senior yang dari kelas kaka itu juga tertarik."
Dhafin hanya mengangguk kemudian berkata "Begitu ya, aku gak terlalu peduli sih. Hanya saat saat turnamen akan dimulai aku akan ikut, lumayan bosan soalnya."
Ketua klub itu membungkuk dan berterimakasih "Baik kak, saya pergi dulu." biar bagaimanapun ketua klub basket adalah siswa kelas dua dan tetap adik kelas dari siswa kelas tiga, sudah sewajarnya mereka bersikap sopan.
Masao melihat Dhafin juga dan segera memanggilnya, Dhafin hanya diam dan berbalik sambil berkata "Siapa dia langsung memerintah begitu saja."
Karna tau panggilannya tidak ditanggapi akhirnya Masao yang pergi menghampiri Dhafin, "Hei kamu, katanya kamu jago main basket iya kan?. Mau coba bertanding denganku?, aku sangat penasaran."
"Enggak." Jawab Dhafin dengan ekspresi datar diwajahnya. Masao bertanya dengan wajah heran "Kenapa?, bukannya kamu menyukai basket?, Ketua klub bilang kamu yang paling jago diantara anggota klub."
Dhafin menyeret Erina kepelukannya dan berkata "Aku harus mengajari mereka semua hari ini, jadi lain waktu saja." wajah Erina dibuat memerah oleh Dhafin, dia yang menyadari hal itu langsung melepaskan rangkulannya dan berkata "Yahh, jadi gitu deh."
Reno yang hanya diam tiba-tiba berbicara "Terima aja tantangannya Dhaf, kan belajar bisa nanti lagi atau bahkan besok." Erina dan Desi juga ikut mengangguk dan setuju dengan perkataan Reno.
__ADS_1
Dhafin menghela nafas panjang sebelum akhirnya berkata "Kalau kalian yang meminta mau bagaimana lagi." dia menoleh kearah masak lalu melanjutkan "Aku terima tantanganmu, ayo kita bermain satu lawan satu."
Masao tersenyum dan mengangguk...