IMPIANKU

IMPIANKU
ch.54 (Pebasket Handal)


__ADS_3

Dhafin, Masao, dan yang lainnya saat ini sudah ada di dalam gedung olahraga. Semua anggota klub basket yang lainnya juga ada disana untuk melihat pertandingan antara dua orang, yang satu memang ahli dan yang satu lagi belum diketahui.


Dhafin teringat sesuatu saat sudah berada di lapangan "Oh iya, aku lupa tidak mem-." Masao langsung menyela dibagian ini dengan mengatakan "Sepatu kan?, gak masalah kok." setelah mengucapkan itu seorang yang nampaknya adalah adik kelas mereka datang dan memberikan sepasang sepatu basket, Masao kemudian menambahkan "Itu adalah sepatu miliknya dan kebetulan ukurannya sama denganmu, jadi pakai saja."


Dhafin bertanya kepada Masao sebelum mengambil sepatunya "Bagaimana kamu tau ukuran kakiku?." ketua klub menjawab "Saat mendaftar ada bagian yang harus diisi dan itu termasuk ukuran sepatu kalau-kalau butuh sepatu cadangan saat turnamen, dan sayalah yang memberi dia informasi itu karna kebetulan dia yang memintanya."


"Oh, begitu ya. Yasudah kalau begitu, ayo kita mulai bertanding."


Guru pembimbing dan sekaligus pelatih yang sedang ada disana untuk melatih anak-anak diminta untuk menjadi wasit dan pelempar bola, dia setuju karna dia juga ingin melihat permainan Dhafin. Sejauh ini dia hanya mendengar rumor betapa hebatnya Dhafin di lapangan dari anak-anak didiknya, oleh sebab itu dia ingin melihatnya secara langsung hari ini.


Dhafin mengganti sepatunya kemudian melepas almamaternya dan bersiap ditengah lapangan, Masao juga melakukan hal yang sama dan mereka berdua sudah bersedia.


*Prittt!


Peluit dibunyikan dan bola sidah dilempar keatas, ada kejadian yang mengejutkan disini bahkan sampai Dhafin itu sendiri tidak bisa merespon. Masao yang memiliki tubuh lebih pendek dari Dhafin dapat mengambil bolanya sebelum Dhafin, itu artinya kekuatan lompatannya sangat menakjubkan atau dia memakai cara lain. Masao sudah melakukan drive kearah ring basket milik Dhafin, tersadar karna sudah tertinggal jauh, Dhafin langsung menyusul dengan melesat sekuat tenaga.


Dalam waktu singkat, Dhafin berhasil menyusul Masao yang sudah tepat berada didepan ring. Tentu saja hal itu kembali membuat seluruh orang yang ada di lapangan terkejut, bahkan anak-anak yang pernah melihat Dhafin bermain juga masih tidak percaya dengan kecepatan itu. Sejauh ini, mereka sendiri belum pernah melihat Dhafin melakukan manuver yang sangat tajam!.

__ADS_1


Masao juga sangat terkejut ketika melihat Dhafin tiba-tiba ada didepan dan menjaganya, dia lantas terpeleset karna kaget dan membuatnya terjatuh serta melepaskan bola yang saat itu ada di genggamannya. Melihat hal itu Dhafin langsung memutar tubuhnya agar tidak mengenai Masao dan mengambil bola yang ada di udara dengan satu tangan, kemudian dia langsung menembak tree point dari tempat itu tanpa maju selangkah pun.


Bolanya melambung sangat tinggi, guru pembimbing yang melihat itu langsung dibuat menganga oleh tembakan yang sangat indah itu. Biasanya kalau orang melakukan shot dengan sangat tinggi maka tidak akan terasa getaran dan feelingnya, tapi anak itu sangat berani untuk melakukan Shot dengan sangat tinggi dan bahkan dari tempat yang lebih jauh dari setengah lapangan.


Tapi kekaguman itu tidak berhenti sampai disana, tembakan yang tadinya diduga tidak akan masuk oleh semua orang ternyata dapat masuk bahkan tanpa menyentuh ring walaupun hanya 1 milimeter.


Erina yang sudah tinggal bersama Dhafin bahkan tidak mengetahui kalau Dhafin memiliki kemampuan dalam permainan basket, dia hanya bisa terpaku diam sambil terus melihat jalannya pertandingan antara dua orang itu.


Peraturan yang dibuat sejak awal adalah orang yang sudah menyentuh angka 20 atau lebih, maka dia akan dinyatakan sebagai pemenangnya. Dhafin sudah mencetak 3 angka pertamanya, dia kemudian menoleh kearah Masao yang masih terduduk dibelakangnya lalu berkata "Sayang sekali aku tidak akan mengalah pada permainan yang aku suka, kamu gak akan bisa mencetak satu angka pun."


Akhirnya mereka berdua kembali ke tengah lapangan dan mulai mengoper bola dari Masao ke Dhafin dan dari Dhafin dikembalikan kepada Masao untuk memulai lagi gamenya, saat Masao sudah diberikan bola, dia akhirnya mulai melakukan dribble untuk mengecoh Dhafin. Sayangnya penglihatan Dhafin sangat bagus dalam memprediksi gerakan, begitu Masao akan memotong, Dhafin langsung merebut bolanya tanpa bergerak dari tempat dimana dia berdiri.


Masao langsung berhenti dan berbalik, begitu dia melihat Dhafin ternyata Dhafin sudah dalam posisi siap menembak. ’Lagi-lagi dia melakukan tembakan jauh itu?’ batin Masao, guru pembimbing yang melihat shot itu untuk kedua kalinya sudah benar-benar yakin kali ini bahwa itu bukanlah kebetulan melainkan kemampuan!.


Guru itu mengingat seorang pemain legenda yang mahir melakukan shot super jauh yang bahkan bisa dilakukan dari seluruh jangkauan lapangan, orang itu seumuran dengannya pada masanya dulu dan bahkan dia adalah teman sekelas sang pembimbing itu. Dia sudah menjadi atlet NBA yang saat ini sudah pensiun, tapi dia membangun karirnya sejak masih duduk di bangku SMP.


Terlihat sangat jelas bahwa postur gerakan Dhafin sangat mirip dengan orang itu, tapi dia hanya bisa mengubur pernyataan itu dan pertanyaan yang ada didalam pikirannya.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya Dhafin sudah mendapatkan 18 angka yang diperolehnya hanya dengan melakukan shot. Sedangkan Masao tidak diberi celah walaupun hanya sedikit oleh Dhafin, artinya dia belum mencetak angka satupun!.


Pada putaran kali ini, bola pertama akan dipegang oleh Dhafin. Saat itu, Dhafin tiba-tiba menyeringai kecil lalu memindahkan bolanya ke satu tangan. Seluruh orang disana dibuat fokus kepada bola sampai akhirnya bola itu diangkat menggunakan satu tangan, lalu dia melemparkan bola itu tanpa ada ekspresi ragu sedikitpun diwajahnya.


Tak disangka lemparan yang hanya menggunakan satu tangan itu masuk kedalam ring dari jarak setengah lapangan, bahkan Dhafin melemparnya saat dia menunduk dan memejamkan matanya!.


Semua orang terdiam sampai akhirnya mereka semua memberikan tepuk tangan untuk Dhafin, Masao yang sudah kalah saat itu hanya tersenyum dan berkata "Haha aku kalah, kamu benar-benar menepati perkataanmu untuk membuatku tidak mencetak angka!."


Setelah mengatakan itu Masao terjatuh dan duduk di lapangan, saat Dhafin mengulurkan tangannya dan bertanya, dia hanya menjawab "Gak masalah, aku hanya lelah. Kakiku gemetar karna berusaha mengikuti gerakanmu, aku hanya perlu istirahat."


Akhirnya Dhafin membantu Masao untuk pergi menuju kursi yang ada disamping lapangan, setelah itu dia berkata "Kamu bukannya lemah, hanya saja aku yang bermain berlebihan. Untuk seukuranmu itu sudah sangat baik dan bahkan sampai bisa mengalahkan lawan yang lebih tinggi darimu dalam jump ball, latihan saja lebih giat lagi dan kembangkan staminamu."


Masao tertawa sebelum menjawab "Hahaha, padahal aku yang memilih dan memutuskan untuk memakai seluruh lapangan. Tapi akulah yang paling lelah, kamu bahkan tidak terlihat terengah-engah dan hanya berkeringat."


Anak-anak anggota klub langsung mengelilingi Dhafin dan memujinya, "Ini sih kalau senior ikut dalam turnamen kita bisa menang dengan mudah!." ucap salah satu anggota klub, Dhafin hanya tertawa dan berkata "Yasudah aku mau pulang dulu, bajuku sudah basah semua."


Anak-anak itu langsung memberikan jalan untuk senior mereka, sementara guru pembimbing masih melihat Dhafin dengan tatapan kagum. Dhafin akhirnya berjalan menuju Erina dan teman-temannya...

__ADS_1


__ADS_2