IMPIANKU

IMPIANKU
ch.64 (Penculikan 4 END)


__ADS_3

Dhafin berhasil melompat kesamping dan menghindari kotak-kotak yang terjatuh, tapi tanpa dia sadari ada sebatang besi runcing yang terjatuh dari atas dan menusuknya di perut bagian kiri sampai tembus kebelakang.


Dia tidak merasa sakit langsung setelah besi itu tertancap, besi itu menusuknya dengan cepat sampai tubuhnya tidak bisa merespon lukanya. Barulah setelah beberapa saat, rasa sakit yang luar biasa mulai datang.


Dia merasakan sakit, tapi dia merasa tidak boleh mencabut besi itu, karna ukuran besinya tidak terlalu panjang dia jadi membiarkannya tetap tertancap disana. Dhafin tidak mencabutnya karna akan lebih berbahaya ketika besi itu dicabut, jika besi itu dicabut maka bekas tusukannya akan meninggalkan sebuah lubang yang membuat darahnya mengalir dengan deras keluar dari tubuhnya.


'Lubang dibahuku saja sudah cukup menguras darah, sekarang ditambah lagi?, sial!.' batin Dhafin yang sudah mulai kehilangan kesadarannya.


Saat itu juga kebetulan dia melihat sisa satu musuhnya itu sedang ada didepannya dengan posisi membelakangi, sepertinya dia tidak sadar kalau Dhafin jatuh kesana karna debu yang sangat banyak.


Dhafin dengan cepat memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas serangan, dengan posisi musuh yang seperti itu, akan sangat sulit baginya untuk menghindari sebuah peluru!.


*Dorr


Dengan gesit Dhafin mengarahkan tembakannya itu ke kepala musuh sambil berkata 'Maaf.'


Setelah itu Dhafin kembali terjatuh karna sudah sangat lemas, darahnya sudah berkurang sangat banyak. Dia masih ingat bahwa ada satu orang lagi yang perlu dia tangani, tapi dengan kondisinya saat ini akan sangat mustahil baginya untuk kembali bertarung, oleh karna jtu dia mulai memikirkan cara untuk mengalahkan musuh.


Sementara itu ditempat lain, bos dari para penjahat itu sibuk mengikat Erina dan Desi di sebuah gudang bawah tanah yang terletak agak jauh dari sana. Karna suasana yang sangat sepi dia dapat mendengar semua kegaduhan yang terjadi didalam hangar, dia hanya menyeringai dan berkata "Wah, kelihatannya disana sedang seru sekali ya, aku ragu kalau teman kalian itu masih hidup."


Dalam beberapa detik kemudian suasana kembali menjadi sangat hening dan membuatnya heran "Apakah sudah selesai?, aku kesana dulu ah.."


Dia kembali naik keatas dan berjalan dengan santai tanpa dia sadari sudah ada yang mengamatinya semenjak dia memindahkan Erina dan Desi, dia sudah sampai didepan pintu hangar dan menguping sejenak "Hm, sudah tidak ada suara, jadi aman dibuka kan?."


Tangannya secara perlahan meraih gagang pintu dan membukanya dengan lembut, dia mengintip terlebih dahulu dan mendapati bahwa kondisi didalam benar-benar sudah kacau.


Oleh sebab itu dia langsung membuka pintu secara keseluruhan dan masuk kedalam, dia melihat 1 anak buahnya sudah tergeletak diatas genangan darah, dia hanya berkata seorang diri "Hmm, mati ya, lemah."

__ADS_1


Saat itu juga Dhafin muncul dibelakangnya secara tiba-tiba dan langsung menembak kepalanya, tembakan itu tidak bisa dihindari karna jaraknya yang cukup dekat, dengan cepat bos dari penjahat itu terjatuh dan darahnya berceceran.


Kondisi Dhafin sudah benar-benar dalam keadaan buruk, pandangannya semakin kabur dan sakit yang luar biasa terasa dikepalanya, secara bersamaan pintu kembali dibuka dengan dangat keras. Dhafin terkejut karna panik dan langsung menoleh kebelakang, saat melihat sekumpulan orang bersenjata dan Erina beserta Desi berada dibelakang mereka dia sedikit lega "Ah.... bantuan ya..."


*Brukk


Dhafin merasa kalau mereka sudah keluar dari kondisi yang membahayakan, oleh sebab itu otaknya memberi sinyal untuk mematikan semua kinerja tubuh sementara agar beristirahat, dengan kata lain dia pingsan.


***


16 jam kemudian....


Dhafin tersadar didalam ruangan yang langit-langitnya tidak dia kenali, tubuhnya terasa lemas sampai-sampai dia tidak bisa me


menggerakannya. Beberapa saat kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan itu, dia adalah Erina.


Dia hanya menangis tanpa berbicara sedikit pun, Dhafin akhirnya angkat bicara "Duh duh, sakit nih.... Kenapa harus nangis sampai segitunya sih."


Erina langsung melepas pelukannya dan berdiri tegak, dia menyeka air matanya sebelum berkata "Ah maaf, aku hanya senang kamu sadar dalam waktu singkat."


"Ahaha, bisa kah kamu membantuku untuk duduk?.", Erina menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tegas "Enggak-enggak, luka luarmu masih basah, jadi gak boleh banyak bergerak."


Dhafin menghela nafasnya "Huh, kalau begitu tolong hubungi nomor yang akan aku berikan dan minta padanya untuk membawa 'penutup' kesini."


"Baiklah."


Dhafin memberikan nomor ponsel Jacob kepada Erina, setelah menunggu beberapa puluh menit terdengar suara ketukan di pintu. "Masuklah." ucap Erina, dia melihat pria yang terlihat sangat dewasa menggunakan kacamata berjalan masuk sambil membawa koper berwarna hitam.

__ADS_1


"Bukankah itu Jacob?."


Dhafin mengangguk "Iya, seingatku kamu sudah pernah melihatnya."


Erina bangkit dari kursi agar jacob bisa duduk, jacob duduk dengan wajah agak sedikit kesal "Duh, kenapa kamu merepotkanku di jam kerja seperti ini sih?. Ngomong-ngomong kenapa lagi kamu bisa babak belur kayak gini?."


Dhafin dengan gugup menjawab "Ahh, anu... ada sesuatu tadi."


Erina hanya diam karna bingung melihat pembicaraan antara orang tua dan anak muda yang kelihatannya sangat dekat.


Tidak lama kemudian Jacob membantu Dhafin untuk duduk dan saat itu juga Erina dengan cemas berkata "Dokter bilang kamu gak bo-."


"Sudah percaya saja, dia ini dokter genius yang sudah terkenal di seluruh dunia." ucap Dhafin yang memotong perkataan Erina.


Setelah dia duduk dengan sempurna, Jacob dengan perlahan membuka perban yang membalut perut serta bahu kanan Dhafin. Saat perban sudah terbuka seluruhnya, dia berkata "Ini sudah dijahit dengan rapat, kalau begitu spray cuma akan menyembuhkan luka luarmu sementara yang didalam akan tetap sama."


Dhafin membalas dengan ringan "Gak masalah, seperti biasa, lakukan tanpa ragu, aku bisa mengurangi pergerakanku nanti."


Jacob mengangkat bahunya dan berkata "Terserah kamu aja deh." disaat yang bersamaan dia menyemprotkan sebuah cairan kearah luka Dhafin, dengan cepat cairan itu meresap dan luka Dhafin sudah tertutup dengan rapat.


Dhafin berkata kepada Erina yang sedang takjub melihat itu "Inilah teknologi nano yang aku maksud dulu, keren kan?."


Dhafin kembali berbicara, kali ini tertuju kepada Jacob "Bisa kamu membantuku untuk memasang perbannya lagi agar yang lain tidak curiga?."


Jacob mengangguk dan mulai memasang perbannya kembali ke tubuh Dhafin.


Setelah semuanya selesai dipasang dan Dhafin sudah memakai bajunya kembali, Jacob pamit untuk segera pergi karna masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Sebelum melangkah keluar, dia menyuntikan sesuatu kedalam infus milik Dhafin, dia berkata setelah selesai menyuntikkannya "Itu akan membantumu dalam proses pemulihan organ dalam, aku pergi dulu."

__ADS_1


Dhafin berterimakasih dengan riang "Kamu memang pengertian ya, yasudah sana."


__ADS_2