
"Jadi satu tahun setelah kita berpisah, ada tragedi di gedung kantor milik ayahku. Saat itu aku dan ibuku juga ada disana sedang berkunjung, tapi saat kami semua berkumpul dilantai 1 tiba-tiba terjadi ledakan di lantai atas dan kebakaran yang cukup besar saat itu. Tentu saja kami semua langsung berlari keluar gedung, saat semua sudah keluar kami baru menyadari bahwa ibuku masih ada didalam dan belum keluar."
"Tentu saja ayahku dengan sigap kembali kedalam, meski sempat dihadang oleh beberapa petugas dia tetap memberontak dan lari kedalam gedung. Aku tidak terlalu melihatnya dengan jelas karna ada satu petugas yang menutupiku, tapi yang pasti beberapa saat setelah itu terjadi ledakan lagi dan.... dan pasti ayah dan ibu tidak selamat dalam ledakan itu. Semenjak hari itu aku hidup sendiri, tak lama ada satu karyawan yang dulunya sangat dipercaya oleh ayah... Ternyata dia dalang dari semuanya, dia yang menanamkan bom dan melakukan tindak korupsi untuk mengambil alih perusahaan ayahku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, dia menyerahkan aku ke panti asuhan dengan alasan kalau tidak ada yang mengurusi aku setelah keluargaku meninggal dan bangkrut. Sejak hari itu aku selalu hidup seperti ini sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi, dan bekerja sendiri."
Dhafin menghela nafas sebelum membalas "Kalau begitu apa kamu mau tinggal dirumahku?, kedua orang tuaku juga sudah gak ada jadi aku cukup kesepian." Dhafin melanjutkan dengan senyum "Kamu gak perlu khawatir repot disana nanti, ada pembantunya kok, gimana menurutmu?." Dhafin melanjutkan sambil mengeluarkan ponselnya "Tunggu sebentar, aku ingin menghubungi seseorang."
Erina hanya mengangguk pelan dan tidak bersuara, sementara itu, Dhafin keluar ruangan untuk menghubungi pak Budi kalau dia ingin tinggal dirumah lamanya sampai waktu yang belum ditentukan. Dhafin juga meminta untuk beberapa pembantu ikut dengannya 1 atau 2, suara di ponsel mengatakan "Baik Dik Dhafin, akan kami urus segera dan besok akan bisa ditempati lagi."
Dhafin kembali masuk dan memastikan hal yang dia tanyakan tadi "Jadi bagaimana keputusanmu?, ya mungkin rumahku tidak sebesar rumahmu yang dulu. Tapi setidaknya tidak terlalu sempit, kalau mau besok kamu bisa mulai pindah ke rumahku. Perihal izin dan sebagainya biar aku yang urus!, bagaimana?."
Karna merasa yakin dengan perkataan Dhafin, Erina menyetujuinya dengan satu syarat.
"Apa syaratnya? aku gak akan sembarangan masuk ke kamarmu kok." ucap Dhafin dengan meyakinkan.
Erina menggelengkan kepala dan berkata "Bukan itu, hanya saja aku ingin tetap bekerja untuk hidupku sehari-hari."
Dhafin menghela nafas lega "Kalau hanya itu tidak masalah, tapi ringankanlah pekerjaanmu nanti." Dhafin melanjutkan "Kalau begitu mukai besok kamu bisa pindah ke rumahku, besok izin saja untuk beres-beres." rencananya Dhafin juga akan merahasiakan jati dirinya dari Erina.
Tiba-tiba Erina menjawab "Ehh?, tapi kita baru saja bolos-..."
"Sudah tidak masalah, kalau kamu lupa pelajaran aku yang akan mengingatkannya haha."
Disaat itu juga makanan yang dipesan oleh Dhafin sudah tiba.
*tok tok tok, "Permisi, pesanan anda tuan."
"Ah iya silahkan masuk." Dhafin melanjutkan bicaranya kepada pelayan "Taruh saja dimeja jangan dilantai, kalau dilantai gak sopan."
"Baik tuan." jawab sang pelayan dengan berfikir didalam hatinya "Tanpa diberi tahu aku juga tahu dasar anak muda."
"Kalau begitu saya permisi dulu, bilang saja kalau perlu sesuatu."
"Iya sudah sana hus hus..." Erina yang melihat sikap Dhafin hanya bisa tertawa pelan.
__ADS_1
Dhafin melanjutkan percakapannya dengan Erina "Silahkan dinikmati hidangannya."
Erina melihat kalau itu semua adalah makanan mahal, dia lantas bertanya "Dhafin, apakah kamu yang akan membayar semua ini?, ini terlihat sangat mahal."
Dhafin menjawab sambil mengibaskan tangannya "Ah tidak kok, tidak semahal kelihatannya. Kamu makan saja."
Mendengar itu Erina ingin mengambil papan menu yang ada di meja samping interkom, sebelum dia Dhafin segera mengambilnya "Sudah makan saja sana, nanti ku habiskan lho!."
"Ah iya, aku lapar."
"Makannya gausah kemana-mana, duduk dan nikmatilah hidangannya."
Akhirnya mereka menyantap semua sampai habis.
Saat perjalanan pulang, Dhafin mengantar Erina sampai ke rumahnya. Erina hanya tinggal di kos-kosan kecil yang kumuh "Hei Erina, kamu serius selama ini tinggal disini?."
Erina menoleh kearah Dhafin "Iya, kamu pikir dimana lagi. Aku harus bersyukur karna masih memiliki tempat berteduh."
Dhafin hanya bisa tersenyum melihatnya "Ah, kalau begitu jangan lupa berkemas yang rapih. Aku akan menjemputmu besok, aku pulang dulu~"
Dhafin membalikan badannya dan mulai pergi, sementara Erina tetap menatapi punggungnya dari belakang sampai dia tidak terlihat.
Keesokan harinya Dhafin menjemput Erina menggunakan mobil, ada juga mobil pengangkut barang yang mengikuti nya dari belakang.
Erina awalnya tidak tau sampai Dhafin keluar dari mobil miliknya "Dhafin, kamu bisa mengendarai mobil?. Kamu kan belum mempunyai SIM!, bagaimana kalau ditilang?."
Dhafin menggaruk kepalanya dan menjawab "Hehe, aman kok selama aku mengemudikannya dengan benar, makannya kamu jangan kasih tau siapa-siapa ya."
"Ah iyadeh."
Dhafin mengangkat barang Erina untuk dipindahkan ke mobil pengangkut "Ayo kita berkemas sebelum siang, nanti panas kasian kamu." Dhafin melanjutkan "Pak ayo bantu, aku membayar kalian bukan cuma untuk melihat."
"Ah iya..."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, semua barang sudah selesai dipindahkan. "Bapak duluan aja ke alamat yang sudah saya kasih, awas nyasar ke hutan belantara nanti bahaya."
"....Okke."
Dhafin kemudian memalingkan pandangannya menuju Erina "Kalau kamu sama aku, ayo naik." Dhafin bergegas membukakan pintu mobil untuk Erina "Wanita duluan."
Saat diperjalanan Erina bertanya "Apakah rumahmu jauh?."
"Eh... iya agak jauh lagi sih, aku setiap sekolah naik kereta bawah tanah, apa kamu keberatan? atau mau naik mobil aja?."
"Ah tidak, lebih baik kereta bawah tanah saja."
Ditengah-tengah Dhafin tiba-tiba berbelok kearah lain tidak mengikuti mobil pengangkut barangnya itu "Hei Dhafin, kita mau kemana?."
"Belanja."
"Belanja apa? sayur?, jam segini gak mungkin ada yang buka, paling hanya ada di super market."
"Bukan, belanja kebutuhan sekolah. Buat kamu, aku liat punya kamu sudah seharusnya diganti sejak lama, kalau kamu menolaknya aku akan turun dari mobil dan tidur ditengah jalan."
"....Oke terserah kamu." Erina melanjutkan "Kita ke pasar tradisional saja, disana murah-murah."
Dhafin menjawab dengan yakin "Iya memang, tapi kualitasnya tidak bagus. Lebih baik kamu membeli yang sudah pasti saja, jangan yang seperti itu."
Erina bertanya lagi "Lalu kita akan pergi kemana?."
"Hmmm, bagaimana kalau ke 'Boss City'?. kudengar barang disana bagus semua."
'Boss City' adalah mall raksasa yang dikelola oleh perusahaan dibawah naungan Golden Wings Corpo milik Dhafin.
"Kamu serius? tapi kudengar mahal semuanya."
"Tidak masalah." Dhafin mencibir didalam hatinya "Andai kamu tau kalau sebenarnya mall itu adalah milikkuT_T"
__ADS_1
Dhafin melanjutkan "Sesampainya disana, kamu boleh memilih sesuka hatimu. Tidak perlu sungkan."