
"Kamu ganti baju dulu sama bersih-bersih, habis itu aku bantuin masak."
"Gak perlu, nanti juga dibantu bu siti."
Dhafin lalu mengangkat sebelah alisnya "Bu siti?, kan lagi izin cuti sama pak Eno. Kamu memangnya lupa ya?."
"Oh iya, pantas saja rumah ini terlihat sepi."
Erina menepuk bahu Dhafin dan melanjutkan "Kalau gitu kamu bantu aku ya."
Dhafin sangat berantusias sampai-sampai wajahnya terlihat seperti kembang api yang meledak "Tentu saja, pasti akan ku bantu!."
***
Mereka pergi ke dapur dan mulai memasak, tapi sebelum itu Dhafin membersihkan piring-piring kotor terlebih dahulu. Saat mencuci dia mengatakan sesuatu kepada Erina "Rin, mulai bulan depan nanti setelah ujian aku akan pergi setiap pulang sekolah untuk melakukan sesuatu." Dia melanjutkan "Oh iya bagaimana kerja paruh waktumu?, maaf aku jadi jarang ikut."
Lalu Erina menoleh kearahnya "Ah, tentunya masih normal seperti biasa. Hanya saja akhir-akhir ini aku merasa lebih lelah, mungkin karna sudah kelas 3 dan banyak yang harus dilakukan."
Kemudian Dhafin membalasnya "Sudahku bilang, kamu dirumah saja. Aku akan membiayai seluruh kebutuhanmu, percayalah padaku!." Dhafin melanjutkan dengan wajah cemas "Kamu akhir-akhir ini memang sering belajar untuk masuk universitas impianmu, tentu saja itu mempengaruhi tubuhmu. Jadi berhentilah bekerja dan fokus pada tujuanmu oke?."
Erina berfikir sejenak sebelum menjawab "Kamu benar, tapi..."
Dhafin lalu mengangkat jari telunjuknya dan menempelkannya di bibir Erina "Ststststtt, sudah turuti saja perkataanku."
Erina tidak enak untuk menerima bantuan dari Dhafin yang terlalu banyak, tapi perkataan Dhafin juga tidak sepenuhnya salah. "Baiklah, aku akan menuruti mu. Tapi jangan terlalu boros untukku, jangan seperti saat membeli sepatu dulu."
"Okke, kamu tenang saja!."
Erina melanjutkan perkataannya sambil memotong daging "Ngomong-ngomong kamu mau apa bulan depan?."
"Oh itu?, ada saja. Kamu gak perlu tau."
***
Setelah beberapa puluh menit memasak, akhirnya makanan sudah jadi dan mereka membawanya ke ruang makan.
__ADS_1
Dhafin dan Erina duduk saling berhadapan di meja makan, wajah Dhafin memerah karna tidak tahan 'Duh makan berdua seperti ini kayak suami istri saja'.
Ditengah hayalannya itu tiba-tiba Erina menyela "Dhaf... Wajahmu memerah, apa kamu demam?." lalu Erina bangun dari meja dan menyondongkan tubuhnya kearah Dhafin lalu menempelkan telapak tangan didahinya.
Dhafin dengan gugup menjawab "Ah, t--tidak kok aku gak papa."
Erina kembali ke tempat duduknya sebelum berkata dengan wajah yang sangat terlihat manis dimata Dhafin "Kamu serius?, kalau ada masalah bilang saja ya." lalu dia melanjutkan makannya "Kamu juga makan saja dulu untuk mengisi perutmu."
"Ah iya..." Dhafin melanjutkan makannya dengan hayalan dikepalanya yang makin menjadi-jadi 'Ahhh, senangnya'.
Fikiran Dhafin semakin dipenuhi oleh Erina dan dia terus memandanginya diam-diam saat makan 'Sial, apakah dia ini malaikat yang diturunkan untukku?.’
Karna haus, Dhafin menuangkan air minum ke dalam gelas. Dia tidak bisa fokus saat menuangkannya sampai gelas terlalu penuh dan airnya meluber kemana-mana, Erina yang melihat itu langsung menegur Dhafin dengan cepat "Hey lihatlah gelasmu."
Dhafin lalu tersadar dan melihat tangan dam celananya sudah basah "Ah..."
Lalu Erina melanjutkan "Kamu mikirin apa sih sampai melamun seperti itu?, jangan-jangan sakit beneran. Yuk kerumah sakit yuk, atau mau kerumah sakit jiwa?."
Dhafin menatap Erina dengan ekspresi ngambek "Cih jahat sekali."
***
Mereka akhirnya selesai makan dan mulai membersihkan meja serta piring-piring yang habis dipakai, Erina membawa piring ke dapur sedangkan Dhafin mengelap meja.
Dhafin dengan cepat, secepat angin menyelesaikannya dan langsung menyusul Erina dengan riang.
Saat sampai dibelakang dia langsung menawarkan bantuannya "Sini aku bantu." ucap Dhafin sambil langsung mengambil piring-piring kotor itu. "Gak usah Dhaf, biar aku aja. Memangnya kamu sudah selesai membersihkan meja?."
"Sudah dong!."
Erina terkejut didalam hatinya 'Huoh, cepat sekali.' dia berkata kepada Dhafin "Yasudah bantu aku mengeringkan piringnya, biar aku yang mencuci."
Saat mengeringkan piring Dhafin bertanya "Rin, memangnya besok aku masih harus ngajarin anak itu? siapa namanya, Dasi, Desa, ah Desi itu?."
Erina lalu mengambil kain lap yang dipakai Dhafin untuk mengeringkan piring dan memukulkan kain itu kearahnya, Dhafin yang bingung lantas bertanya "Duh, apa sih?. Main pukul aja, basah lap nya."
__ADS_1
Erina lalu mendengus kesal dan berkata "Sudah ku bilang kan mulai sekarang kita berteman, aku, kamu, Reno, sama Desi. Satu squad biar gak ganjil."
Dhafin akhirnya merenung "Yaudah deh..."
***
Keesokan harinya, mereka berempat belajar lagi setelah sekolah. Tidak lupa Erina juga mengundurkan diri dari pekerjaannya, hal yang tak diduga-duga terjadi saat mereka hendak belajar.
Nevan yang selama ini diam saja sudah mulai berulah, dia dan beberapa anak yang sepertinya sudah mengikutinya menempati kursi pesanan Dhafin. Dhafin hanya merasa bahwa dugaan buruknya benar, anak itu suatu saat pasti akan berulah. Benar saja, dia sekarang berniat mengacaukan belajar kelompok mereka, tidak bisa dibiarkan!
Dhafin lalu menatap dingin ke arah Nevan yang sedang duduk "Hei, itu kursi yang sudah ku pesan."
Lalu Nevan menyeringai "Hehh, gitu ya. Tapi aku mau tetap duduk disini gimana dong?."
"Tentu saja tidak bisa, aku akan melaporkannya ke penjaga perpustakaan."
Nevan malah semakin terlihat sombong sekarang, dia bahkan tertawa keras disana "Chahaha, untuk apa?. Aku sudah membayar kepada penjaga itu dan mengancamnya , jadi kamu gak bisa apa-apa."
Desi lalu mengumpat pada Nevan "Rendahan."
Nevan yang mendengar itu tentu saja langsung marah dan berteriak "Apa katamu!."
Desi membalasnya dengan wajah datar "Kamu menjijikan, pasti kamu mengandalkan ayahmu untuk melakukan hal ini."
"Cih, awas kau ya!." Saat Nevan melangkah mendekati Desi dengan tangan mengepal, tiba-tiba sebuah kaki sudah berada tepat didepan wajahnya. Itu adalah kaki Dhafin!, dia tidak bisa membiarkan Desi dipukul. Menurutnya Erina akan sedih kalau melihat temannya dipukul, kemungkinan kedua Erina yang maju untuk melindungi Desi. Karna tidak ada pilihan lain yang membuat Erina aman, Dhafin terpaksa mengambil langkah itu 'Menyusahkan saja..'
Melihat sebuah kaki tepat didepan wajahnya, Nevan langsung berhenti melangkah. Dia lalu menatap Dhafin dengan ekspresi kesal "Kamu cari mati ya hah!."
Saat itu juga emosi Dhafin sedikit terpancing dan berniat melepaskan tendangan sungguhan, melihat kejadian itu, Erina langsung melerai Dhafin dan berkata "Sudahlah, abaikan saja anak seperti dia." Dhafin akhirnya menurunkan kakinya.
Lalu Desi yang berdiri disampingnya berbicara kepada Erina "Maaf ya aku tidak bisa memanggil ayahku untuk ini, dia tidak akan menanggapi kalau hanya urusan bodoh seperti ini dan aku tidak mau ada kejadian heboh."
"Iya tidak perlu."
Dhafin yang masih berdiam diri akhirnya berbalik "Sudahlah, ayo cari tempat lain."
__ADS_1
Saat mereka menjauh, Nevan sibuk berteriak untuk mengejek mereka. Dia tau kalau keluarga Desi tidak akan masuk campur, makannya dia berani melakukan itu. Lagi pula dipandangnya Dhafin hanyalah orang kaya biasa dan tidak sebanding dengannya!, omong kosong!.