
Setelah beberapa hari, Dhafin mulai terbiasa dengan lingkungan sekolah disitu. Sampai akhirnya disuatu pagi yang cerah dan saat kelas sudah 20 menit dimulai, tiba-tiba ada suara langkah kaki yang sangat cepat. Ada orang yang berlari di lorong!. Tak lama pintu kelas langsung dibuka dengan cepat.
*brakk
Sambil terenggah-enggah anak yang terlambat itu mengatakan "Maaf pak saya terlambat..."
"Tidak masalah, duduklah." ucap pak toni tanpa menengok dan tetap menulis di papan tulis.
["liat tuh, malu-maluin banget." "Iya mana masih lusuh gitu lagi, sayang-sayang muka cantiknya kalau harus dia yang memilikinya."] cemomohan seisi kelas terutama siswa perempuan dengan pelan.
Tiba-tiba ekspresi anak itu menjadi murung setelah mendapati tatapan seisi kelas yang memandangnya secara rendah, ditambah mereka juga membicarakannya.
Disisi lain, Dhafin terbangun dari tidur paginya dikelas karna kaget mendengar suara pintu terbanting. Saat dia mencerna apa yang sedang terjadi, Dhafin melihat perempuan yang berdiri dan berjalan secara perlahan kearah kursi kosong yang dipertanyakannya sewaktu pertama kali bersekolah. Dhafin melihat penampilan anak itu, dia juga berjalan sambil menunduk. Seketika Dhafin langsung tau apa maksud perkataan yang diucapkan Reno hari itu, Tiba-tiba Dhafin terkejut saat melihat perempuan itu lebih jelas. "Anak itu... itukan.. taman roselin, dan pasar... benar kan.." Gumam Dhafin di pikirannya.
Tapi dia tidak begitu perduli lagi dengannya, karna selama ini dia mengabaikan Dhafin.
Walaupun belum dekat dengannya disekolah, tapi Dhafin merasakan seolah-olah mereka sudah lama saling mengenal. Untuk menghilangkan fikiran seperti itu, Dhafin lebih memilih melanjutkan tidur paginya di kelas.
Saat terbangun, ekspresi Dhafin hanyalah datar sambil menatapi seisi kelas yang sudah kosong. Dhafin menatap jam tangannya dan berkata "Sial sudah waktunya pulang, kenapa tidak ada yang membangunkan ku payah!."
Saat dia akan beranjak meninggalkan kursi dia melihat selembar kertas kecil yang bertuliskan "Maaf, aku sudah berusaha membangunkanmu tadi."
Dhafin merasa seperti orang bodoh saat membaca tulisan itu "Apa ini sungguhan? aku tadi mati suri atau bagaimana ya?. Akhh dari pada memikirkan itu, siapa yang menulis ini dan membangunkan ku tadi... hmmm."
Dhafin mengangkat bahunya dan berkata "Sudahlah." sebelum beranjak pulang.
Saat dalam perjalanan menuju rumah, Dhafin melihat seseorang sedang diganggu di gang yang tidak jauh dari rumahnya. Lagi-lagi itu adalah orang yang sama dengan yang di pasar yang sekarang menjadi teman sekelasnya itu "Duh... anak itu... gak habis-habis diganggu orang." Dhafin melanjutkan dengan nada tinggi "Hey kep*rat, kalian semua tidak ada kegiatan lain selain mengganggu perempuan apa?."
__ADS_1
Merasa kesal dengan perkataan Dhafin para preman itu menengok dan menghampiri Dhafin dan berkata "Berisik anak kecil, memangnya kamu tau apa. Kau pacarnya hah? mau jadi pahlawan?."
Lalu preman yang lain menambahkan "Pulang saja sana kalau tidak mau berakhir buruk!."
Dhafin menatap para preman sebelum akhirnya membalikkan badan dan berjalan.
"Liat tuh dia takut hahahah, padahal tadi sok jadi penyelamat."
Dhafin berhenti dan menghela nafas "Huh... Sepertinya jarak segini sudah cukup."
Para preman bingung "Apa!, anak ini memang mau dihaj-."
*buakkkk
Sesaat sebelum preman yang terlihat seperti pemimpinnya itu berjalan menghampiri Dhafin, Dhafin sudah terlebih dahulu melayangkan tendangan 1080°nya sambil berteriak "Mana bisa aku diam saja melihat orang diganggu dasar cec*ng*k menyedihkan!."
Anak buah preman langsung lari ketakutan melihat pimpinannya terpental jauh dan langsung tidak sadarkan diri setelah menerima tendangan Dhafin. "Sial, anak itu ternyata mengambil jarak untuk melakukan itu. Sepertinya dia lebih mengerti pertarungan, ayo kita mundur!!."
"Hei, kalau masih berani pergi dari sini akan ku patahkan leher bos kalian!." ucap Dhafin dengan suara lantang sambil mengangkat kepala preman yang sudah tergeletak ditanah.
Para preman itu kembali untuk menghindari masalah yang lebih besar, saat preman itu kembali Dhafin berkata "Berbarislah dengan benar, orang seperti kalian setidaknya harus diberi pelajaran agar kapok... Bagaimana kalau satu tendangan untuk setiap orangnya? Hadiah spesial lho."
*Buakbuakbuak
Dhafin langsung menendangi mereka satu per satu tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu, mereka semua langsung terkapar tak sadarkan diri.
Dhafin berjalan perlahan kearah teman sekelasnya yang masih berdiri kaku di tembok "Hei kau tidak apa-apa kan?. Kalau kau lari lagi tanpa mengucapkan apapun kau akan seperti mereka." Dhafin tertawa pelan sebelum melanjutkan "Aku hanya bercanda."
__ADS_1
Perempuan itu mengucapkan "Terimakasih" dengan suara sangat pelan sebelum akhirnya berlari pergi meninggalkan tempat itu.
"Hei kau...." Dhafin kebingungan dan melanjutkannya dengan berbicara sendiri "Anak itu lagi-lagi... Ada apa sih sebenarnya, apakah wajahku menyeramkan." ucap Dhafin sambil meraba-raba wajahnya. "Sepertinya tidak, pulang aja deh."
Keesokan harinya, Dhafin datang kesekolah lebih awal saat belum ada siapapun. Saat dia fikir hanya dirinya yang baru datang secara mengejutkan perempuan yang kemarin sudah ada di kelas dan membaca buku. "Anak ini... padahal aku mau tidur agar lebih tenang, semoga aja dia gak berisik. Tapi sepertinya dia anak yang pendiam, tidak-tidak, dia memang orang yang seperti itu."
Saat Dhafin akan tidur dia melihat anak itu menutup bukunya dan berjalan kearahnya "Sial." ucap Dhafin dalam hati.
Dhafin akhirnya duduk kembali dan bertanya "Ada apa?."
Perempuan itu sempat terdiam gugup sebelum akhirnya membungkuk "Terimakasih atas bantuannya kemarin."
"Ah.. iya tidak masalah."
Setelah berterimakasih, dia langsung membalikan badannya dan berlari keluar....
Setelah beberapa saat dia kembali lagi untuk mengambil bukunya, lalu berlari lagi.
Dhafin hanya bisa mematung melihatnya "Anak itu benar-benar aneh."
Akhirnya Dhafin melanjutkan tidurnya, kali ini Dhafin terbangun saat jam istirahat. Dhafin bangun karna ingin memastikan siapa yang berusaha membangunkannya kemarin dengan memeriksa tulisan seluruh siswa dikelasnya, dugaan Dhafin benar, saat jam istirahat pasti kelas sangat sepi tak ada orang. Dia langsung memeriksa buku anak-anak yang terletak diatas meja satu per satu, sekarang hanya satu buku yang belum diperiksanya. Yaitu milik wanita itu! tapi saat dia melihat kearah mejanya, dia tidak melihat ada buku diatasnya.
Karna tidak ingin membuka tasnya, Dhafin terdiam lalu dia berfikir "Ahh.. Tidak mungkin dia yang melakukannya, mungkin saja ada orang lain yang lewat lalu membangunkanku." Dhafin melanjutkan "Lebih baik aku ke kantin sekarang."
Saat dia sampai di kantin, dia melihat wanita itu terasingkan dari seluruh orang di kantin. Bahkan dia masih berdiri belum menemukan tempat untuk duduk, dia benar-benar tidak dipedulikan!.
Sampai akhirnya dia pergi ke area belakang kantin membawa makanannya, Dhafin yang sedikit tidak tega mulai mengikutinya.
__ADS_1