
"Keluargaku terjun di dunia bisnis pariwisata, sumberdaya, perhotelan serta restoran. Hanya itu saja sih, GWC jauh diatas kami."
"Oh yasudah, ayo kita lanjut ke kantin. Keburu masuk nanti." Dhafin hanya membalas dengan mengucapkan itu, disisi lain isi kepala Desi menjadi semakin berantakan. Kenapa hanya itu tanggapannya? apa Dhafin tidak menyukai wanita yang lebih kaya darinya?.
Tentunya Desi tidak mengetahui kalau Dhafin jauh jauh lebih kaya darinya, bahkan miliknya bukan hanya GWC. Dia adalah pemilik perusahaan senjata terbesar didunia, apalagi perusahaan itu berkembang hanya dalam waktu beberapa tahun.
Kalau difikir-fikir, Dhafin sendiri pusing setiap melihat isi rekeningnya. Dia sering memberikan banyak hartanya kepada lembaga sosial dan panti asuhan, tapi tetap saja angka kosong masih banyak tersusun dan belum berkurang.
Baginya melakukan itu adalah kegiatan rutinnya untuk menguras rekening!, tapi sekali lagi tidak ada satupun yang mengetahui dia adalah orang yang berpengaruh. Dhafin selalu merahasiakan identitasnya, bahkan semua kegiatan diatas juga masih diwakilkan oleh orang. Terkadang bahkan dia menggunakan topeng kalau pergi melakukannya sendiri, pernah sekali dia dikira penjahat. Oleh sebab itu dia selalu memerintahkan orang lain untuk melakukannya.
Disaat mereka semua berjalan dengan tutup mulut, Erina membuka percakapan lagi "Bukannya ujian tengah semester sebentar lagi ya?, apa kalian semua sudah belajar?, kudengar dua pekan lagi!."
Reno lalu menjawab dengan antusias "Haha tentu saja sudah!, aku belajar setiap hari."
Dhafin lalu menjawab dengan enteng "Aku akan mendapat juara satu dengan mudah tanpa perlu belajar."
Erina mencibir kemudian berkata "Ck sombong sekali, kalau kamu Des?."
Desi menjawab dengan sedikit gugup "Um.. Aku agak kesulitan di pelajaran matematika dan IPA."
Erina lalu menarik rambut Dhafin agar bisa meraih kepalanya yang tinggi itu "Ini, anak ini sangat pintar. Kamu bisa belajar degannya, iyakan fin?."
"Duh, sakit tau." Erina lalu melepaskan tarikannya "Ah maaf."
Dhafin melanjutkan dengan tatapan malas "Kenapa aku harus mengajarinya?, memangnya aku ayahnya? cih."
Erina lalu menepuk-nepuk punggungnya "Sudahlah, aku juga akan menemanimu. Nanti dirumah aku masak semur daging deh!, mau ya?."
Dhafin lalu mengalihkan tatapannya keatas "Iya deh kalau kamu yang minta."
Reno lalu menyela "Weee apa-apaan kalian, masa aku gak diajak?."
"Oh iya aku lupa." Erina tertawa sebelum melanjutkan "Kamu juga ikut oke." lalu Erina menatap kembali ke arah Dhafin "Mulai sekarang kita semua berteman faham?.”
Dhafin menjawabnya dengan sedikit tidak setuju "Iya terserah kamu saja.."
*Tringggg
"Hah?, sudak masuk saja?. Aku belum sempat membeli camilan!." Reno mengoceh saat mendengar bel, lalu Dhafin menyambungkan "Kenapa waktu istirahat cepat sekali sih, ayo ah ke kelas. Aku ingin menyambung tidurku."
__ADS_1
Mereka berempat kembali berjalan menuju kelas, Erina dan Desi berjalan sambil menjaga jarak dibelakang.
"Rin, makasih ya."
"Buat apa?." tanya Erina keheranan, lalu Desi menjawab "Untuk tadi, aku jadi bisa berteman dengan Dhafin."
Erina lalu mengelus kepala Desi "Ah tidak apa, kita kan teman, tentunya aku harus membantumu!."
"Iya terimakasih, ngomong-ngomong.... Apa Dhafin benar-benar sepintar yang kamu dan dirinya sendiri bilang? dia bilang akan bisa mendapat juara satu dengan muda tanpa belajar kan?."
Erina mengangguk "Iya, memang sedikit kesal mengakuinya. Bahkan nilai tes masuknya sewaktu pindah kesini mendapat nilai sempurna, sangat menyebalkan, dia bahkan mengambil posisi ku sebagai juara umum penilaian tugas sehari-hari dengan mudah."
"Dhafin juga siswa pindahan?."
"Oh itu, iya dia juga siswa pindahan."
Desi lalu memegangi dagunya "Tapi aku masih bingung kenapa dia bisa pintar, bukan kah dia hanya tidur selama dikelas?."
"Ya kenyataannya memang seperti itu, dia terlalu pintar sampai semua pembahasan di kelas sudah difahami olehnya. Dia hanya bangun saat ada ulangan harian atau hal penting lainnya."
*Ding dong deng dong..... sudah pukul 2 siang, sekolah sudah pulang saat ini dan para siswa sedang merapihkan tasnya.
"Fin, Reno, desi, ayo kita belajar di perpustakaan sekarang. Gak ada dari kalian yang piket hari ini kan? iyakan?."
Mereka sudah makan dan berjalan menuju perpustakaan daerah untuk belajar, saat berjalan Dhafin menghampiri Erina dan berbisik "Hey apakah aku harus sungguh-sungguh mengajarinya?."
"Kamu ini pintar atau bodoh sih?, tentu saja harus, kita kan teman payah."
***
Mereka sudah duduk ditempat yang dipesan dan mulai belajar "Untuk yang pertama kita belajar matematika ya." ucap Erina sambil mengeluarkan buku."
***
"Dhafin, kamu tau maksud dari soal ini?.” tanya Desi dengan suara lembut, lalu Dhafin menghampirinya dan melihat soalnya "Ini ya, yang pertama caranya begini, blablablabla. Lalu kamu selesaikan penjumlahan ini dan dikalikan dengan yang itu, lalu hasilnya akan terlihat. Setelah hasilnya ketemu kamu masih harus membaginya dengan angka ini. lalu ini itu balbala blublu...."
[*note: author baru lulus smp dan gak ngerti pelajaran matematika, matematika sendiri aja gak bisa, apalagi matematika kelas 3 SMA hadeh*]
Setelah menghitung beberapa saat, Desi menemukan jawabannya "Wah iya benar, kamu ternyata benar-benar pintar ya."
__ADS_1
Dhafin lalu mengangguk dengan percaya diri yang menyala-nyala.
"Padahal kerjaannya cuma tidur dikelas.."
[Eh...]
Ekspresi Dhafin berubah menjadi agak kesal "Ah itu ya.. hehe..."
Desi lalu tertawa pelan "Maaf aku hanya bercanda."
"Huft.
***
"Sudah hampir malam, ayo kita pulang dan melanjutkannya besok." ucap Dhafin sambil melihat jam tangannya, lalu erina mengikuti "Iya benar, kita semua harus pulang."
Dhafin menambahkan dengan ekspresi menagih "Kamu jangan lupa masak semur dagingnya dirumah nanti."
"Iya bawel."
Desi memiringkan kepalanya karna heran "Aku tidak mengerti di bagian itu dari tadi, jangan-jangan kalian tinggal serumah?.”
Reno yang masih duduk menjawab dengan senyum polos "Iya mereka tinggal satu rumah."
"Ehhhhhh, apa kalian... sudah melakukan itu?."
Karna panik mereka berdua secara bersamaan dengan cepat menjawab ""Enggak-enggak kami berdua hanya teman, panjang ceritanya kenapa kami bisa tinggal bersama, lagi pula kamar kami berjauhan.""
"Hihihi, aku cuma bercanda kok. Yasudah ya aku pulang duluan, aku udah ditunggu di luar."
Erina lalu menjawabnya "Baiklah, sampai jumpa besok."
Reno juga menyusul dan mengatakan "Aku juga duluan, ibuku sedang dalam perjalanan kesini dan akan sampai sebentar lagi."
Kali ini Dhafin yang menjawabnya "Oke, tiati."
Dhafin melanjutkan "Rin, ayo kita juga pulang. Aku gak sabar mau makan, oh iya kita ke mini market dulu beli bahan-bahannya oke?."
"Ahaha, yasudah ayo. Tapi sebelum itu beresin dulu barang-barangmu payah."
__ADS_1
Mereka lalu mulai pergi menuju stasiun, saat sampai di stasiun dekat rumah, mereka tidak lupa pergi ke mini market sebelum pulang.
Mereka sampai dirumah saat maghrib.