
Nada bicara Dhafin sedikit ragu disini, sepertinya anak itu sengaja melakukannya.
Kemudian Erina menjawabnya dengan enteng "Iya boleh kok, lebih banyak lebih bagus."
"Sial, enggak peka banget." Dhafin menggumam dalam hati, lalu dia juga mengangguk ragu "Iya kok boleh..."
"Ah iya kenalkan ini adik ku, namanya Mala. Dia kelas 2 SMP." dia melanjutkan "Mala bersikaplah sopan."
Mala mengangguk lalu bertanya kembali kepada Dhafin "Senang berkenalan denganmu kaka." Dia melanjutkan sambil memegang rambut Dhafin "Wah.. Rambut kaka ini asli?."
"Ah, kurang lebih begitu, rambutku sudah seperti ini dari dulu."
"Begitu ya." Lalu mala tiba-tiba hadir didepan matanya "Kaka pakai kontak lensa ya?, tangan kaka diperban? luka?."
Dhafin gugup bingung harus menjawab seperti apa, akhirnya Reno menyela adiknya itu "Sudahlah jangan terlalu banyak bertanya, tangannya diperban karna dia suka. Kamu tau kan seperti tokoh-tokoh superhero, dia memang begitu." lalu Reno tertawa ringan.
Lalu Mala menatap Dhafin dengan serius "Marga kakak apa?."
Dhafin terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh anak itu, dhafin berfikir sejenak sebelum menjawab "Marga ku Nolan." dia melanjutkan "Tapi kamu boleh memanggilku dengan nama depan saja, jadi jangan sungkan."
Jauh didalam fikiran Dhafin terbesit banyak hal, kenapa anak itu sangat mengamati dia?, apa dia tau sesuatu tentangnya?. Tidak mungkin, karna sejak awal orang tua Dhafin merahasiakan identitas anak-anaknya, tapi apa sebenarnya niat anak tadi?. Atau memang sikapnya seperti itu?, sudahlah. Dhafin tidak terlalu memikirkannya lagi karna terlalu rumit.
Reno tiba-tiba memecah keheningan yang terjadi "Nah, kita mau main apanih. Jarang-jarang kita bertemu di tempat seperti ini bukan?, jadi kita harus memanfaatkannya dengan baik."
Dhafin hanya menggigit bibirnya sambil mengoceh didalam hati "Sialan satu ini, seharusnya hari ini adalah hariku untuk berdua. Erina juga gak peka banget sih aarggg." Ekspresi Dhafin terlihat hanya menggertakan gigi karna kesal, tiba-tiba Erina mengajak mereka semua untuk berkeliling terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan, Dhafin melihat Mala seperti sedang memikirkan sesuatu, tepatnya berusaha mengingat sesuatu. "Apakah aku harus berhati-hati dengan anak ini?, permainan katanya sungguh mengerikan."
Disisi lain, Mala benar-benar sedang mengingat sesuatu "Ah iya, aku ingat sempat melihat kaka ini beberapa tahun yang lalu. Dia berjalan bersama presiden golden wings dan satu orang lagi, aku tidak mungkin salah. Lagi pula presiden itu tidak pernah membocorkan identitas anaknya, ditambah keluarga itu mengalami kecelakaan dan hanya salah satu anaknya yang selamat."
Fikirannya sempat hening sebelum dia memikirkannya lagi "Menurut cerita kakak dia adalah remaja kaya biasa, tapi dia juga yatim piatu. Ini pasti bukanlah kebetulan."
"Hei Mala."
__ADS_1
Reno memanggil Mala dengan suara keras sebelum akhirnya dia menyahut "Kamu ini apa-apaan sih melamun saja, aku memanggilmu dari tadi."
"Ah... Maaf, ada apa?."
Dhafin membalas pertanyaannya "Di depan sana ada rumah hantu."
Mala langsung menggelengkan kepalanya "Tidak-tidak, menurutku tidak menyenangkan masuk kesana di waktu yang masih sore ini."
Erina lalu bergumam "Benar juga apa katanya, tidak asik kalau masuk jam segini." dia melanjutkan "Lebih baik kita memanah disana, bagaimana?."
Semuanya lalu setuju, "Ah iya, ayo!."
Saat berjalan kearah tempat yang dituju, Dhafin curiga kepada mala "Sepertinya anak itu benar-benar memikirkan sesuatu yang sulit difahami sejak melihatku, sepertinya aku harus berhati-hati."
…
Permainan berakhir, total poin dari 15 anak panah yang diberikan kepada masing-masing orang.
Reno: 34/150
Mala: 12/150 (paling parah)
Dhafin: 150/150 (perfect)
Dhafin mendapat skor sempurna, bahkan setiap anak panah yang dia lontarkan saling menimpa satu sama lain. Dia berdiri dengan wajah bangganya sambil mengangkat jempol, Reno menggertakan giginya "Sialan, memang kamu ini punya mata super ya."
Disisi lain Erina menenangkan Mala yang mendapat skor paling buruk "Ush-ush-ush, lain kali ada kesempatan kok." ucap Erina sambil menepuk-nepuk bahu Mala.
Mereka bermain lebih banyak permainan lagi seperti pukul tikus, punch machine, lempar gelang, jaring ikan, dan masih banyak yang mereka main kan.
Semuanya dimenangkan oleh Dhafin dengan telak, tak ada satu permainan pun yang skornya buruk. Bahkan di punch machine dia mencetak rekor baru, tentu saya Reno tercengang melihatnya.
Akhirnya mereka semua beristirahat setelah permainan yang panjang dan melelahkan, mereka duduk di kursi yang tersedia dan meminum teh. Dhafin pergi membeli permen kapas untuk mereka, disaat mereka mendapat 1 masing-masing. Dhafin mendapatkan 10 permen kapas "Hoi fin, kamu nanti diabetes lho." ucap Reno yang kaget melihatnya makan permen sebanyak itu dengan lahap.
__ADS_1
Dhafin lalu menatapnya "Kenapa? otak ku lelah, jadi butuh banyak asupan gula. Kalian tidak tau apa yang terjadi di otak ku selama permainan tadi, ah sangat melelahkan." Dhafin langsung melahap semuanya dan sendawa, semua orang yang melihatnya langsung terkejut.
"Dasar monster, sempurna di segala hal." fikir Reno.
Mereka akhirnya terus duduk dan berbincang-bincang, sampai akhirnya sudah agak malam. Mereka berencana untuk pergi ke rumah hantu yang mereka temui pertama kali tadi, karna sepertinya waktu sudah cocok.
Dhafin berdiri "Ayo saatnya kita pacu adrenalin!." Dia melanjutkan dengan menunjuk ke satu arah "Ayo kita temui para hantu gadungan itu!."
…
Setelah beberapa saat memasuki rumah hantu itu, mereka semua keluar dengan ekspresi masih sedikit panik. Dhafin? dia sangat shock saat didalam dan dibopong keluar oleh Reno, sesampainya diluar reno pun tidak dapat menahan tawanya "Hahaha kalian lihat tadi ekspresi anak ini? hahaha sangat konyol sekali." Dia melanjutkan "Kalian tahu? lebih konyol lagi saat dia percaya diri menuju kemari hahahahaha." Reno terus tertawa tanpa henti, Dhafin mulai merasa kesal "Diam bodoh, aku hanya terkejut tadi."
"Terkejutmu sangat berlebihan hahaha."
Wajah Dhafin sedikit memerah "Aku tadi hanya sengaja berpura-pura takut payah."
Reno lalu mengusap air matanya yang keluar karna tidak berhenti tertawa "Haha sudah-sudah, sudah waktunya untukku pulang. Sudah malam sekarang." Reno akhirnya pergi bersama adiknya dan melambaikan tangan "Kalian juga pulanglah agar tidak telat besok haha "
Dhafin akhirnya menghela nafas lega dan puas "Akhirnya pengganggu itu pergi."
"Ayo kita juga pulang."
Dhafin menengok ke arah Erina dengan terkejut "Ehh?!."
"Benar katanya, kita besok sekolah."
Lalu Dhafin menyangkal dengan cepat "Tidak-tidak, ada satu lagi wahana yang harus kita naiki." Dhafin melanjutkan "Ayolaa, gak lama kok."
Erina menghembuskan nafasnya "Huhh, apa itu?."
Dhafin tersenyum girang sebelum menjawab "Ayo kita naik bianglala yang besar itu berdua!."
Erina berfikir sejenak "Yasudah ayo naik, tapi habis ini kita harus benar-benar pulang. Aku sudah sangat mengantuk dan besok sekolah, kamu mengerti?."
__ADS_1
"Iya aku mengerti, ayo!." Dhafin menarik Erina karna tidak sabar, akhirnya mereka berdua menaikinya dan pulang setelahnya.