IMPIANKU

IMPIANKU
ch.26 (Teman Baru)


__ADS_3

Setelah beberapa menit berjalan, mereka akhirnya tiba dirumah Dhafin. Saat Reno melihat rumahnya dia terkejut "Whoa... Gede bangeettt!!."


Dhafin terkejut karna teriakannya "Heh? ini?, segini mah masih kecil dasar." Dhafin melanjutkan "Rumahmu emangnya sebesar apa sampai kamu terkejut?, bukankah mayoritas siswa sekolah kita kaya semua?."


Reno menjawab dengan melambaikan tangan "Huhh, tidak tidak... Mungkin 'kaya' dalam pikiranmu berbeda, kami hanya mampu saja bersekolah disitu. Karna bayaran sekolah itu mahal makannya orang-orang sering salah mengira, rumahku sendiri dan siswa lainnya rata-rata tidak sebesar rumahmu."


"Oh.. Kalau begitu anggap lah seperti rumah sendiri."


Saat masuk kedalam rumah, kebetulan bu Siti sedang mengelap meja diruang tamu. Saat dia melihat Dhafin membawa temannya, bu Siti langsung menghampiri mereka dan menyambutnya dengan sopan.


"Bi, ini temanku Reno. Dia akan bermain sampai malam hari ini." Dhafin melanjutkan dengan menatap Reno dan bertanya "Apa kamu sudah lapar?." Reno hanya menggelengkan kepalanya.


"Bi, untuk sekarang tolong antarkan beberapa camilan ke ruang bermainku. Utamakan cokelat dan beberapa minuman segar, sama tolong bawakan aku agar-agar."


"Baik dik Dhafin."


"Kalian, ayo keatas."


Saat menaiki tangga, Reno bertanya kepada Dhafin "Apa maksudmu ruang bermain?.”


Dhafin diam sejenak sebelum menjawab "Tentu saja ruangan untuk bermain bodoh, memangnya apa lagi?, tidak mungkin landasan pacu!."


"Benar juga ya."


Erina yang mendengan kan hanya tertawa dan geleng-geleng.


Akhirnya mereka sampai didepan ruangan yang disebutkan Dhafin, dia membuka pintu "Ini dia... Ada banyak konsol dan beberapa gadget didalam, ada pe'es full series lengkap, 2 komputer spek gaming yang pastinya menggunakan vga erti'ex, sisanya lihat saja sendiri. Agak berdebu karna jarang digunakan, aku hanya bermain sendiri soalnya Erina tidak begitu suka bermain game, tapi asal kamu tau dia sering nonton drama."


"Hey.."


"Haha bercanda."


"Hei kita mau main apa?." tanya reno sambil melihat ruangan yang luas dan berisi berbagai macam barang.


"Entahlah, bagaimana kalau PUBG? kudengar itu sedang populer." Dhafin melanjutkan "Rina kamu mau ikutan?." sebelum Erina menjawab dia sudah menambahkan lagi "Ah paling kamu mah gak bisa dan lebih memilih membaca buku."


"Siapa bilang?, aku akan ikutan kok."


Dhafin tiba-tiba terdiam membatu "Eh... Serius nih...?"


Erina menjawab dengan rasa percaya diri "Iya, lihat saja nanti karna kamu telam meremehkan ku."


***


"Dhafin yang bener dong mainnya!, ahh masa kalah sama Erina. Tuh tuh, kamu aduhhhh."


*pciupciu, dordor...

__ADS_1


Erina bermain dengan asik sampai Dhafin hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun.


"Yeyy menang..."


Reno menambahkan "lihatlah, Erina sangat berkontribusi dalam kemenangan ini hahaha, berbeda denganmu, kamu payah Dhafin kekekek."


Dhafin hanya terdiam lemas melihat Erina yang diam-diam bisa bermain profesional "Sudahlah, aku baca buku sajaT_T."


Erina dan Reno tertawa sangat keras saat itu, mereka melihat Dhafin yang sangat payah bermain.


Kemudian Dhafin bertanya kepada Erina yang sedang membanggakan diri "Bagaimana kamu bisa bermain sejago itu, kamu selama ini bahkan tidak mau bermain denganku."


"Hehehe, aku memang tidak terlalu suka bermain game. Tapi dulu aku sering bermain game yang serupa, jadi tidaklah sulit bagiku..." ucap Erina dengan wajah agak menyombongkan diri.


"Sudahlah, ayo bermain yang lain saja."


"Haha Dhafin ngambek tuh."


Ditengah-tengah waktu bermain tiba-tiba ponsel Dhafin berbunyi "Ah sebentar ya, aku mendapat telfon."


""iya""


Dhafin pergi ke balkon untuk menerima panggilan, itu adalah pak Obie, jendral angkatan darat yang dipilih Dhafin sebagai manager untuk mengelola perusahaan senjatanya sebab dia sangat jarang ke sana.


"Ada apa pak Obie?."


"Layani saja seperti biasanya."


"Baiklah, ngomong-ngomong... apa kamu tidak membuat sesuatu lagi? sepertinya kita butuh sesuatu yang baru untuk diperkenalkan pada dunia."


"Aku sedang mengerjakan sesuatu dirumah, karna jarang mendapat waktu jadi agak terhambat, kamu tunggu saja dulu." Dhafin melanjutkan "Sudah ya, aku sedang kedatangan tamu."


"Ah iya.. Baiklah..."


Dhafin menutup panggilannya dan segera kembali masuk kedalam, mereka terus bermain dan Erina menyudahi permainannya untuk memasak makan malam sampai akhirnya jam makan malam tiba.


Saat mereka semua ada dimeja makan, Reno tiba-tiba bertanya "Dhafin, rumahmu besar sekali. Tapi dari tadi aku tidak melihat orang tuamu, kemana mereka?."


Dhafin menjawab dengan santai "Sudah meninggal dalam kecelakaan, itu juga berlaku untuk orang tua Erina. Makannya aku menawarkannya untuk tinggal bersamaku setelah lama tidak bertemu, dulu Erina juga orang yang kaya iyakan Rina?."


Erina mengangguk dan menjawab "Iya, aku dulu hidup bahagia sampai akhirnya hidupku seperti ini."


Reno merasa tidak enak karna menanyakan hal itu, dia merasa sudah salah bertanya "Ah maafkan aku, aku tidak tahu kalau kejadian buruk sudah menimpa keluarga kalian."


"Tidak apa, itu sudah sangat lama jadi kami sudah terbiasa."


Reno bertanya lagi "Lalu bagaimana kamu mempertahankan rumah ini?, menurutku biaya operasionalnya sangat tinggi."

__ADS_1


Erina kemudian menyahuti "Iya aku juga penasaran, selama ini kamu belum memberitahukannya padaku."


"Ah iya, benar juga... Kalian tau bakso sambo?."


Reno menjawab dengan nada yang sedikit takjub "Oh iya, resto bakso yang terkenal itu kan?, kudengar cabangnya sudah ada dimana-mana. Aku bahkan selalu melihat dan makan disana saat bepergian."


"Wah ternyata kamu pelanggan ku."


Reno membalas dengan wajah heran "Apa maksudnya pelangg... tunggu... jangan-jangan..."


Dhafin menyeringai kemudian berkata "Iya, aku pemiliknya."


Reno terkejut, Erina yang sedang mengunyah makanan tiba-tiba tersedak. Kemudian Reno bertanya dengan tegas "Kamu serius?!."


"Untuk apa aku berbohong."


"Wah keren-keren, kalau begitu kamu bisa meneraktirku kapan-kapan haha."


Dhafin mengangguk, lalu Erina bertanya "Tapi kenapa kamu tidak pernah terlihat sibuk?.”


"Apa lagi? pastinya karna setiap cabang sudah ada managernya masing-masing, mereka bekerja sangat baik sampai tidak ada keluhan pegawai ataupun pelanggan yang masuk padaku. Tugasku hanya meraup keuntungan setiap bulannya." ucap Dhafin dengan mata bersinar.


Reno tiba-tiba membalas setelah melihat jam "Sebaiknya aku pulang, sudah malam sekarang."


"Kalau begitu biar ku antar, aku juga harus pergi ke suatu tempat."


Erina bertanya kepada Dhafin "Mau kemana?."


"Kamu ingat Jacob?, aku ingin menemuinya."


"Oh yasudah."


***


Reno langsung bertanya lagi "Bagaimana kamu akan mengantarkan ku?."


Dhafin menjawab sambil mengayunkan kunci mobil "Dengan ini tentunya, gak mungkin pakai sepeda."


Reno terkejut melihatnya "Hah apa maksudmu?, kamu menyetir?."


"Woiya dong, masa enggak. Sudah ayo keburu larut."


Mereka akhirnya meninggalkan ruang makan, sebelum meninggalkan Dhafin meminta bi Siti untuk membersihkan meja makan dan menyuruh Erina untuk beristirahat saja.


Sebenarnya Dhafin bukan pergi untuk menemui jacob, tapi dia pergi kerumahnya yang lain. Karna tidak ingin diketahui orang lain tentang siapa Dhafin sebenarnya, dia jadi terpaksa berbohong.


*Bremmm,

__ADS_1


__ADS_2