IMPIANKU

IMPIANKU
ch 58 (Ujian Praktik)


__ADS_3

Erina kembali berbicara dengan antusias "Fin, kalau begitu nanti ajarin aku masak ya?!."


"Tergantung."


Erina bingung dan hanya menjawab "Hm?."


"Tergantung sikap dan perbuatan hahaha."


Erina menggeram kesal, dia mencubit bahu Dhafin sambil mengomel "Dasaarr, aku serius tauuu!1."


Dhafin hanya terkekek "Iya-iya, aku becanda, nanti aku ajarin kok. Dari pada itu lepas cubitannya, sakit nih...."


Erina tersadar "Ah...." setelah itu, bukannya melonggarkan atau melepaskan cubitannya dia malah semakin menambah tenaganya dalam mencubit. Dhafin tidak tahan menahannya, biar bagaimanapun dan mau lelaki manapun entah itu binaraga, pebisnis, dukun, om Dedy, dan masih banyak lagi, tidak mungkin bagi mereka untuk menahan ganasnya cubitan makhluk yang disebut perempuan.


Dhafin semakin menjerit kesakitan dengan ekspresinya yang... terlihat aneh, dia semakin memohon agar cubitannya dilepas. Akhirnya cubitan itu segera dilepas, Dhafin melihat bekas cubitannya dan berkata "Wah, lihat nih.... Kayak di gigit hyena, sakit banget lagi."


Raut wajah Erina berubah jadi kesal, untuk mengantisipasi hal itu Dhafin sudah terlebih dahulu berlari. Tentu saja Erina mengejarnya keliling ruangan, bi Siti akhirnya melerai mereka karna mereka berdua mulai terlihat seperti anak kecil.


***


Saat ini mereka berdua, Dhafin dan Erina, sedang berada di jalan sempit yang biasa mereka lalui dari stasiun menuju sekolahnya, ini juga tempat dimana orang bodoh menyerang mereka dulu.


Saat disana Dhafin mengunjungi toko kayu yang selalu dilewati ketika mereka lewat, Dhafin sempat melihat nomor telfon yang tertera pada banner toko dan mengingatnya dengan baik.


Dia menghubungi toko itu kemarin untuk memesan kayu berbentuk kubus dengan ukuran 30 centimeter sama rata, dia berniat untuk mengambilnya hari ini untuk keperluan ujian praktik.


Saat mereka berdua sudah sampai didepan toko itu, Dhafin pergi menghampirinya. Dia menyapa pemilik toko dan pemilik toko itu langsung menyiapkan sebongkah kayu, Erina bingung dengan apa yang dibeli oleh Dhafin, untuk apa dia membeli kayu sebesar itu dan dibawa kesekolah?.

__ADS_1


Begitu Dhafin menyelesaikan transaksi dan kembali berjalan sambil membawa kayu itu, Erina bertanya perihal benda yang dibawanya "Untuk apa kamu membeli benda itu, mau kamu pake buat nimpuk bandit kah?. Menurutku benda itu tidak memiliki kegunaan kalau kamu bawa kesekolah, buang aja gih buang."


Dhafin langsung menyangkalnya dengan nada sombong dan wajah bersinar-sinar "Et et ettt, jangan salah, meskipun dimata orang lain ini adalah sampah balok yang tidak berguna... Tapi ditanganku bisa berubah menjadi maha karya yang indah!."


"Ck, dasar penonton review film di facebook." Erina melanjutkan dengan bertanya "Memang mau kamu buat apa?, bukan buat mengancam pak guru untuk memberikan nilai sempurna kan?.”


Dhafin menoleh kearah Erina sambil membantah "Heh." kemudian dia mencubit hidung Erina sambil berkata "Gak mungkin lah orang kayak aku yang baik dan tidak sombong ini melakukan itu!1."


Erina memegangi tangan Dhafin yang mencubitnya saat itu "Aagrhh aduh aduh, sakit."


***


*Ding dong ding dong


Jam pertama siswa kelas 3-1 kali ini langsung dimulai oleh seni budaya, 1 kelas langsung dibawa keruangan khusus kesenian. Guru mereka, yaitu pak.... um....


Yaitu pak... pak Donald..


Iya, pak Donald, dia menginstruksikan seluruh siswa kelas 3-1 untuk pergi ke ruangan kesenian yang disana tersedia banyak meja untuk mereka melakukan praktik.


Dari sekian banyak siswa, hanya Dhafin yang membawa sebongkah kayu berbentuk balok, sedangkan yang lainnya hanya membawa benda-benda umum seperti strik eskrim, batang besi, dan sebagainya. Reno.... dia hanya menyiapkan 3 lembar kertas diatas mejanya, sepertinya dia benar-benar serius hanya akan membuat pesawat kertas.


Pak Donald mulai penasaran apa yang akan dilakukan Dhafin, waktu ujiannya hanya 3 jam pelajaran atau 1 setengah jam!.


Dia menghampiri Dhafin dan berkata "Fin, kamu mau buat apa dengan kayu itu, ganjalan untuk ban mobil?."


Seisi ruangan yang mendengar itu hanya tertawa dan tertawa, sedangkan Dhafin mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Saat dibuka isi dari kotak itu adalah alat pahatan klasik dengan disain elegan, dia mendapatkan itu dari toko barang antik dengan harga 10 juta rupiah, tentu saja nominal seperti itu adalah uang receh bagi Dhafin. *uhuk

__ADS_1


Pak Donald semakin penasaran dan dia kembali berkata "Mau buat apa kamu dengan alat pahat ini?, apakah kamu ingin memahat bongkahan kayu oak yang kamu bawa?."


Dia melanjutkan "Ayolah, memahat itu butuh waktu lama dan tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang."


Dari dulu, guru satu ini memang selalu meremehkan Dhafin. Dia selalu memandang Dhafin sebelah mata karna baginya, Dhafin tidak lebih dari pemalas yang kerjanya hanya tidur. Walaupun nilainya bagus, tentu saja akan sulit bagi orang untuk percaya kalau dia bisa membuat seni sedangkan dia lebih sering tidur di kelas saat pak Donald mempraktikkan seni 3D.


Akhirnya karna muak, Dhafin angkat bicara "Sudahlah pak, diam dan perhatikan saja. Bapak tidak boleh menilai seseorang seperti itu, kalau bapak kayak gitu bagaimana bapak bisa jadi teladan yang baik?."


"..." Pak Donald hanya diam karna tidak bisa membantah perkataan Dhafin, walaupun tidak suka, perkataan Dhafin sangatlah masuk akal. Kalau dia membantah justru akan memberikan dampak buruk pada reputasinya sebagai seorang guru.


Dhafin melanjutkan perkataannya "Dari pada bapak berisik dimejaku, lebih baik bapak berjalan dan periksa siswa yang lain."


Pak Donald merasa kesal.


Akan tetapi sekali lagi, ucapan Dhafin adalah benar. Dia memang hanya berdiam diri didepan meja Dhafin dari tadi, Erina sudah tau kalau pak Donald memang selalu meremehkan Dhafin. oleh karna itu dia hanya diam dan percaya kalau Dhafin bisa menghadapinya.


Akhirnya guru itu bergerak pergi meninggalkan meja yang ditempati Dhafin, sementara itu, Dhafin mulai memegang alat-alatnya dan siap memahat sementara Erina akhirnya tau mau diapakan kubus kayu itu oleh Dhafin.


Tidak lama kemudian Reno sudah selesai dengan pesawat kertasnya, dia membuat pesawat jet tempur dari kertas. Dia menggunakan 3 kertas untuk membuat bagian yang berbeda yaitu kepala, sayap, dan ekor.


Meskipun hanya terbuat dari kertas dan terlihat sederhana, hasil yang dibuat olehnya itu lumayan bagus sampai-sampai ada beberapa siswa yang menyesal karna tidak memikirkan hal serupa.


Berhubung dia sudah selesai paling pertama, pak Donald mengizinkannya untuk kembali ke kelas terlebih dahulu dengan sisa waktu yang boleh digunakan untuk apapun asal dilakukan didalam kelas.


*15 menit kemudian, atau tepatnya 20 menit setelah waktu dimulai...


Karna tadi pak Donald mengatakan kalau memahat itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, seluruh siswa jadi tidak begitu memperhatikan Dhafin sampai akhirnya dia saat ini sudah mengemasi alat pahatnya dan berkata "Pak, saya sudah selesai dengan karyaku."

__ADS_1


Tentu saja semua orang disana terkejut dan langsung melirik kearah Dhafin....


__ADS_2