
Dhafin terus memutar otak didalam kepalanya, dia menyesal karna tidak membawa knuckle miliknya. Andai saja dia membawanya, mungkin dia akan berani menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk mendekat dan langsung melumpuhkan musuh!.
Tapi dia hanya menggunakan tangan kosong, satu-satunya cara melumpuhkan mereka adalah menyerang titik vitalnya secara langsung. Tapi kelihatannya mereka tidak bodoh dan terus menggunakan posisi yang membuat titik vital mereka terlindungi.
Saat sedang ragu untuk bergerak, tiba-tiba terdengar suara kenalpot motor yang sangat keras sedang mendekat.
*Brakk!
Salah satu dari 4 preman itu ditabrak oleh motor yang melintas dengan kencang, orang yang mengendarai motor menggunakan helm dan terlihat tinggi. Dia langsung menghentikan motornya dan turun, lalu membuka helm dan melemparkannya kepada 1 preman lagi.
Para preman yang terkejut itu tidak sadar dan tentunya tidak sempat bereaksi untuk menghindar, berkat kejadian itu Dhafin memanfaatkan kesempatan itu untuk mengalahkan 2 lagi preman yang tersisa. Para preman itu lengah karna terkejut, jadi Dhafin dengan mudah mendekati mereka lalu menyerang titik vitalnya.
Orang yang tadi kembali menghampiri helmnya, dia hanya tersenyum saat melihat Dhafin dan Dhafin kembali tersenyum kecil. Lalu kembali menaiki motornya dan kebut pergi meninggalkan tempat kejadian perkara tanpa mengatakan sepatah katapun.
Erina kemudian menghampiri Dhafin dan bertanya "Apa kamu terluka?."
Dhafin menggelengkan kepalanya dan balik bertanya "Apa diantara kalian ada yang mengenal orang itu?, dia sepertinya seumuran dengan kita."
Erina dan Desi menjawab serentak dengan menggelengkan kepalanya, Dhafin lalu teringat sesuatu dan menoleh kearah Reno yang masih tepar didekat tong sampah kemudian berkata "Oh iya, ayo urus anak itu dulu. Lahan pemakaman sudah tidak luas lagi soalnya."
Desi lalu mengangguk dan berkata "Iya, tadi dia sekali pukul K.O."
Saat Reno terbangun, dia menyadari dirinya sudah ada di dalam kamarnya. Dia berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi, tapi usahanya sia-sia dan dia berfikir untuk bertanya kepada teman-temannya besok.
Kenyataannya, Reno diantar pulang oleh Desi yang meminta supirnya untuk datang, dia pingsan sangat lama sampai Dhafin, Erina, dan Desi bingung harus berbuat apa.
Sampai akhirnya Desi menawarkan solusi untuk mengantarnya sampai kerumah, Reno sendiri baru tersadar saat malam hari.
__ADS_1
Disisi lain, tepatnya di kediaman Dhafin. Dhafin memikirkan siapa orang yang menolongnya tadi, apa itu hanya kebetulan orang yang sedang lewat? tapi tidak mungkin karna itu hanyalah gang kecil, bukan jalanan.
***
5 September 2022
Hari ini adalah Semester satu fase ke dua disekolah Dhafin, Semua siswa masuk sekolah seperti biasa. Ada yang rajin datang pagi, ada yang membolos, ada yang datang pagi tapi malah tidur didalam kelas. Contoh nyatanya adalah Dhafin, dia selalu tidur didalam kelas semenjak awal tahun pelajaran.
Mirisnya para guru tidak dapat menegurnya, karna sekolah memberi kebebasan kepada siswanya, asal tidak melakukan tindak kriminal dan prestasi yang harus memenuhi kriteria.
Kepindahan Nevan sudah benar-benar dipastikan tanggal 1 kemarin, kursi bekas tempat duduknya masih belum terisi. Sampai akhirnya tiba-tiba terurai sebuah tali di depan jendela yang terbuka, semua siswa di kelas 3-1 bingung keheranan dan hendak mendekati tali itu. Dhafin terbangun karna suara bising mereka, dan saat para siswa itu hendak mendekati tali, terjun seorang remaja dan langsung masuk lewat jendela itu.
Dhafin yang baru terbangun langsung ikut terkejut menyaksikan pemandangan itu, apakah ada sirkus disini?.
Orang itu melakukan putaran dan langsung menempati kursi kosong bekas Nevan dulu, setelah Dhafin menggosok matanya, dia tersadar bahwa orang itu adalah orang yang menolongnya beberapa hari yang lalu.
Anak itu lalu menoleh kearah Dhafin lalu berdiri, dia mendekati Dhafin kemudian berkata dengan senyuman "Sepertinya ini bukan kali pertama kita bertemu."
Setelah menatapinya, Dhafin kemudian melihatnya dengan acuh dan membuang pandangannya ke arah lain sambil membatin 'Sok akrab sekali cuih."
Orang itu kebingungan melihat ekspresi Dhafin, dia juga membatin didalam hatinya 'Apa-apaan anak ini, padahal beberapa hari yang lalu dia tersenyum kepadaku.'
Tidak lama kemudian, Pak anton wali kelas mereka datang dan masuk kedalam kelas. Semua siswa yang masih terpaku karna kaget langsung tersadar dan kembali ketempat duduk masing-masing termasuk orang itu.
Pak Anton sadar bahwa murid pindahan sudah ada didalam kelas, lalu dia berkata "Oh, kamu sudah ada disini?. Saya tadi mencari ke semua sudut sampai lubang tikus."
Anak baru itu menggaruk-garuk kepalanya kemudian berkata "Ahaha, saya pengen buru-buru ketemu teman baru aja."
__ADS_1
Pak Anton mengangguk kemudian berkata "Hm, yasudah. Ayo maju kedepan dan perkenalkan dirimu kepada yang lain."
Anak itu berdiri kemudian jalan kedepan kelas dengan santai, begitu sampai didepan, dia langsung berbicara dengan nada yang sangat ramah memperkenalkan dirinya. Namanya adalah Gavin dan marganya adalah murad, keluarga murad sendiri adalah keluarga yang sangat terpandang di negara ini. Keluarga murad adalah keluarga yang memimpin Exterway group, itu adalah perusahaan induk dari seluruh kereta di negara ini, jadi reputasinya tidak bisa dianggap remeh!.
Setelah kepergian Nevan, datang lagi anak bernama Gavin. Dhafin hanya berfikir apakah anak itu orang baik, atau bakteri yang harus dibasmi selanjutnya.
Tapi dari yang dilihat, apalagi beberapa hari yang lalu. Sepertinya dia anak yang baik, Dhafin malah masih bertanya-tanya tentang bagaimana dia ada disana hari itu, padahal tempat saat itu hanya gang dan tidak ada yang berfikir untuk mengendarai motornya lewat gang itu.
Tapi dengan sifat Dhafin yang malas dan cuek kepada orang baru itu, dia membuang jauh-jauh rasa penasarannya. Pak Anton akhirnya meminta kepada Gavin untuk kembali duduk ketempatnya, kemudian dia berkata setelah Gavin kembali duduk "Baiklah, mulai hari ini, dia adalah teman kalian, jadi perlakukan dia dengan baik ya."
[Iya pak guru.]
***
Saat jam istirahat tiba dan semua siswa sedang berada dikantin, Dhafin dan teman-temannya seperti biasa duduk di tempat andalan mereka. Lalu Gavin datang dengan membawa kursi tambahan dan ikut duduk di meja itu, Dhafin hanya menatapnya dengan tatapan kosong lalu berkata "Apa?, apa kamu ingin aku berterimakasih padamu?."
Gavin mengangkat tangannya kemudian menggelengkan kepada dan berkata "Enggak-enggak, jangan berburuk sangka dulu dong."
Dhafin lalu kembali menatap makanannya dan lanjut memakannya, Sedangkan Erina dam Desi hanya terdiam, Reno tidak tau apa-apa karna pingsan jadi dia hanya diam kebingungan.
Gavin sendiri tidak terlalu mempedulikan orang dimeja itu selain Dhafin, melihat reaksi Dhafin yang datar seperti itu akhirnya dia bertanya lagi kepada Dhafin "Apa kamu benar-benar tidak mengingatku?.”
Dhafin berhenti makan dan berkata "Ingat, kamu orang yang menolongku beberapa hari yang lalu. Trus mau apa?."
"Argh, bukan itu. Kita dulu pernah bertemu saat aku dan ayahku berkunjung ke GW-."
*Happ, Dhafin dengan cekatan menyumpal mulut Gavin dengan gulungan tisue.
__ADS_1
Dhafin teringat sesaat sebelum Gavin menyelesaikan perkataannya, mereka ternyata memang sudah pernah bertemu sebelumnya.